Obrolan serius barusan ditutupi dengan hantaman keras tangannya ke perut buncitku. Walaupun secara fisik ia wanita, tapi tenaganya cukup besar. Hingga kerasnya hantaman itu cukup membuatku mual.

“Becanda lu gak asik ah. Sakit tau.” ujarku mengeluh.

“Haha bodo amat. Seneng gue kalo liat lu kesakitan. Udah lama gak nyiksa lu.” tertawanya puas.

Dara adalah wanita yang dari dulu senang melakukan kekerasan kepadaku. Terlebih ketika memasuki masa-masa SMP. Dari verbal sampai dengan fisik sudah kurasakan semua.

Dulu ia adalah pribadi yang tomboi. Gaya busananya juga cenderung mengikuti gaya laki-laki. Rasanya hampir tidak mungkin seorang Dara mengenakan rok, apa lagi gaun. Sangat berbeda dengan sekarang ini.

Sedangkan aku adalah laki-laki yang cengeng, lemah, dan pasrah. Itu kenapa Dara cukup senang menyerangku. Tapi walau bagaimanapun, aku tidak pernah menyimpan dendam kepadanya. Justru sebaliknya, hal tersebut yang membuatku semakin dekat dengannya.

Kami masih duduk di bangku panjang di trotoar Jalan Sudirman. Menatap ke arah bangunan yang ada di seberang jalan. Salah satu jalanan yang cukup ramai di ibukota dengan lokasinya yang strategis sebagai pusat bisnis dan perkantoran.

Sepanjang jalan ini penuh dengan bangunan-bangunan raksasa yang bisa menampung ribuan orang di dalamnya. Pagi dan sore adalah waktu paling sibuk. Orang-orang akan berbondong-bondong turun dari TransJakarta yang haltenya terletak di antara pembatas jalur menuju Slipi dan Blok M. Mereka berjalan cepat menaiki jembatan penyeberangan untuk kemudian bergegas memasuki bangunan raksasa.

“Eh lo jangan ganggu gue lagi ya. Awas aja. Gue mau fokus.” perintahnya padaku.

“Bawel” jawabku ketus.

Dara mulai kembali menggoreskan karbon di atas kanvas berukuran 60x40 cm. Dengan sabar ia mulai menorehkan garis-garis hitam yang kemudian membentuk sebuah pola yang teratur.

Dara adalah pembuat sketsa yang andal. Sekalipun tidak pernah kuliah di jurusan seni, namun karya buatannya salah satu yang terbaik yang pernah kulihat.

“Bagus juga gambar lo Ra. Bisa kali nanti gambarin gue juga. Biar ada gambar gue dipajang kamar lo gitu” candaku.

Ia hanya menoleh ke arahku. Memberikan tatapan tajam. Kemudian kembali memalingkan pandangannya ke arah kanvas di depannya.

Aku bangkit dari pangkuannya. Duduk di sebelah kanannya lalu meregangkan tulang leherku yang agak sakit karena posisi kepala yang lebih tinggi dari badanku. Ke kanan dan ke kiri.

Kreeeekkkk. “Ah enaaak” ucapku lega.

“Ra, gue boleh ngerokok ya? Sebatang aja. Gabut gue” pintaku memelas.

“Silakan. Tapi jauh-jauh dari gue ya”

“Oke siap. Di belakang sana ya?” jawabku sumringah.

“Ngga. Jangan.” sanggahnya.

“Oh yaudah di bangku sebelah sana aja. Kan kosong tuh” jawabku sambil menunjuk kursi panjang yang letaknya 20 meter di sebelah kiri Dara.

“Gak juga. Jangan”

“Lah terus di mana?”

“Nih kan di sana ada halte TransJakarta tuh. Lo ke halte itu. Abis itu lo tunggu di koridor T11, tunggu bis yang arah ke Tangerang,  turun di Kebon Jeruk. Lanjut naik bis sampe pool. Abis itu ngojek deh sampe rumah. Jangan lupa nanti kalo sudah sampe, semua kontak gue juga hapus ya” jawabnya dengan memberikan senyum sinis.

“Iya iya yaudah gue di sini. Gak kemana-mana. Gak ngerokok. Lumayan bisa ngitungin nyamuk” jawabku sambil mengerutkan dahi. Pasrah.

Dara tidak pernah memberiku kesempatan untuk merokok ketika bersamanya. Ia tidak pernah menyukai rokok sejak kecil. Jangankan asap rokok, melihat orang terdekatnya merokok saja ia bisa lebih ganas dari singa hamil.

Sekalipun aku penasaran, aku tidak pernah kembali menanyakan hal itu. Kapok. Sekali waktu aku pernah menanyakannya ketika aku dan Dara sedang kumpul dengan teman-teman SMP tiga tahun yang lalu. Responnya sederhana. Hanya memberikan raut muka keberatan. Aku yang telah lama mengenalnya sadar dengan sikapnya yang seperti itu. Pertanyaan itu terlalu sensitif untuknya.

“Dari pada gabut, gue kasih lo tantangan deh. Mau gak?” tanyanya

“Boleh tuh. Apaan?” jawabku dengan percaya diri menerima tantangannya.

No offense ya. Kan lo udah lama jomblo nih. Terus kan di sini juga banyak cewe-cewe lewat. Cantik-cantik lagi. Sebagai teman yang baik, gue tantang lo buat ngajak kenalan salah satu di antara mereka terus mintain nomor whatsapp-nya. Lumayan kan bisa pedekate. Gimana? Cemerlang gak ide gue?” tantangnya dengan ekspresi sok manis.

PLAAAK. Seketika telapak tanganku mendarat di dahinya yang lebar. Mukanya sedikit terkejut dengan pupil matanya yang membesar dan mulutnya yang terbuka.

“Kenapa sih? Kan niat gue baik” ucapnya dengan sedikit tertawa sambil mengusap dahinya.

“Sekalipun lo murtad dari fans Manchester United terus hijrah jadi fans Liverpool kaya gue juga tetep aja gak bakal mau gue ngikutin lo” jawabku protes.

“Hahahaa kenapa sih?” tanyanya dengan menurunkan nada bicaranya. Muncul raut tidak enak hati dari mukanya. Mungkin ia sadar ekspresiku terlalu serius menanggapi tantangannya.

“Gapapa. Udah lanjutin sketsa lu dulu” pintaku sambil membuang muka ke arah bangunan di seberang jalan.

Ia kemudian menatapku. Memerhatikan detail ekspresiku. Cukup lama ia memandangku.

“Palem Semi! Palem Semi!” teriak kondektur bis TransJakarta yang tidak digubris keberadaannya  sama sekali oleh Dara. Ia masih fokus menatapku. Bahkan mungkin ia juga tidak sadar ketika bis itu berlalu. Fokusnya masih terpaku denganku.

“Kenapa sih?” tanyanya sambil menatapku dengan memberikan senyum kecil di bibirnya

“Gapapa Ra” jawabku dengan membalas tatapan dan senyumnya.

Kembali ia menatapku. Kali ini ia mencoba menggoda dengan mengelitiki perutku.

Sial pikirku. Aku tak kuasa menahan tawa. Tatapannya begitu meluluhkan.

“Iya iya ini gue jujur”

“Sebenernya gue gak suka aja sih disuruh begitu. Berat aja gitu Ra. Gue gak ngeliat cewe sebagai objek yang cuma didatengin buat main-main. Terlebih niat lo kan biar gue bisa deketin orangnya. Menurut gue ketika kita dateng, punya tujuan buat naklukin hatinya tapi cuma buat main-main itu rendahan banget”

“Ehmm sorry...” sesalnya

“Santai aja...”  Aku sejenak terdiam.

“... maksud gue, ketika nanti pada akhirnya gue memutuskan cari pasangan, ya gak dengan cara kaya gitu. Ketika gue tertarik, gue bakal bilang ke orangnya. Ketika gue mau ngajak dia berhubungan, gue bakal tanya orangnya. Karena menurut gue jujur soal perasaan dan ngajak berhubungan itu dua hal yang berbeda.”

Dara menatapku dengan senyum, “Kok lo jadi serius gitu sih?”

Aku balik menatapnya. Menancapkan tatapanku ke arah bola matanya

“Sensitif aja gue. Walaupun gue cowo, tapi gue gak seneng aja ngeliat cewe dijadiin objek mainan gitu”

“Hmm gitu. Kayanya gue paham deh”

“Hah? Apaan?” Tanyaku terkejut membalas ucapannya.

“Kepo lo, marmut!”