Baru-baru ini kembali terjadi kasus  bullying yang dilakukan oleh siswa MTs di Kotamobagu, Sulawesi Utara hingga meninggal dunia. Siswa berinisial BT (13) ini dibully oleh 9 orang temannya di lingkungan sekolah saat pembelajaran sedang berlangsung. Sayangnya, kejadian ini tidak diketahui oleh pihak sekolah. 

Hingga akhirnya pelaku berhasil membully  BT sehingga  mengalami luka dibagian perut dan meninggal dunia. Tindakan ini tentu sangat tidak terpuji. Berikut  adalah kronologis rangkaian peristiwa  anak MTs yang dibully hingga tewas di Sulawesi Utara :

Kronologi terungkapnya kasus bullying yang menimpa korban

Kejadian ini pertama kali muncul ke publik saat Dedeng Mopanggah memposting cerita di sosial media mengenai bullying ini.  Diketahui kasus bully yang menimpa BT ketika BT hendak pergi ke musholla. Namun para pelaku tiba-tiba menutup mata BT dan langsung melakukan penyiksaan.

Kejadian tersebut membuat BT mengalami kesakitan dibagian perut. Orang tua BT langsung membawa BT ke rumah sakit pada keesokan harinya. Ternyata BT mengalami kelainan usus dan segera di operasi.

Setelah mendapat perawatan di RS Pobundayan Kotamobagu, ketika dia dirujuk ke RSU Pusat Prof Kandou Manado, ternyata nyawa BT sudah tidak terselamatkan dan ia dikabarkan meninggal dunia pada keesokan harinya.

Berikut beberapa dampak dari bullying ini :

1. Kesehatan mental terganggu

2. Mengalami trauma

3. Menimbulkan penyakit baik fisik maupun batin

4. Menyebabkan kematian atau hilangnya nyawa 

Namun apakah ada aspek hukum bullying terhadap anak di bawah umur?

Berikut saya akan bahas terkait aspek hukum bullying terhadap anak di bawah umur :

Perlindungan anak di Indonesia diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 yang telah diubah dengan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Perlindungan Anak yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Terkait dengan bullying diatur dalam Pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014 yang berbunyi : “Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Ancaman hukuman bagi yang melanggar pasal ini adalah pidana. Penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000 (Tujuh Puluh Dua Juta Rupiah).

Tindakan teman-teman korban bullying menurut saya telah memenuhi unsur pasal tersebut dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan dapat dijatuhkan pidana. Selain pasal tersebut, para pelaku juga dapat dijerat karena telah menyebarkan kekerasan lewat media elektronik. 

Pasal 45B Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyatakan bahwa “Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.

Atas dasar itu, maka perbuatan pelaku bullying ini sudah termasuk dalam kategori perbarengan tindak pidana yaitu concursus realis sebagaimana diatur dalam Pasal 65 KUHP. 

Oleh karena itu, menurut saya hukuman maksimal bagi pelaku bullying tersebut adalah 5 tahun 6 bulan dengan perhitungan ancaman pidana paling berat ditambah sepertiga.

Menariknya, karena mereka adalah teman-teman sebaya korban, para pelaku juga kemungkinan besar masih tergolong anak di bawah umur. Jadi, dapatkah pelaku bullying di bawah umur dipidanakan?

Mungkin bagi pelaku kejahatan yang masih di bawah umur, maka tidak akan diadili seperti orang dewasa pada umumnya. Pelaku di bawah umur di adili sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. 

Hal yang paling mencolok dari Sistem Peradilan Pidana Anaka adalah ancaman hukuman pidana yang dikurangi setengahnya dibandingkan dengan ancaman hukuman yang berlaku bagi orang dewasa (Pasal 79 ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2012). Artinya, hukuman maksimal bagi pelaku bullying di atas adalah 2 tahun 8 bulan.

Menurut saya, besaran pengurangan ancaman hukuman pidana dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Anak perlu dikaji ulang. Banyak kejahatan yang sekarang dilakukan oleh anak di bawah umur yang menurut saya pantas mendapatkan hukuman maksimal, seperti dalam kasus ini.

Saya berpendapat bahwa besarnya pengurangan ancaman hukuman tersebut perlu untuk dikurangi, sehingga memberikan lebih banyak kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman kepada pelaku bullying anak di bawah umur.

Oleh karena itu, bullying harus segera dihilangkan. Seseorang yang dapat membantu menghilangkan bullying adalah orang tua. Sebagai orang tua, orang tua dapat memberi anak sikap saling menghargai perbedaan, tidak mengizinkan kekerasan terhadap siapa pun, membantu mengatur hubungan anak, membantu anak mengelola emosi, dan membiarkan mereka mendengarkan cerita mereka.

Selain itu, guru sebagai orang tua di sekolah tentunya memiliki peran penting dalam pembelajaran anak. Tidak hanya itu guru juga harus mengawasi siswanya agar tidak terjadi perkelahian dan perundungan di sekolah.

Semoga kasus bully yang terjadi pada BT anak MTs di Sulawesi Utara tidak akan terjadi lagi pada anak-anak lainnya.