Mengapa kau siksa diriku, seakan aku ini musuhmu. Setiap kali engkau marah, maka tanganmu ikut bicara”.

Itu merupakan cuplikan lirik dari lagu yang dibawakan Rita Sugiarto yang berjudul Sasaran Emosi. Lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan yang terjebak dalam hubungan suami-istri yang tidak sehat, salah satunya adalah banyaknya representasi dari bentuk kekerasan dalam rumah tangga di lagu ini. 

Selain cuplikan lirik yang telah dikutip di kalimat sebelumnya, masih ada cuplikan lirik yang menjadi bentuk dari representasi akan kekerasan dalam rumah tangga, yaitu “Jangan kau siksa aku seperti hewan atau benda mati….”. Lagu ini berlanjut dengan suatu argumentasi perlawanan, yaitu “Hewan pun tak sudi kasihnya di curi, apalagi perempuan yang punya harga diri..”.[1]

Dari lagu ini saja, telah terasa impresi pertama tentang bagaimana perempuan diberlakukan secara buruk dalam rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga menjadi masalah serius dalam masyarakat Indonesia, dan esai ini akan memaparkan bagaimana permasalahan perempuan digambarkan dalam nyanyian-nyanyian dangdut.

Jadi, bagaimana bisa dangdut membawa wacana perjuangan perempuan?

Dalam kaitannya dengan budaya, sekilas tentang lagu dangdut di atas merupakan salah satu hasil dari bagaimana suatu keadaan sosial-budaya menghasilkan produk kultural yang menjadi cerminan atas bagaimana jalannya masyarakat tesebut. Hal ini mirip dengan bagaimana masyarakat ras kulit hitam di Amerika Serikat melawan rasisme sistemik yang ada dalam struktur sosial mereka.

Dalam hasil produk budaya mereka, banyak musisi terutama rapper membuat lagu yang menjelaskan keadaan mereka yang tidak terlalu baik. Salah satu dari mereka adalah Grandmaster Flash, yang mana merupakan seorang rapper berkulit hitam.

Ia merilis lagu yang berjudul The Message, sebuah lagu yang merupakan representasi dari keadaan masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat. Secara singkatnya, lagu ini menggambarkan betapa buruknya segregasi ras dan bagaimana hal itu berpengaruh terhadap keseluruhan orang kulit hitam di Amerika Serikat[2].

Dalam konteks Indonesia, relasi dangdut dengan nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat ditunjukkan dalam lagu yang berjudul Andai yang dinyanyikan dalam duet Riza Umami dan Rhoma Irama. 

Dalam lagu tersebut, dikisahkan ada seorang wanita yang akan mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, walaupun ia bukan seseorang yang tampan dan tidak kaya secara ekonomi[4]. Ini adalah representasi dari nilai-nilai ideal masyarakat Indonesia dalam pernikahan.

Namun, faktanya, pernikahan di Indonesia tidak seharmonis apa yang dinyanyikan oleh Riza Umami, per 2018, sekitar 419.268 pasangan di Indonesia bercerai[5].

Berbagai macam faktor memengaruhi perceraian di Indonesia. Beberapa di antaranya yaitu kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan yang menjangkiti rumah tangga Indonesia, biasanya karena faktor ekonomi yang menjadi akar permasalahannya[6].

Banyaknya kasus kekerasan dan perselingkuhan dalam rumah tangga ini menjadi inspirasi bagi para penyanyi dangdut untuk menyuarakan hak-hak perempuan yang selama ini dirugikan karena relasi dalam rumah tangga yang cenderung didominasi oleh relasi patriarkis[7]

Salah satunya adalah lagu dari yang berjudul Minyak Wangi yang pernah dinyanyikan oleh Ayu Ting Ting[8]. Dalam salah satu bait liriknya, yaitu:

biasanya tak pakai minyak wangi
biasanya tak suka begitu
saya cemburu, saya curiga,
takutnya ada yang main di sana”

Potongan lirik ini menunjukkan bahwa ada keresahan dalam diri seorang pasangan ketika salah satu dari mereka melakukan tindakan perselingkuhan. Lalu lirik lagu tersebut memiliki kelanjutan:

“Belakangan ini sering keluar malam
Tak betah di rumah
Minggu-minggu ini saya jarang disentuh
Tak diperhatikan 

Memangnya saya tak cantik lagi
Merasa sudah tak asyik lagi”

Dalam lirik ini, ditunjukkan bahwa laki-laki lebih memiliki kuasa untuk memenuhi hasrat seksualitasnya dibandingkan perempuan. Hal ini lalu dilawan dengan reaksi bahwa perempuan juga memiliki hasrat seksualitas yang sama-sama perlu dipenuhi.

Jadi, selain memprotes masalah bagaimana laki-laki melakukan perselingkuhan dan berlaku sewenang-wenang dalam hubungan rumah tangga, dalam lagu ini, perempuan juga menunjukkan bahwa mereka adalah manusia yang sama-sama memiliki kebutuhan seksual, bukan sekadar objek semata[9].

Refleksi 

Meskipun dengan bentuk pesan yang jelas di dalam lagu-lagu dangdut yang telah dijelaskan di segmen sebelumnya, wacana perjuangan perempuan dalam dangdut masih kurang begitu tampak jelas dalam masyarakat Indonesia. Karena akar dangdut itu sendiri yang merupakan hiburan semata, dan fakta bahwa musik-musik ini merupakan kategori dangdut koplo yang berasal dari tempat hiburan remang-remang dan keberadaannya mulai awal telah dikecam[10]

Selain itu, apa yang ada di dalam lagu ini merupakan komodifikasi dari isu yang terjadi di masyarakat.

Referensi

[1]. New Palapa. (2011). Sasaran Emosi. [Dinyanyikan oleh Rita Sugiarto].

[2]. Kelley, R.D.G., Lewis, E.(eds.). (1996). Into the Fire : African Americans since 1970. New York :  Oxford University Press

[3]. Thwaites, T., Davis, L., Mules, W. (2002). Introducing Cultural and Media Studies. Yogyakarta : Jalasutra

[4]. Rhoma Irama. (1986). Andai. [Dinyanyikan oleh Riza Umami].

[5]. Saputra, A. (2019, 03 April). Hampir Setengah Juta Orang Bercerai di Indonesia Sepanjang 2018

[6]. Hidayat, R. (2018, 18 Juni). Melihat Tren Perceraian dan Dominasi Penyebabnya

[7]. Indonesia Imaji.com. (2018, 2 Mei). Kritik Sosial Perempuan dalam Lagu Dangdut

[8]. Dadan Indriana. (2007). Minyak Wangi. [Dinyanyikan oleh Ayu Ting Ting].

[9]. Anggriana, G. (2012). Representasi Perempuan dalam Lirik Lagu Dangdut Kontemporer [Skripsi tidak dipublikasikan]

[10] Raditya, I.N. (2017, 31 Mei). Sejarah Dangdut, dari Dakwah Hingga Goyang