Saat ini banyak kalangan berekspektasi tinggi terhadap Danau Toba. Mulai dari pemerintah dengan segudang programnya, pengusaha, pegiat pariwisata, wisatawan maupun masyarakat sekitar. Kondisi berpikir demikian bisa dikategorikan wajar akibat begitu indahnya memanjakan mata bagi siapa saja yang mengunjungi.

Pemerintah pun tidak tanggung mengucurkan dana yang diyakini memperindah kawasan danau Toba, informasi yang beredar bahwa pemerintah mengalokasikan hingga triliunan rupiah, tentu semua itu bertujuan untuk menggait wisatawan sebanyak-banyaknya  diyakini mampu menambah pemasukan negara maupun masyarakat sekitar. Demikianlah  selalu disampaikan mereka jika ditanyakan oleh awak media maupun masyarakat sipil.

Saya cukup mengapresiasi niat-niat pemerintah demikian. Akan tetapi pengucuran dana sebesar itu justru tidak menyentuh permasalahan yang kurun tidak terbendung di sekitaran Danau Toba. Justru orientasi pembangunan fisik yang difokuskan pemerintah bisa saja menjadi permasalahan baru bagi masyarakat pun terhadap danau itu sendiri.

Sebagai salah satu penikmat danau Toba, untuk kegiatan memancing ikan, mandi (berenang) maupun berperahu saya melihat bahwa permasalahan danau bukanlah pada rendahnya fasilitas pendukung. Akan tetapi aspek lingkunganlah yang menjadi masalah yang cukup serius di danau sampai saat ini.

Ketika beberapa kali mengunjungi danau, justru bau yang tidak sedap selalu mendahului keindahan lain. Bukan lagi sebatas sampah plastik yang bisa dijumpai di danau, bahkan beberapa kali bangkai ayam, kucing, anjing pun pernah bangkai babi mengambang di permukaan danau Toba (Bakara).

Sepengetahuan yang disampaikan orang tua terdahulu kepada saya, bangkai itu kubur ke dalam tanah. Menghindari bau busuk dan bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Selain sebagai pembuangan mayat hewan, danau Toba justru menjadi landasan kotoran limbah rumah tangga. Pembuangan limbah dari kamar mandi dan bahkan kotoran manusia sudah menjadi hal umum di sekitaran danau.

Beberapa industri rumah tangga pun saat ini banyak membuang limbah langsung ke danau Toba.

Di samping itu pembangunan resto atau kafe, hotel atau penginapan di sekitar danau pun saat ini begitu masif. Pertanyaannya, apakah mereka mengelola limbah dengan bijaksana? Saya tidak yakin.

Belum lagi keberadaan industri besar seperti PT. Toba Pulp Lestari justru begitu masif menyumbang kerusakan hutan di sekitaran danau Toba. Bagaimana tidak, dulunya hutan di sekitar danau ditumbuhi oleh Kemenyan dan berbagai kayu alam lainnya justru diubah menjadi ratusan ribu hektare pohon monokultur (eukaliptus).

Di samping itu pun, penggunaan pestisida dan pupuk kimia dengan kapasitas besar justru mengaliri sungai sampai ke danau. Belum lagi anak sungai yang mati akibat menurunnya pasokan air dari pohon alam.

Perusahaan lain seperti keramba jaring apung skala besar pun menjadi masalah yang serius dibalik mendominasinya tanaman eceng gondok di berbagai sudut danau. Bagaimana mungkin wisatawan berenang-renang bersama eceng gondok dan bangkai hewan yang dibuang ke danau?  

Kekeliruan pemerintah saat ini justru semakin memperburuk keadaan masyarakat di kawasan danau Toba. Belum lagi penghormatan kepada danau pun bagi masyarakat saat ini sudah dianggap lelucon. Tak bisa dipungkiri, kehadiran agama langit pun kini begitu menjauhkan kita kepada aturan (uhum) yang dipesankan leluhur kepada kita.

Pembangunan pemerintah justru saat ini membengkak di ranah fisik. Pelabuhan, kapal, penginapan dan fasilitas lain semua bermegah di atas danau Toba. Danau hanya dianggap sebagai genangan air yang harus dieksploitasi sebesar-besarnya demi keuntungan satu-dua pihak.

Pemerintah justru tidak menyentuh ranah paling intim dari danau Toba, seperti kualitas air, lingkungan atau hutan di sekitar danau, dan ekonomi masyarakat yang mayoritas justru bertani dan sebagian nelayan. Lingkungan pertanian justru disuguhkan dengan pondasi-pondasi semen dan batang besi.

Seperti sebuah desa di pulau Bali misalnya, Tenganan menjadi sebuah contoh desa yang menganggap wisatawan ialah bonus. Mereka tetap dengan kesibukannya masing-masing, seperti bertani dan beternak. Ketika musibah melanda, seperti corona baru-baru ini tidak berpengaruh terhadap penghasilan mereka.

Pemerintah seharusnya melihat itu. Bukan hanya memposisikan kicauan “revolusi mental” sebagai bahan bakar ketika musim kawin politik berlangsung. Karena ada tanggung jawab sosial bagi setiap yang berilmu pengetahuan apalagi mereka yang memegang jabatan. Ini bukan soal pesimis, atau apalah itu, karena lebih baik pesimis yang rasional daripada optimis yang irrasional.

Pun bagi teman-teman pemuda saat ini yang banyak melakoni aktivitas di sekitaran danau Toba harus benar-benar melihat ini dengan tak lupa melibatkan basis kearifan lokal. Jangan pergerakan itu ujuk-ujuk merujuk ke program dari pemerintah atau apa yang populer dari daerah lain.

Keterlibatan masyarakat sekitar dan produk lokal sangat menjamin pariwisata berkelanjutan. Jika memang membawa danau Toba kepada arah wisata. Atau jangan-jangan masyarakat sekitar danau justru tidak membutuhkan pariwisata. Justru menganggap danau Toba menjadi sumber kehidupan bagi kelangsungan pertanian, peternakan dan kehidupan lain yang layak.

Pemerintah harus benar-benar melihat danau Toba jauh lebih besar daripada sumber pendapatan semata (komersial). Jika pembangunan hanya merujuk kepada fisik (developmentalistik), maka tak ubahnya kita memperburuk keadaan danau Toba hari-hari ini.

Tidak menindak industri perusak lingkungan danau Toba dan tidak menyentuh moral dasar masyarakat, semua yang disodorkan pemerintah hanyalah kebohongan dengan kemasan baru di berbagai program justru akan merusak masa depan Danau Toba hari ini dan nanti.