"Kondisi mental selama terpapar Covid menjadi krusial. Oleh karenanya ketika terpapar Covid, sedapat mungkin tetap bisa melakukan hal-hal yang disukai. Membaca, mengaji, menulis, melukis, itu diantaranya."

Saya hendak berbagi pengalaman tentang bagaimana sensasi rasa ketika sakit karena terpapar Covid.

Dimulai dari istri saya yang ketika malam takbiran Idul Adha 1442 H yang lalu, mengeluh badannya meriang dan sempat minum obat penurun panas dan pereda gejala flu.

Berlanjut ketika selesai sholat Ied di rumah sendiri yang saya menjadi imam sekaligus khatib, istri saya lalu mengeluh kehilangan indera penciuman dan cita rasa.

Masakan opor ayam, sambal kentang krecek sama ketupat yang kaya rasa dan lezatnya menendang ujung syaraf pemikat rasa, hanya dirasakan serba asin oleh istri saya.

"Gawat!" Begitu hati saya berkata.

Sehabis Duhur, saya antar istri ke rumah sakit terdekat untuk tes Swab Antigen. Hasilnya positif! Dua tulang lutut saya lalu lemas, meski tetap bisa tegak berdiri.

"Sudah terpapar Covid, istri saya. Lalu bagaimana?" Itu saja yang saya pikirkan.

Saya tak terlalu memikirkan tertular dari mana, kenapa bisa demikian, bagaimana bisa dan pertanyaan-pertanyaan kilas balik lainnya. Mungkin juga, istri saya terlalu kecapekan merawat ibunya yang waktu itu masuk bulan ketiga terapi pasca stroke, di rumah kami.


Karantina.

Langkah pertama saya segera siapkan kamar khusus karantina tersendiri yang terpisah dari kamar-kamar lainnya dalam rumah, khusus untuk istri saya.

Kamar dekat halaman rumah menjadi pilihan tepat, karena istri saya temannya banyak. Jadi jika ada yang hendak menengok bisa mengobrol sebentar atau dadah dadah saling menyemangati, berbatas jendela kaca.

Sengaja tak terlalu saya asingkan di kamar loteng misalnya, karena saya tahu persis istri saya itu tipikal senang bertemu orang. Agak berkebalikan dengan tipikal saya, yang lebih senang ketemu alien.

“Tadinya setiap hari terlihat riang bertemu teman-temannya lalu mendadak sepi, itu bisa memperparah kondisi fisik dan mental istri saya.” Pikir saya waktu itu.

Riang dan ngeciprisnya istri saya harus dipertahankan, meski dibatasi ruangan berjendela kaca ataupun saat berinteraksi lewat ponsel.

Langkah berikutnya, saya ajak serta ketiga anak saya untuk mengikuti uji Swab Antigen di rumah sakit yang sama. Hasilnya waktu itu kami, saya dan ketiga anak saya, terbukti negatif belum menunjukkan tertular Covid, juga tak ada gejala.

Setiba di rumah, segera berlaku aturan ketat. Ketiga anak saya menempati kamar-kamar di lantai atas. Anak saya yang sulung waktu itu masih di Malang dan bungsu ikut di rumah pamannya.

Kamar mandi untuk istri saya khusus, tak digunakan orang lain dalam rumah. Kamar ibu mertua selalu diupayakan bebas parasit dengan rajin menyemprot disinfektan dan menjaga kebersihan.

Peralatan makan, minum juga pakaian yang dikenakan istri saya, khusus dipisah penanganan pencuciannya. Menggunakan pemutih lalu disiram air panas, sebelum dicuci.

Dalam setiap perjalanan dari kamar karantinanya menuju ke kamar mandi, istri saya selalu menyemprot disinfektan ruangan, sambil berjalan kenakan masker.

Semua orang dalam rumah, termasuk dua orang yang pergi pulang membantu merawat ibu mertua dan bersih-bersih rumah, menjalankan protokol kesehatan ketat. Bermasker, rajin cuci tangan bersabun dan semprot disinfektan.

Saya juga segera melaporkan hasil uji  Swab Antigen tentang kondisi istri saya ke tim Satgas Covid19 di wilayah tempat tinggal dan pengurus Rukun Tangga, RT.


Paket.

Besoknya, rumah saya berhias tulisan di pagar rumah; 'Mohon Maaf Sedang Menjalankan Isolasi Mandiri.' Kesan rumah mendadak berubah menjadi sepi, mencekam.

Cukup mengharukan ketika Pak Ketua RT dibantu Pak Satpam perumahan memberikan paket sembako, berupa air minum galon, mie instan, beras, telor ayam, gula, teh, kopi, susu bubuk yang diperkirakan cukup untuk menjalankan Isolasi mandiri, Isoman selama dua mingguan.

Saya terharu karena jiwa saling tolong dan dukung terasa memberikan penyemangat tersendiri, yang berarti sekaligus menjadi sugesti penyembuhan tersendiri pula.

Sejak itu, kami serumah menjalani babak baru, menjalankan Isoman, khususnya bagi istri saya dalam kamarnya.

Istri saya orangnya grapyak, temannya banyak. Selama Isoman, hampir tiap hari, pagi siang malam selalu ada yang mengantar bubur ayam, aneka masakan, roti atau buah-buahan.

Tak hanya itu, setiap mengantar, teman istri saya selalu mengobrol sebentar dengan istri saya, berbatas jendela kaca. Suasananya riang, tak berasa seperti sedang dalam suasana menengok orang sakit yang bicaranya kudu pelan-pelan.

Karena indera penciuman dan cita rasa istri saya waktu itu sedang bermasalah, maka setiap masakan yang saya sajikan selalu dimintanya cukup buat beberapa suap saja. Namun saya usahakan sering.

Tiap ada permintaan dari kamar karantina istri saya; "Bapak iyan, maem ya..."

Saya pun segera menuangkan nasi hangat, masakan segar, lauk dengan buah-buahan juga minuman ke dalam piring, mangkok, sendok, garpu dan gelas, termos isi air hangat, khusus bagi istri saya.

Saya cukup ketok pintu kamar sambil bilang; "Paakeett..."

Lalu saya letakkan aneka hidangan di meja kecil depan pintu geser, kamar karantina.

"Ini kebanyakaan.." Seringkali ada komentar istri saya dari dalam kamar.

"Dipaksa, dihabisin, biar cepet sembuh." Saya jawab menyemangati.

Selebihnya, saya dan anak-anak juga menjadi penikmat utama sajian kiriman teman-teman dan kerabat istri saya.

Wajar, penjaga orang sakit juga kudu dalam kondisi fit, oleh karenanya asupan makanan juga harus banyak. Ini rumus empiris, tak bisa diganggu gugat.

Isi Paket Kiriman Teman Dan Kerabat Istri.

Saya pun lalu menikmati peran menjadi penjaga orang sakit, istri saya sendiri. Segigit dua gigit roti coklat keju kiriman teman dan kerabat istri, sesekali menemani tugas yang kudu dijalani, pagi siang malam kembali pagi.


Obat.

Istri saya waktu itu banyak mendapat banyak obat dari Puskesmas atas kerjasama dengan Tim Satgas Covid19. Mulai dari multivitamin, obat batuk, obat pilek, turun panas, antivirus sampai obat kumur.

Ada yang berupa tablet bulat kecil hingga tablet bentuk kapsul besar yang meminumnya tak sekedar air minum, namun juga perlu didorong bantuan oleh kunyahan pisang.

Saya juga rutin menanyakan saturasi oksigen istri saya, tiap pagi siang malam.

Pertanyaan-pertanyaan seputar;

"Oksigen berapa persen?"

"Sesak apa nggak?"

"Masih meriang?"

"Sudah bisa cium aroma masakan?"

"Lidah masih berasa pahit?"

Menjadi deretan pertanyaan sehari-hari yang saya ajukan untuk memantau progres penyembuhan istri saya dari balik kaca jendela kamar karantina.

Termasuk satu lagi pertanyaan penyemangat dari saya, saat malam jelang waktu tidur tiba; 

"Kangen nggak?"

Habis bertanya demikian, tanpa menunggu jawaban, lampu ruang tamu lalu saya matikan, suasana pun berubah temaram, menentramkan. Suasana separuh obat.


Gantian.

Berjalan hingga hari kesebelas upaya penyembuhan istri saya, tiba-tiba saya merasa kena gejala flu. Bukan saya saja, tapi anak laki-laki kedua dan ketiga saya.

Saya tak boleh panik.

Saya memang selalu sedia obat pereda gejala flu berupa sirup merk Obat Batuk Hitam Nelco Special dalam kotak lemari obat di ruang keluarga. Khusus untuk saya adalah tablet Ultra Flu, andalan jika kena gejala flu selama puluhan tahun sejak saya masih duduk dibangku SMA.

Saya dan kedua anak saya mencoba mengantisipasi gejala flu dengan meminum obat yang tersedia, berusaha tak langsung panik.

Tapi saya akui saya agak panik. Dua tablet Ultra Flu langsung saya minum sekaligus, akibatnya saya ngantuk berat, lalu tidur seharian.

Besok paginya saya bangun, badan terasa lemah, lelahnya seperti habis macul sawah sekian hektar.

Selama ini, jika saya kena gejala flu, saya cukup minum satu hingga dua tablet Ultra Flu, besoknya badan lemas tapi gejala flu seperti pilek, bersin dan meriang reda, dilanjut esoknya keringat dingin bercucuran, lalu besok lusa berasa terang benderang, pertanda pulih.

Kali ini tidak. Saya merasa setiap hembusan napas beriring rasa hangat di ujung hidung pertanda meriang.

Lalu bagian kulit kepala sebelah kanan atas, begitu sensitifnya. Jika saya sisir rambut di area itu, bahkan cuman sentuh rambut saja, ada rasa cenderung ngilu yang menjalar hingga pundak kanan.

'Mak Sengkring' begitu sensasi rasanya. Nggak sakit, cuman seperti geli bercampur ngilu yang aneh di sisi kepala kanan hingga pundak.

Masuk hari ketiga belas masa karantina istri saya, kami sekeluarga menjalani tes Swab Antigen, petugasnya kami undang ke rumah karena kami masih terhitung menjalani masa Isoman.

Hasilnya, istri saya negatif, pertanda telah pulih. Sedangkan saya dengan anak kedua dan ketiga hasil tesnya dinyatakan positif. Ganti kami bertiga yang terpapar Covid.

Saya bersyukur, ibu mertua dan anak putri saya keempat, dinyatakan negatif, tak tertular Covid. Segera saya ungsikan mereka ke tetangga dekat yang berkenan menampung dan tersedia kamar tinggal.

Sekali lagi saya bersyukur, rasa saling peduli dan mendukung masih ada di sekitar tempat tinggal, buah dari berinteraksi sosial yang baik selama ini.

Saya pun tadinya minta istri saya yang baru sembuh untuk turut serta dievakuasi ke tetangga saya. Tapi istri saya malah bertanya balik nanti yang merawat kami bertiga siapa.

Wah! Jiwa keibuan istri saya mengalahkan teror wabah mendunia.

Jadilah kami berempat tinggal serumah melanjutkan Isoman, setelah saya melaporkan kondisi kami tersebut ke pangurus RT dan tim Satgas Covid19.


Flu Aneh.

Bukan sekedar flu biasa yang saya rasakan selama berhari-hari. Badan berasa lemah, bawaannya mengantuk dan meriang.

Namun saya tak begitu kehilangan indera penciuman. Masih berasa aroma masakan juga minyak kayu putih ataupun parfum jika saya hirup. Hanya saja, indera pengecap rasa saya mendadak dominan berasa gurih.

Pernah saya mendapat kiriman masakan kesukaan saya, mie ayam pada siang hari dan tahu campur pada malam hari. Keduanya berasa sangat gurih, malah menjadi kurang nyaman cita rasanya. Tapi, keduanya tetap saya habiskan.

Lha bagaimana lagi? Wong keduanya adalah masakan favorit saya.

Sakit sih silakan, tapi wahai penyakit! Jangan coba-coba halangi sikap saya ke masakan-masakan favorit saya ya.

Dari semua makanan, hanya buah Peer, Apel dan Mangga yang berasa normal bagi lidah saya selama terpapar Covid.

Buah Sumber Vitamin Alami Penting Saat Terpapar Wabah Pandemi.

Masuk hari ke tiga terpapar sakit, kami berempat mencoba untuk menjalani test Swab bermetode Polymerase Chain Reaction, PCR, di puskesmas terdekat. Hasilnya, saya dan kedua anak laki-laki saya masih ditemukan positif, sementara istri saya sudah negatif, sebagai pemertegas hasil tes Swab Antigen sebelumnya.

Keesokan harinya, saya paksa diri saya untuk beraktifitas fisik. Menyapu rumah, mengepel lantai dan menguras akuarium kecil, saya lakukan. Keringat mengucur deras, segar meriang hilang.

Tapi setelah itu saya merasakan lelah dan terlihat pucat. Istri saya khawatir, saya diminta istirahat saja setelah mandi.

"Biar kapok penyakitnya, keasinan kena keringat". Begitu alasan saya, kesal sama sakit flu yang baru kali ini saya rasakan sensasinya.


Kimia Medisinal.

Obat-obat yang diberikan kepada kami bertiga, banyak sekali ragamnya. Kiriman dari Puskesmas dan sebagian hasil tebus ke apotik dari Klinik dekat rumah.

Ada tiga jenis multivitamin, yaitu; Zinc (Zegavit), Vitamin 5000 IU (Prove D) masing-masing 1 kali sehari waktu pagi dan malam, dipadu berjemur di pagi hari.

Lalu ada obat batuk Asetilsistein yang sehabis diminum berefek saya justru menjadi terbatuk-batuk. Konon agar penyakitnya hanya bertahan di saluran napas atas tak sampai ke paru-paru.

Benar memang, waktu itu jika saya ambil napas dalam-dalam, lalu ada rasa gatal di pangkal saluran napas yang membuat saya batuk. Kemudian ada obat pilek, jarang saya minum karena saya tak ada keluhan pilek.

Ada lagi obat anti virus namanya Isprinol. Berupa paduan triumvirat senyawaan kimia medik, dimana dua senyawa menyaty menjadi dinding garam pelindung intisel dari 'tangan-tangan' nakal punya si virus.

Lalu satu senyawaan kimia lagi berperan menggenggam erat RNA-Transfer dalam sel, agar tak sempat diganggu oleh replikasi kode genetika jahat dari 'tangan nakal' virus.

Isprinol ini dikenal sebagai obat antivirus dalam pengertian virus umum, bukan virus Sars-Cov2 yang diduga penyebab CovidMenjadi semacam obat alternatif sebelum obat sebenarnya ditemukan.

Isprinol Tablet Anti Virus.

Isprinol berupa tablet bulat putih besar-besar berasa keasaman, jika dibiarkan leleh di ujung lidah. Sehari dosisnya empat kali minum dan harus dihabiskan.

Lalu ada tablet Parasetamol 500 mg sebagai penurun panas tubuh jika dikeluhkan.

Ada juga antibiotiknya berupa Amoxylin 500 mg dan Dexametazone, sebagai antiradang. Mungkin antibiotik ini sebagai pencegahan radang di saluran napas atas agar tak meluas hingga ke bagian dalam bahkan ke paru-paru.

Kedua antibiotik ini dipadu dengan peran obat kumur, yang mempertahankan kondisi saluran pencernaan dan napas bagian atas terbebas dari parasit, pagi dan malam hari.

Kebayang, kami bertiga termasuk istri saya, selama dua mingguan harus minum rutin semua obat-obat kimia medis sintetis itu.


Mimpi Dilema.

Menyandang Covid, sensasi rasa sakitnya memang bukan sekedar flu biasa. Tapi kudu dilawan!

Selain melawannya dengan obat-obatan, juga asupan makanan bergizi yang tinggi protein rendah karbohidrat, lalu mempertahankan imunitas tubuh dengan asupan multivitamin dan berjemur di pagi hari, serta mengupayakan mental agar tak bersedih.

Untuk urusan mental menjadi sangat penting, karena tak mudah. Apalagi jika sering mendengar berita-berita, baik di media massa juga media sosial atau pengumuman dari masjid, tentang berita duka.

Kondisi mental selama terpapar Covid menjadi krusial. Oleh karenanya ketika terpapar Covid, sedapat mungkin tetap bisa melakukan hal-hal yang disukai. Membaca, mengaji, menulis, melukis, itu diantaranya.

Karena saya selalu merasa lemah dan mengantuk, maka saya coba lawan rasa yang mungkin juga karena pengaruh obat itu, dengan aktifitas fisik dalam rumah sepagian.

Bisa!

Tapi habis itu ya mengantuk, terus habis makan tidur lagi sampai sore. Lumayan dari pada seharian tiduuur ae. Mau jadi Sleeping Beauty apa gimana?

Beauty aja juga nggak, wong wajah saya diusia 50-an ini cenderung berubah morat marit.

Lagi pula, selama terpapar Covid, suasana tidur juga tak nyaman karena seringkali berhias mimpi-mimpi bertema dilema.

Ibaratnya saat mimpi saya diberikan pilihan mendua yang berkebalikan dan keduanya adalah pilihan yang tak dapat ditolak pun tak dapat diterima begitu saja.

Hingga puncaknya, suasana mimpi menjadi sangat tak nyaman, lalu terbangun dengan kondisi badan yang lebih menghangat tanpa berkeringat. Bermalam-malam saya mengalami mimpi-mimpi demikian.


Sapu Jagat.

Didukung istri saya yang ibarat perawat tanpa tanda jasa, maka hingga hari ke 13 masa Isoman kedua, kami bertiga menjalani tes Swab Antigen lagi untuk mendeteksi kondisi fisik mental yang kami rasakan telah membaik.

Tim tes Swab Antigen berasal dari Puskesmas terdekat yang memberikan program cuma-cuma bagi warga serukun tangga. Tentunya kami antusias mengikutinya.

Hasil tes yang dilakukan menunjukkan kami bertiga telah negatif dari paparan Covid. Hanya saja tetap diminta menjalankan Isoman hingga 17 Agustus, berselisih 14 hari terhitung dari hasil uji Swab PCR pada tanggal 3 Agustus.

"Alhamdulillaah." Kalimat pertama yang saya ucapkan.

Tak mengapa masih melanjutkan Isoman hingga 17 Agustus, sekalian memperingati hari Kemerdekaan.

Menyambut hasil tes negatif, saya pun langsung menjalankan operasi sapu jagat, dibantu dua anak laki-laki saya. Jagat rumah kami sapu dan bersihkan dari sisa-sisa parasit plus kenangan miris berpenyakit.

Saya semprot seisi rumah menggunakan ramuan andalan saya Hipoklorit 0.1% yang terbukti oleh jurnal kimia internasional mampu menonaktifkan Sars-Cov2 dalam waktu satu menit.

Sprei, sarung bantal guling diganti dan saya cuci menggunakan anti noda mengandung asam peroksida. Kasur saya semprot gunakan disinfektan, termasuk tirai. Debu yang menempel di lemari, meja dan kursi juga dilap gunakan disinfektan.

Lantai juga demikian. Untuk sekian jam, seisi rumah dan sebagian halaman depan dan pintu pagar mendadak beraroma Hipokhlorit bagai kolam renang standard internasional.

Semua kegiatan fisik tersebut kami lakukan dalam kondisi yang berbeda setelah melakukannya, ketika kami masih merasakan sakit.

Setelah beroperasi sapu jagat, kami merasakan capek yang wajar, termasuk berkeringat tanpa meriang sama sekali.

Alhamdulillah, kami merasa telah pulih. Termasuk ketika mendapat kiriman masakan dendeng batokok, oseng kacang ucet dan sayur Cap Je. Kami, menikmatinya dengan lahap berhias aroma dan cita rasa yang telah normal dalam aliran ke setiap urat syaraf.

Kami menantikan 17 Agustus, hari kemerdekaan sekaligus hari usai Isoman dengan penuh suka cita, sehat.


Tetaplah Sehat.

Bagi Ibu dan Bapak para sahabat yang budiman, dari semua tulisan kisah nyata dari saya tersebut di atas, maka sedapatnya pertahankan diri Anda semua beserta Keluarga tercinta terjauhkan dari penyakit Covid19, wabah yang mendunia ini.

Berdoa dan berupaya menjalankan protokol kesehatan, asupan makanan bergizi, berolah raga serta mempertahankan kondisi imun tubuh tetap prima, menjadi penting.

Wabah penyakit kali ini sangat ganas dan sangat mudah menular yang menyisakan pertanyaan;

"Bagaimana bisa?" berulang-ulang.

Sekali terpapar, segeralah rubah pertanyaan; "Bagaimana bisa?" tersebut, dengan segera menghadapi kenyataan; "Apa selanjutnya?".

Bisa jadi, kesalahan kami adalah belum pernah menjalani vaksin pencegah Covid19, apa pun merk vaksinnya. Rencana akhir Juli kemarin hendak vaksin, sudah dapet giliran 'Arisan Global' duluan.

Sebuah 'Arisan' yang sedapat mungkin kita tak akan pernah mengikutinya. Karena 'Arisan' kali ini tak semembahagiakan Arisan Panci. Sebaliknya, sebuah Arisan yang membuat tubuh dan mental terbalut perasaan ngeri.

Semoga Ibu dan Bapak para sahabat beserta Keluarga tercinta selalu terhindari dari wabah ini.

Selebihnya, tentu berserah diri, meyakini bahwa setiap KehendakNya adalah Karunia. Saling mendoakan terbaik bagi kita semua.

Aamiin yaa Rabb.