2 tahun lalu · 142 view · 10 menit baca · Budaya 28808.jpg
google

Dari Alam, Manusia “Tumbuh”

Merawat Semesta dengan Nurani

“Naiklah ke pungguh Ayah, nak dan katakan pada pohon pisang ini untuk tumbuh subur agar kelak dapat memberimu buah-buah bergizi juga pemikiran yang sehat.”

Kalimat ini diucapkan seorang ayah kepada putranya saat melakukan ritual tumpek uduh atau tumpek wariga di Karangasem, Bali. Sang ayah sengaja mengajak anak satu-satunya ini turut serta dalam rangkaian tradisi yang dipercaya sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada seluruh pepohonan dan tanaman yang telah memberi hidup bagi manusia, agar anaknya dapat mengerti arti penting memelihara lingkungan sekitar.

Nini Nini, buin selae dina galungan. Mabuah apang nged… nged… nged.” Inilah kalimat-kalimat yang diujarkan sang ayah sembari mengetokkan golok di tangan kanan pada pohon jambu yang berbunga.

Dia memberi sedikit luka pada batang itu. Hal sama juga dilakukan pada pohon cempaka, belimbing, srikaya, kenanga, dan sejumlah tanaman lain di pekarangan itu pada perayaan tumpek wariga.

“Nenek nenek, 25 hari lagi Galungan. Berbuahlah agar lebat… lebat… lebat…,” begitu makna kalimat berbahasa Bali yang selalu diucapkan pada perayaan ini.

Hari itu, ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanaman hingga tumbuh baik dan menghasilkan buah atau bunga lebat.

Manusia “Modern” Tetap Memerlukan Hutan, Alam, juga Semesta

Tumpek wariga, juga disebut tumpek bubuh, tumpek uduh, tumpek pengatag, dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Sebagai ucap syukur, umat Hindu mempersembahkan sesaji buah dan bunga, serta bubur sumsum (terbuat dari tepung beras, ditaburi kelapa dan gula merah cair). Tumpek wariga ini merupakan kearifan lokal dari para leluhur agar warga selalu menjaga lingkungan dengan selalu menanam pohon di pekarangan.

Jangan langsung menyebut musyrik, ketika di Bali, anda atau kalian mendapati pepohonan, kayu-kayu besar, juga rimbun hutan diselimuti kain poleng atau kain hitam putih. Sama sekali warga Hindu Bali ini bukan menyembah pohon atau berhala lainnya. Ini salah satu bentuk cinta kasih kepada alam dan semesta. Sekaligus sebuah renungan kepada anak cucu tentang semesta yang memberi hidup manusia agar mereka tak semena-mena pada hutan, alam, pepohonan, meski tumbuhnya liar.

Upacara tumpek bubuh atau tumpek wariga pada masyarakat Bali, yang dilaksanakan pada hari Saniscara Kliwon Wariga setiap 210 hari sekali, dapat ditanggapi sebagai usaha untuk melestarikan lingkungan. Upacara ini adalah dalam rangka pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan.

Tak ada yang bisa menyangsikan kepercayaan umat Hindu Bali untuk tidak melakukan ritual ini. Mereka mempercayai ada nadi alam yang harus ikut dirayakan. Bahkan, kepercayaan ini turun menurun dan memberi bukti bahwa alam tak pernah tertidur. Alam menyaksikan dan memberi hidup bagi setiap yang mencintainya. Juga memberi petaka bagi mereka yang tak berkenan menjaga dan melestarikan.

Tujuan umat Hindu menghaturkan upacara pada hari ini adalah untuk menghaturkan rasa terima kasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Sangkara, bahwa beliau telah menciptakan tumbuh-tumbuhan serta memohon agar tumbuh-tumbuhan itu dapat berkembang biak dengan baik dan berguna bagi manusia.

Sekaligus juga memohon agar tumbuh-tumbuhan berbuah baik dan banyak sehingga ketika menjelang Galungan agar dapat dipergunakan sebagai sarana upacara persembahan di hari raya Galungan. Pada umumnya, upacara ini dilakukan di pekarangan/perkebunan, tegalan yang banyak dipelihara pepohonan yang berguna bagi kehidupan manusia.

Perayaan hari tumpek pengatag, tumpek bubuh, tumpek wariga, dan apapun sebutannya, mengajarkan pada umat manusia bahwa kita wajib bersyukur atas harmoni yang membantu kita tinggal dalam alam kehidupan kini. Menghormati dan menghargai bumi dan seisinya, khususnya tanaman yang ada, memberi isyarat dan makna mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya.

Pada tumpek pengatag, momentum kasih dan sayang kepada alam itu diarahkan kepada tumbuh-tumbuhan. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan. Karena itu pula, tradisi perayaan tumpek pengatag tidaklah keliru jika disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi gaya Bali dan kini bisa direaktualisasi sebagai hari untuk menanam pohon.

Tumpek pengatag merupakan momentum untuk memahami dan bersyukur atas segala jasa Ibu Pertiwi kepada umat manusia. Bersahabat dengan alam, tidak merusak lingkungan, belajar dari pengalaman para leluhur atau para tetua Bali di masa lalu, yang telah memiliki visi futuristik untuk menjaga agar Bali tak meradang menjadi tanah gersang dan kerontang akibat alam lingkungan yang tak terjaga.

Kesadaran yang tumbuh dalam pengertian makrokosmik, dalam konteks semesta raya, tidak hanya semata Bali. Visi dan misi dari segala tradisi itu bukan semata menjaga kelestarian alam dan lingkungan Bali, tetapi juga kelestarian alam dan lingkungan seluruh dunia. Istimewanya, segala kearifan itu muncul jauh sebelum manusia di masa kini menggemakan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Jauh sebelum dunia menetapkan Hari Bumi, tradisi-tradisi Bali telah lebih dulu mewadahinya dengan arif. Bahkan jauh sebelum orang menetapkan Desember sebagai bulan menanam pohon, kegiatan ritual yang jatuh setiap 210 hari sekali itu, khusus dipersembahkan untuk tumbuh-tumbuhan yang selama ini telah mampu memberikan manfaat dan memudahkan bagi kehidupan umat manusia maupun aneka jenis satwa lainnya.

Umat Hindu pada tumpek pengatag mempersembahkan rangkaian korban suci (upakara) yang salah satu komponennya adalah “bubuh sumsum”, yakni bubur dari tepung ketan yang diberi warna hijau alami dari daun kayu sugih, ditaburi dengan parutan kelapa, dan diberi gula merah.

Bukan tentang Menyembah Pepohonan

Kepercayaan tumpek pengatag/wariga/ tumpek uduh ini sering disalah-artikan dengan menganggap warga menyembah pepohonan. Tumpek pengatag bukan hari untuk menyembah tumbuh-tumbuhan, melainkan hari untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar melalui tumbuh-tumbuhan,umat manusia bisa diberikan kemakmuran dan keselamatan terhindar dari berbagai bencana.

Kegiatan ritual tumpek pengatag dilakukan umat Hindu sejak pagi, siang, hingga sore terhadap semua jenis tanaman di sawah, ladang maupun pekarangan, sebagai salah satu bentuk menghargai aneka jenis tumbuh-tumbuhan yang selama ini mampu memberikan manfaat terhadap kehidupan umat manusia maupun aneka jenis satwa lainnya.

Kearifan Lokal ini telah sejak dahulu dilakukan leluhur orang Bali dalam melestarikan lingkungan dengan mengajak seluruh anak-anaknya membuat lubang dan menanam pohon kelapa sambil menggendong anaknya satu per satu. Tradisi yang diwarisi hingga sekarang itu dipercaya membuat pohon kelapa yang ditanam itu kelak tumbuh subur, kuat, dan berbuah lebat.

Kearifan lokal itu disertai dengan memberi contoh lewat perilaku menancapkan ranting muda di atas batang pohon yang baru ditebang. Pohon yang ditebang untuk keperluan membangun rumah atau bangunan fisik lainnya sengaja dipilih yang telah berumur belasan tahun atau ratusan tahun agar kualitasnya terjamin. Perilaku menancapkan ranting di atas bekas pohon yang telah ditebang itu mengingatkan anak-anaknya untuk selalu menanam pohon baru sebagai pengganti pohon yang ditebang sehingga kelestarian lingkungan akan terjamin sepanjang masa.

Perilaku yang sangat sederhana yang hingga sekarang masih diterapkan sebagian besar masyarakat di daerah perdesaan Pulau Dewata itu mengandung nilai religiusitas yang multidimensi karena di sana ada tuntunan praktis berkebun (bercocok tanam), tuntunan moral, kasih sayang, dan bermain bagi anak-anaknya.

Para orang tua di Bali umumnya sejak dini telah menanamkan cara mendidik anak. Seperti sering didengungkan oleh para ahli pendidikan, yakni belajar sambil bekerja. Anak-anak dengan praktik langsung di lapangan akan lebih cepat menangkap dan dijamin bisa diingat seumur hidup.

Leluhur orang Bali melukiskan kehidupan yang harmonis dengan menjaga dan melestarikan lingkungan bersih dan hijau guna mewujudkan kehidupan yang bahagia lahir bathin (Moksarham jagadhita). Memelihara kelestarian lingkungan bagi leluhur orang Bali merupakan kewajiban suci sebagai pengamalan nilai ajaran agama. Dengan demikian, upaya mewujudkan Bali yang bersih dan hijau itu didukung konsep kategorisasi hutan yang selama ini dimiliki dan diterapkan masyarakat Bali dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Konsep yang menyangkut berbagai hal itu, antara lain Sriwana, yakni kawasan hutan yang harmonis dengan permukiman sekaligus mengatur tentang kawasan hutan yang harmonis dengan tempat suci (Tapawana) dan kawasan hutan yang harus dijaga kesuciannya sehingga tidak diganggu oleh mereka yang tidak bertanggung jawab (Mahawana).

Upaya tersebut disertai dengan melakukan penghijauan dan penanaman pohon serta meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat setempat tentang hidup bersih dan mewujudkan lingkungan sekitar masing-masing menjadi hijau.

Jika dipandang dari segi sosial masyarakat bahwa tumpek pengatag itu merupakan media pembelajaran bagi masyarakat untuk belajar saling menghormati dan saling menyayangi, baik sesama manusia maupun terhadap lingkungan.

Kenapa dalam hal ini yang dipakai obyek penghormatannya adalah tumbuh-tumbuhan? Karena tumbuh-tumbuhan telah banyak berjasa terhadap manusia dengan tulus ikhlas memberikan kesempatan kepada manusia untuk memetik daunnya, buahnya, bahkan sampai batangnya pun ditebang dia rela.

Tumbuh-tumbuhan memiliki rasa kasihan dan rasa peduli kepada yang lainnya. Walaupun dia tidak sekelompok spesiesnya, namun dia mampu memberi makan dan menyediakan kebutuhan binatang dan manusia untuk keperluan sehari-harinya, seperti sayur, buah, kayu, rasa aman tempat berteduh dan sebagainya.

Tetapi walaupun demikian,tumbuh-tumbuhan tidak pernah memiliki rasa benci, memfitnah, iri hati kepada binatang dan manusia, jika binatang dan manusia ingat memelihara dan melestarikan dirinya. Tetapi jika manusia hanya meminta dan menyakiti tumbuh-tumbuhan dan tidak pernah menanam, memelihara, melestarikan serta tidak pernah peduli padanya, maka tumbuh-tumbuhan pun bisa mencelakakan manusia sehingga terjadi bencana, seperti banjir, tanah longsor, gempa, angin ribut, yang mana semuanya akan membuat manusia dan hewan menjadi celaka dan sengsara.

Warisan budaya untuk melestarikan lingkungan, seperti contoh, setiap ada kayu besar di Bali, kebanyakan diisi saput poleng yang disakralkan oleh umat Hindu untuk dijadikan tempat pemujaan yang dilestarikan secara rohani dengan jalan setiap hari menghaturkan sesajen menurut kepercayaan agama Hindu bahwa di sana diyakini ada sesuatu yang bisa membuat kita celaka kalau kita lewat, seperti jin, tonya, banaspatiraja dan sebagainya agar manusia itu tidak diganggu dalam kehidupannya sehingga menjadi jagadhita dalam hidupnya.

Tetapi, jika kita pandang dari segi ilmu bahwa pohon-pohon yang besar dapat berfungsi menghatur terjadinya sirkulasi air di mana air laut dipanaskan oleh matahari akan menguap, kemudian dari uap akan berubah menjadi embun, embun di daerah lembab akan menjadi hujan, air hujan ditahan oleh akar-akar pohon kemudian dialirkan perlahan-lahan melalui sungai menuju sumbernya (muaranya) lagi, yaitu laut.

Maka, melalui hari raya tumpek uduh ini, manusia pada umumnya dan umat Hindu pada khususnya mulai belajar untuk bisa menanam, memelihara tumbuh-tumbuhan melalui reboisasi atau penghijauan kembali.

Kita sebagai manusia yang disebut insan Tuhan yang paling sempurna yang memiliki pikiran, janganlah kita selalu saling memfitnah, menghina dan saling menyalahkan orang lain, dan kita sendiri harus sadar bahwa yang lewat itu adalah dipakai guru yang paling berharga untuk belajar menuju yang lebih baik dan sejahtera.

Tumpek uduh dipakai objek adalah tumbuh-tumbuhan adalah pedoman bagi manusia pada umumnya dan umat Hindu pada khususnya agar tumbuh dalam pikirannya untuk melestarikan lingkungannya dengan jalan saling menghormati, saling menyayangi, saling memelihara, dan saling membantu serta saling menolong di antara semua insan ciptaan Tuhan.

Jika dikaitkan terhadap nilai ekonomi, perayaan tumpek pengatag dijadikan perenungan intelektual masa depan membangkitkan sektor pertanian. Walaupun lahan di perkotaan sudah kebanyakan alih fungsi, perlu adanya tindakan nyata melalui kreativitas dan motivasi membangun pertanian perkotaan, salah satunya adalah memanfaatkan lahan sempit dengan komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Dengan melestarikan budaya upacara tumpek pengatag, masyarakat menjadi lebih bisa melestarikan lingkungan dengan menanam tumbuh-tumbuhan pada lahan kecil pun. Dengan demikian, secara tidak langsung masyarakat akan memperoleh hasil dari tumbuhan yang ditanam, baik buah, kayu, maupun daun. Yang mana hasil dari tumbuhan tersebut juga dapat memberikan nilai yang tinggi apabila dijual di pasaran.

Selain itu, upacara tumpek pengatag juga memberikan lapangan kerja bagi masyarakat. Masyarakat bisa saja menjual banten yang diperlukan untuk berlangsungnya upacara tumpek pengatag. Mereka bisa menjualnya pada keluarga-keluarga yang mungkin mempunyai kesibukan sehingga tidak ada waktu untuk membuat banten. Dengan demikian, akan ada timbal balik antara masyarakat. Yang menjual mendapat uang, sedangkan yang membeli menjadi memperoleh banten untuk upacara tumpek pengatag.

Dengan demikian, sejatinya, perayaan hari tumpek pengatag memberi isyarat dan makna mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada tumpek pengatag, momentum kasih dan sayang kepada alam itu diarahkan kepada tumbuh-tumbuhan.

Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan.

Tradisi perayaan tumpek pengatag tidaklah keliru jika disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi gaya Bali. Tumpek pengatag merupakan momentum untuk merenungi jasa dan budi Ibu Bumi kepada umat manusia.

Selanjutnya, dengan kesadaran diri menimbang-nimbang perilaku tak bersahabat dengan alam yang selama ini dilakukan dan memulai hari baru untuk tidak lagi merusak lingkungan. Tetua Bali di masa lalu telah memiliki visi futuristik untuk menjaga agar Bali tak meradang menjadi tanah gersang dan kerontang akibat alam lingkungan yang tak terjaga.

Bahkan, kesadaran yang tumbuh telah pula dalam konteks semesta raya, tak semata Bali. Visi dari segala tradisi itu bukan semata menjaga kelestarian alam dan lingkungan Bali, tetapi juga kelestarian alam dan lingkungan seluruh dunia. Istimewanya, segala kearifan itu muncul jauh sebelum manusia modern saat ini berteriak-teriak soal upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jauh sebelum dunia menetapkan Hari Bumi, tradisi-tradisi Bali telah lebih dulu mewadahinya dengan arif.

Karenanya, akan menjadi menawan bila tumpek pengatag tak semata diisi dengan menghaturkan banten pengatag kepada pepohonan, tapi juga diwujudnyatakan dengan menanam pohon serta menghentikan tindakan merusak alam lingkungan.

Dengan begitu, tumpek pengatag yang memang dilandasi kesadaran pikir visioner menjadi sebuah perayaan Hari Bumi yang paripurna. Bahkan, manusia Bali bisa lebih berbangga karena peringatan Hari Bumi-nya dilakonkan secara nyata serta indah menawan karena diselimuti tradisi kultural bermakna kental.

Terimakasih alam, terima kasih semesta. Segala isinya telah memberikan kedamaian bagi manusia di bumi ini.

"Sekarang saya tahu rahasia membentuk manusia terbaik, yakni dengan tumbuh di alam terbuka, serta makan dan tidur bersama alam."