Sebuah cerita akan selalu dikenang jika terdapat memori yang kuat di dalamnya. Setidaknya itulah yang bisa dijadikan alasan mengapa tulisan ini dirangkai.

Esa Dara Cantika. Biasa aku memanggilnya dengan sebutan Dara.

Bukan orang asing bagiku. Bukan pula orang yang aku tahu segala kesehariannya. Setidaknya untuk saat ini.

Aku dan Dara merupakan teman dekat. Terbiasa tumbuh bersamanya. Masa kecil sampai dengan remajaku dihabiskan bersama wanita menyebalkan itu. Memasuki usia dewasa, kami terpisah ratusan kilometer jauhnya. Entah sebuah keuntungan atau kerugian pikirku. Satu yang pasti, kini kami kembali bersama.

Dia sudah terbiasa dengan kecantikannya sejak kecil. Atau mungkin bisa dikatakan juga sebagai perempuan yang dianugerahi rupa yang manis.

Aku akan menggambarkannya sebagaimana Minke menggambarkan kekagumannya pada sosok Ratu Wilhelmina di novel roman Bumi Manusia.

Berbeda halnya dengan Ratu Wilhelmina, Dara bukanlah berasal dari golongan kaya raya dan terpandang layaknya keluarga kerajaan. Hanya anak dari seorang perwira menengah di kota tempat kami tinggal.

Postur tubuhnya tinggi dengan perawakan yang ideal. Tidak kurus. Juga tidak gemuk. Bentuk mukanya cenderung berbentuk persegi. Matanya persis seperti karakter Shizuka di serial Doraemon. Bagian ini yang membuatku tidak pernah bosan memandangnya.

Soal penampilan, aku rasa dia punya selera yang cukup bagus. Auranya terpancar jelas ketika dia mulai bersolek. Kehangatan muncul dari balik pashmina yang ia kenakan. Juga kesan elegan dari gaya sophisticated dalam balutan busananya.

Baik. Cukup. Aku terlalu menonjolkan sisi phylogini diriku.

Tapi tahu apa yang membuat Dara begitu istimewa?

Aku sekali waktu pernah bersamanya. Menemaninya menghabiskan malam di trotoar Jalan Sudirman. Sekalipun jalan itu adalah jalan protokol yang banyak dilalui kendaraan dan cukup ramai dengan lalu lalang orang-orang yang berjalan ke sana kemari, namun malam itu berasa sepi dan tenang.

Aku ingat, waktu itu kami berdua di bangku panjang yang ada di pinggir jalan. Persis di bawah lampu penerang jalan. Dara duduk dengan pensil di tangannya. Menggoreskan karbon di atas kanvas. Sambil sesekali matanya mencuri pandang ke arah bangunan-bangunan besar yang mulai ditinggal penghuninya di seberang jalan.

“Ra, lu punya pandangan buat ke depan gak? Maksud gue, apa rencana besar dalam hidup lu yang senggaknya yang bakal lu lakuin dalam lima tahun ke depan?” tanyaku.

“Tumben amat lu tanya begitu. Ada apaan?” tanyanya balik. Kali ini ia mulai sedikit mengalihkan pandangannya ke arahku yang tengah menjadikan pahanya sebagai bantal. Kami dua orang yang menganggap kontak fisik antar pria dengan wanita sebagai hal yang wajar. Selama tidak berlebihan dan tidak mengarah kepada suatu hal yang vulgar, kontak fisik masih bisa kami tolerir. Salah satu bentuk keintiman antara aku dengan Dara. Modal utama di antara kami hanya satu. Kepercayaan.

Lagi pula agak disayangkan juga pikirku jika menjadikan buku Madilog yang tengah kupegang untuk dijadikan alas kepala.

“Gak ada apa-apa sih. Gue mulai kepikiran aja soal masa depan gue gimana. Entah jadi apaan ke depannya. Kadang gue pengen ini, pengen itu. Terlalu banyak pilihan di otak gue. Padahal mah lulus kuliah juga belum. Tapi di sisi lain gue juga pengen gitu secepatnya punya duit sendiri.” jawabku mengeluh.

Kali ini Dara melepaskan pensil di tangannya. Disimpannya dalam sebuah kotak. Kemudian pandangannya kosong.

“Gini deh, gue coba jawab pertanyaan lu dulu. Kalo lu tanya apa rencana besar gue? Banyak rencana besar yang mau gue capai. Cuma gue gak akan mikir sampe sejauh itu. Gue selalu mulai dari rencana yang bisa gue realisasiin dalam waktu dekat dulu. Lebih realistis” jawabnya serius.

“Apaan tuh?”

“Lu tau kan gue anak pertama. Cewe pula. Di rumah gue punya empat adik. Bokap gue bentar lagi pensiun. Satu-satunya harapan biar asap dapur di rumah makin tebel, adik-adik gue bisa lanjut sampe kuliah, ya cuma gue. Itu kenapa selama kuliah kemaren gue keliatan ambisius banget buat lulus cepet. Ya karena gue ada tanggungan buat bantu keluarga.”

Soal ini aku tau bagaimana prinsip Dara. Ia adalah orang yang berpikiran bahwa anak pertama adalah calon tulang punggung keluarga. Terlebih dia adalah perempuan. Ia selalu memegang nilai tanggung jawab dan kemandirian. Juga selalu berorientasi pada keluarga. Tidak heran jika ia terlihat cukup matang dan dewasa sekalipun belum lama menginjak kepala dua.

“Makanya rencana paling dekat yang harus gue capai sebenernya gak muluk-muluk. Sekarang ya Alhamdulillah gak lama setelah gue sidang skripsi gue langsung dapet kerjaan. Selanjutnya ya gue cuma pengen punya tabungan buat adik-adik gue, keluarga, dan buat gue lanjutin pendidikan profesi. 

Duitnya gede banget gila. Berat sih kalo ngeliat dari sekarang ya. Cuma mau gimana lagi, yang tahu batas kemampuan kita kan diri kita sendiri. Gue gak akan berhenti gitu saja sih sampe rencana gue satu-satu kecapai.”

Aku selalu kagum dengan semangat juangnya. Ia bukanlah perempuan yang berpikiran kolot. Tidak pernah memandang bahwa peran perempuan hanya untuk mengurusi sumur, dapur, dan kasur. Ada tanggung jawab lebih yang dipegang dari identitasnya sebagai perempuan. 

Keterikatan status sebagai anak pertama dengan kondisi keluarga yang tidak cukup dengan hanya digerakkan oleh dua kepala menjadi media untuk dirinya ditempa.

Pernah ku tanya bagaimana jika ia menikah dulu baru kemudian menggapai segala rencana besarnya. Bukankah akan menjadi lebih mudah. Ia hanya menjawab ketus dengan senyum kecil di bibirnya.

“Kalo gitu mikirnya, trus buat apa orang tua gue susah-susah sekolahin gue sampe setinggi ini kalo jalan gue buat berdaya dibatasin dengan tugas gue sebagai istri? Bukannya gue nolak pernikahan ya. Gue juga suatu saat pasti akan nikah dan punya suami. Cuma sekarang ini, selagi gue masih muda dan mampu ngelakuin apa-apa sendiri, gue akan maksa diri gue buat gak bergantung sama orang lain dulu. 

Gue juga perlu jadi contoh buat anak-anak gue nanti biar mereka bisa mandiri dan tanggung jawab. Senggaknya sama diri mereka dan mimpi-mimpi mereka dulu. Mereka punya pilihan mau ngapain dan jadi apa selama mereka masih muda. Tapi mereka harus punya satu hal dasar. Tanggung jawab. Gitu”

Ia menutup perbincangan kami malam itu dengan berusaha mencairkan ekspresi mukanya menjadi lebih ceria sambil memukul perut buncitku. Tapi ia tidak cukup pandai untuk mengubah ekspresi dalam sekejap. Raut muka seriusnya masih terlihat. Begitu menggemaskan.

“Ra, lu kan tadi katanya ke sini mau bikin sketsa bangunan. Jadi gak sih?” ingatku tiba-tiba.

“Astaghfirullah lupa. Ah! Elu sih! Gue baru mulai langsung diajak ngobrol serius” jawabnya dengan nada jengkel.