Saat menelepon salah seorang narasumber yang akan saya wawancarai, dari seberang telepon terdengar lagu ring back tone dengan iringan musik yang sangat familiar: dangdut. Yang membuat saya sedikit kaget dan senyum-senyum adalah lirik lagu ring back tone itu.

KPK, kangen pengen ketemu
KPK, kuingin peluk kamu
KPK, kubutuh perhatian kamu

Saya tak tahu lagu ciptaan siapa dan siapa penyanyinya. Saya juga baru pertama kali mendengarnya. Tapi intinya bukan di situ.

Setelah saya pikir-pikir, musik dangdut adalah musik paling up to date dalam memotret apa yang terjadi di masyarakat. Gejala apa pun yang terjadi di masyarakat, khususnya yang sedang hangat, selalu dijadikan peluang menciptakan lagu dangdut.

Seperti lagu KPK di atas—saya menduga judul lagunya adalah KPK—menggunakan istilah "KPK" untuk membahas persoalan cinta. Padahal, saat ini mayoritas penduduk Indonesia, untuk tidak mengatakan seluruhnya, bila ditanya apa kepanjangan KPK, pasti akan menjawab Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sejak didirikan, KPK memang menjadi buah bibir. Apalagi setelah KPK berani menangkap pejabat-pejabat kelas kakap yang selama ini seperti tidak bisa tersentuh oleh tangan hukum. Maka, KPK terus menjadi buah bibir masyarakat Indonesia.

Maka tak heran bila masyarakat Indonesia banyak yang mengetahui bahwa KPK adalah Komisi Pemberantasan Korupsi yang kantornya berada di Jalan Rasuna Said Jakarta itu.

Kembali ke persoalan dangdut.

Saya kira di antara musik-musik lain dangdut adalah musik yang sangat lentur, adaptif, dan itu tadi up to date dalam memotret fenomena sosial masyarakat Indonesia. Tema cinta sudah sangat sering diangkat oleh semua jenis musik yang ada, termasuk dangdut. Namun, ketika istilah yang digunakan merupakan istilah baru, maka tema cinta itu menjadi tidak biasa.

Apalagi bila istilah yang digunakan untuk menggambarkan cinta, kangen, menggunakan istilah KPK. Antara seram dan romantis menjadi satu.

Ya, lagu-lagu dangdut harus diakui memang up to date. Saat ramai berita mengenai sabu-sabu, salah satu jenis obat yang disalahgunakan penggunaannya, dangdut memotret fenomena dalam sebuah lagu berjudul Sabu yang dipopulerkan oleh Alam, yang tak lain adalah adik dari pedangdut Fety Vera.

Judul Sabu dalam lagu itu bukan sabu-sabu yang tergolong ke dalam psikotropika melainkan akronim dari "sarapan bubur". Contoh lagu yang lebih lawas bisa kita lihat pada lagu-lagu ciptaan si Raja Dangdut Rhoma Irama yang ia nyanyikan sendiri yang banyak menggambarkan kehidupan keseharian masyarakat Indonesia.

Lagu-lagu itu bahkan masih populer dan diingat masyarakat Indonesia sampai kini. Beberapa lagu yang saya maksud misalkan lagu Begadang, Judi, Mirasantika, dan lain-lain. Contoh teranyar adalah digunakannya istilah pelakor (perebut laki orang) menjadi judul lagu dangdut.

Istilah pelakor saat ini menjadi kata yang banyak dibicarakan orang, bahkan acara-acara di televisi semacam reality show-pun, banyak mengekspoitasi tema mengenai pelakor. Hal-hal semacam inilah yang menurut saya tidak ada dalam warna musik lain.

Corong Perasaan Rakyat

Anda boleh mengatakan bahwa istilah-istilah yang digunakan dalam lagu dangdut itu terlalu biasa karena terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Atau bisa dibilang terlalu arus utama (mainstream). Tapi itu adalah realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan kita.

Musik dangdut memang kerap memotret kehidupan masyarakat Indonesia. Rasa-rasanya meneliti Indonesia tidak akan bisa lengkap bila tidak meneliti tema-tema dalam lagu dangdut. Namun dangdut tak hanya berperan memotret kehidupan masyarakat, melainkan juga “berperan sebagai corong untuk mengungkapkan perasaan rakyat atas kesewenangan yang terjadi dalam masyarakat” (Shofan, 2014).

Sejak kemunculannya pada 1970-an, dangdut memang lekat dengan musik kelas menengah ke bawah. Bahkan istilah dangdut sendiri dimunculkan sebagai ejekan dari pemusik lain, terhadap musik yang dinilai kampungan ini.

Konon, editor majalah Aktuil menamai musik ini dengan dangdut untuk menghina. Bahkan, pada awal 1970-an, musisi rock Benny Subardja, anggota grup rock Giant Step, mencap dangdut sebagai “musik tai anjing” (Weintraub, 2012: 95).

Tapi apa lantas dangdut tenggelam dan sepi penggemar? Nyatanya tidak. Musik ini malah menjadi musik favorit masyarakat Indonesia umumnya. Hal ini terjadi, selain karena dangdut merupakan musik yang asyik didengar, juga lirik-liriknya menggambarkan keseharian kehidupan masyarakat Indonesia kebanyakan. Karena itulah lirik dalam lagu dangdut dirasakan begitu dekat. Dalam bahasa anak zaman now, musik dangdut itu gue banget.

Dangdut pun menjadi program televisi yang banyak mendatangkan uang bagi pengelola stasiun televisi. Maka lahirlah acara-acara dangdut di stasiun televisi swasta, seperti pencarian penyanyi dangdut Kontes Dangdut Indonesia (KDI) yang ditayangkan MNC TV, D'Academy yang ditayangkan Indosiar, dan Dangdut Pantura yang juga ditayangkan Indosiar.

Bagaimana tidak mendatangkan uang bila acara-acara dangdut itu banyak disukai? Indikasinya, tanpa melihat data statistik, adalah bertahannya acara-acara itu sampai sekarang. Suatu acara di televisi, bila tidak menguntungkan, maka akan diakhiri karena biaya produksinya sangat mahal. Maka alasan mengapa acara dangdut bertahan karena banyak yang menonton.

Indikasi lain, acara-acara ini ditayangkan di jam-jam saat penonton banyak nonton alias prime time. Hanya acara-acara unggulan yang ditayangkan pada jam-jam seperti ini. Maka tidak berlebihan bila dangdut saya sebut mendatangkan banyak keuntungan bagi industri televisi.

Anda boleh tak suka dangdut dan itu sah. Seperti yang disampaikan Rhoma Irama dalam lagu berjudul Musik:

Musik yang kami perdengarkan
Musik yang berirama Melayu
Siapa suka mari dengarkan
Yang tak suka boleh berlalu.