Dangdut is the music of my country adalah judul lagu dari sebuah grup musik pop bernama Project Pop yang sempat populer di Indonesia pada dekade tahun 2003. Frasa dalam lagu tersebut seolah menegaskan sebuah pernyataan bahwa di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural, dangdut adalah musik asli Indonesia yang dapat menyatukan segala perbedaan tersebut menjadi satu identitas kebangsaan Indonesia yang tunggal dan tidak akan pernah tanggal.

Musik dangdut sesungguhnya adalah merupakan pengkristalan orkes melayu yang muncul pada sekitar tahun 1970-an. Dan semenjak saat itu dangdut menjadi subjek yang tidak pernah pudar. Dangdut kemudian seperti mendapat stigma sebagai musik rakyat, sebab dalam perkembangannya sebagian besar penikmat musik dangdut adalah golongan kelas menengah-kebawah yang sering mendapat cap sebagai rakyat.

Pernyataan di atas menegaskan bahwa selain sebagai musik-–sintesis dari India, Melayu dan unsur rock seperti yang dimainkan Rhoma Irama dalam Soneta---dangdut bukan lagi sekadar sebuah musik, seni dan identitas kultural kebangsaan seperti apa yang dikatakan Project Pop. Dangdut dalam perkembangannya telah menghimpun berbagai aspek lain seperti politik, ekonomi dan wacana gender.

Keidentikan dangdut dengan biduan; perempuan dan goyangan, membuat dangdut menjadi arena menarik dalam pertarungan wacana gender, relasi kuasa atas tubuh, persoalan politik dan ekonomi.

Selama ini kita hanya melihat dangdut sebagai hiburan semata, tanpa melihat bagaimana relasi kekuasaan bekerja melalui kesenangan, politisasi tubuh dan akhirnya sampai pada monopoli ekonomi. Kita selama ini tidak menyadari bahwa biduan menggunakan tubuhnya dengan memvisualkan wujud tubuhnya secara unik untuk mengeksplorasi tubuh orang lain di dalam jalinan relasi kuasa/pengetahuan.

Terdapat narasi menarik memang, mengenai wacana gender dalam tubuh dangdut. Dalam dunia perdangdutan, perempuan seringkali menjadi objek seksual. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku penonton memosisikan biduan yang sering kali hanya dijadikan objek seksual semata melalui saweran. Biduan juga sering kali menampilkan gerakan badan atau goyangan yang “menantang” dan sensual.

Namun, Sutrisno (1993) mempunyai penjelasan menarik mengenai gerakan badan (gesture) sebagai media komunikasi. Tubuh manusia dengan geraknya tangan, ekspresi wajah, dll. melalui tubuh dengan geraknya: termasuk mulut yang berucap, atau gerak tangan, manusia mengungkapkan siapa dia “sejatinya”: siapa dirinya (Sutrisno, 1993:5).

Perspektif feminisme tentu akan melihat persoalan estetika dan tubuh secara berbeda dari kajian-kajian gerakan badan (gesture) yang lain. Dalam kasus ini, biduan akankah mampu menjadi subjek yang berkuasa dalam sebuah kebudayaan; dangdut, atau hanya menjadi objek yang dikuasai dari kebudayaan tersebut.

Konsep Foucault tentang seks dan kekuasaan barangkali dapat menajamkan analisis kita perihal kasus tersebut. Melihat seks bagi Foucault selalu berkenaan dengan jalinan kuasa/pengetahuan.

Relasi kuasa/pengetahuan dalam praktik-praktik sehari-hari menegaskan proses kebudayaan selalu terkait dengan upaya merebut, memperjuangkan, dan mempertahankan siapa yang berhak bicara-–diskursus, tidak terkecuali dangdut sebagai ekspresi kebudayaan.

Dangdut, sebagai salah satu wujud ekspresi kebudayaan, secara sengaja menggunakan tubuh biduan sebagai wilayah eksplorasi penciptaan keindahan. Biduan sengaja menggunakan tubuhnya untuk mewujudkan sebuah ekspresi. Ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan.

Melihat goyangan-goyangan yang diciptakan para biduan sebagai aspek komunikasi di dalamnya tentu mencakup adanya wacana yang meniscayakan kemungkinan sesuatu yang bersifat manipulatif/rekayasa.

Goyangan sesungguhnya sebuah konstruksi yang diciptakan oleh seorang biduan dengan terstruktur dan syarat makna. Struktur dan maknanya bukan semata-mata estetika seni untuk seni. Selain persoalan ideologis, politis, persoalan ekonomis pun merasuk di dalam penampakan gerak-gerik (gesture) goyangannya itu sendiri.

Penulis membayangkan goyangan sebagaimana sebuah institusi bahasa yang di dalamnya ditemukan adanya tata bahasa (grammar) yang mengeksplisitkan keberadaan kuasa/pengetahuan.

In order to communicate, dance must be grammatical. Dance grammar, like the grammar of any language, includes both structure and meaning, and one must learn the movements and syntax. (Kaeppler, 1992:199).

Bahasa adalah sumber sirkulasi keberlangsungan sekaligus tempat menetapkan kuasa/pengetahuan. Atas dasar penjelasan di atas, penulis menganggap bahwa sewaktu melihat dangdut; biduan bergoyang, bukanlah semata-mata melihat sebuah potret keindahan dari bentuk tubuh, laku rasa, emosi, dan sensualitas tetapi sebuah wacana kekuasaan atas tubuh-–diri sendiri maupun orang lain---untuk mendapat kuasa ekonomi.

Dengan demikian, persoalan estetika goyangan biduan tidak melulu hanya persoalan keindahan semata. Tidak juga hanya dengan beban politis semata, persoalan ekonomis juga menciptakan estetika itu sendiri.

Estetika tentu bukan sesuatu hal yang bersifat objektif, mutlak dan alamiah. Ia sama sekali tidak netral. Tidak ada sesuatu apa pun yang netral di muka bumi, semua telah dikonstruksikan. Siapa yang mengonstruksikan? Manusia yang memiliki kepentingan. Inilah yang harus selalu dilihat.

Mengapa? Sebuah konstruksi mengimplisitkan adanya sebuah kekuatan politik untuk menguasai. Maka seperti dalam kasus ini, biduan telah mempolitisasi tubuhnya untuk mendapatkan kuasa atas tubuh orang lain.

Kuasa/pengetahuan muncul pada saat tubuh dikontrol. Tubuh menjadi sebuah instrumen bagi berlangsungnya kontrol politik. Ia menjadi sumbu bagi kehidupan sosial, entah kepatuhan atau seksualitas, kebaikan atau kejahatan, sehat atau sakit, personal atau politik. Tubuh berikut bagian-bagiannya sarat muatan tanda dan simbolisme kultural, publik dan privat, positif dan negatif, politik dan ekonomi, seksual, moral, dan seringkali terliputi kontroversial.

Tubuh selalu merupakan identitas pula. Tubuh selalu dikonstruksikan secara sosial dengan berbagai macam cara, oleh berbagai macam populasi yang berbeda, atas bermacam-macam organ, proses-proses dan atribut-atribut. Tubuh bukanlah telah ada secara alamiah, melainkan juga menjadi sebuah kategori sosial dengan maknanya yang berbeda-beda yang dihasilkan dan dikembangkan setiap zaman (Imam Setyobudi dan Mukhlas Alkaf).

Sama halnya dengan kebudayaan yang merupakan sebuah konstruksi manusia, dan sama sekali bukan suatu makna yang sudah terberi begitu saja yang menggiring manusia sekadar untuk menerima dan mematuhi “pakem”-–taken for granted. Tubuh serupa spon yang kemampuannya dalam menyerap makna sangat bernuansa politis (Synnott, 2003:12).

Diskursus yang terjalin seputar fenomena dan polemik goyangan biduan yang muncul pada dangdut juga merupakan bukti kuasa/pengetahuan sedang berlangsung. Terjalinnya dialektik atas wacana seks (goyangan) sebagai konsekuensi logis dari sirkulasi kuasa/pengetahuan sewaktu memandang tubuh sebagai pusat kontrol telah menghasilkan diskursus yang serius.

Maka dari argumentasi di atas saya meilhat bahwa biduan sejatinya telah melakukan penguasaan atas banyak tubuh orang lain tanpa kita sadari. Penguasaan atas tubuh itu terjadi begitu alamiah sejak seruling bambu, dan gendang yang terbuat dari kulit lembu itu mulai dimainkan.

Pada posisi ini biduan menghegemoni semuanya dan menguasai segalanya. Di atas panggung, biduan menemukan arena kekuasaannya, tak peduli siapapun itu, pejabat, rakyat, maupun tokoh masyarakat,

Catatan: Dalam KBBI, penyebutan penyanyi perempuan sesungguhnya adalah biduanita, namun secara umum penyebutan dalam gelaran/pementasan dangdut, MC dan bahkan penonton sering kali tidak membedakan laki-laki dan perempuan, keduanya disebut seorang biduan. Maka untuk memudahkan penyebutan pembaca dan penulis, yang dimaksud biduan dalam esai ini adalah penyanyi perempuan.