Ditetapkannya Danau Toba sebagai UNESCO Global Geopark oleh Dewan Eksekutif Unesco pada Sidang ke-209 di Paris tertanggal 7 Juli 2020 menjadi angin segar bagi niat percepatan wisata Kawasan Danau Toba (KDT) yang sedang digodok oleh Presiden Jokowi, terutama peluang bagi ihwal peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.   

Salah satu dampak positif dari pengakuan tersebut ialah, Indonesia dapat mengembangkan Geopark Kaldera Toba melalui jaringan Global Geoparks Network dan Asia Pacific Geoparks Network khususnya erat kaitan dengan pemberdayaan masyarakat lokal, sekaligus perlindungan hayati sekitar Danau Toba.

Danau yang terbentuk dari ledakan super volcano Gunung Toba 74.000 tahun lalu, menjadikannya sebagai danau terluas di Asia Tenggara, memiliki pulau di tengah danau (Samosir), sebagai danau vulkanik terbesar dan terdalam di dunia, menyerupai lautan serta menjadi habitat ikan khas Batak (Ihan Batak) Neolissochilus thienemanni.

Danau dengan luas 1.145 km², yang terletak di Provinsi Sumatera ini dikelilingi beberapa daerah Kabupaten, diantaranya Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba,  Simalungun, Karo, Dairi, dan Samosir. Dengan mayoritas profesi masyarakat bertani, sebagian nelayan, serta penyedia jasa pariwisata sekitar pinggir danau Toba.

Dengan cirinya dikelilingi bukit, sekitar danau Toba pun merupakan asal mula dari suku Batak. Beberapa sumber informasi menyebutkan, si Raja Batak dulunya bertempat tinggal di gunung Pusuk Buhit. Kemudian beberapa keturunan setelahnya banyak menyebar ke berbagai daerah, hingga belahan dunia. Sehingga suka Batak identik dengan filosofi Cicak.

Berbagai daerah sekitar danau Toba tidak lagi diragukan soal kesuburan tanahnya. Terlepas dari berbagai wisata eksotis. Tumbuhan muda menjadi primadona masyarakat sekitarnya, mulai dari sayuran, kopi, padi, buah, dan berbagai kebutuhan pangan lainnya sangat kompleks dihasilkan daerah ini. Belum lagi soal kebutuhan papan rumah tangga.

Salah satu menjadi tumbuhan khas dari daerah sekitaran danau Toba ini ialah Andaliman, dengan nama latin Zanthaxylum acanthopodium. Andaliman atau sering disebut merica Batak, merupakan rempah endemik yang tumbuh di Sumatera Utara. Bentuknya seperti lada, menghasilkan rasa getir yang dihasilkannya dari zat hydroxyl-alpha-sanshool.

Andaliman merupakan rempah yang masuk dalam suku jeruk-jerukan. Rempah yang akrab disebut ‘merica Batak’ karena tumbuhan ini terkenal dari Sumatera Utara, pun sekaligus asal mula orang Batak. Masakan khas Batak seperti arsik (ikan bumbu kuning), mi gomak (mie lidi), sambal dan bumbu lainnya identik dengan penggunaan rempah andaliman.

Dilansir dari berbagai sumber, andaliman merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di pegunungan diketinggian 1.400 mdpl. Rempah dengan tinggi tanaman 3-8 m ini mengandung minyak atsiri seperti geraniol, linalool, cineol, dan citronellal yang bersifat antioksidan. Demikian, ekstrak buahnya dapat menjadi obat herbal yang bermanfaat untuk rahim.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sampai menjajaki dunia makanan atau kuliner. Selain diekspor, rempah andaliman pun diolah dengan makanan lain, seperti bandrek, pizza, sup, burger, curry, gulay, gado-gado dan lainnya. Bukan hanya di Indonesia, andaliman pun populer di India, Cina, Tibet, Nepal, Thailand dan negara lainnya.

Menjajaki peluang ekspor, rempah tersebut diolah dengan beragam produk turunan. Seperti bubuk andaliman, mie sop andaliman, teh celup andaliman, tahu andaliman, kripik bawang andaliman, martabak andaliman, sasagun andaliman, kopi andaliman, dan berbagai olahan lainnya yang menjadi ragam kebutuhan pasar.

Berbagai studi terbaru menyebutkan, bahwa andaliman memiliki khasiat baik bagi tubuh. Seperti memperlancar peredaran darah, meningkatkan daya tahan tubuh, menghilangkan rasa nyeri, antioksidan, menyehatkan mata, menjaga ketahanan tulang dan bermanfaat bagi rahim.

Pesatnya perkembangan andaliman, sampai terhadap produk turunan lainnya serta usaha ekspor yang tengah digerakkan beberapa kalangan, semakin memantapkan bahwa begitu suburnya tanah sekitar danau Toba. Menjadi peluang besar soal peningkatan sumber ekonomi, pun berujung kepada kesejahteraan sebagai dampak pengakuan UNESCO.

Menjadi pusat perhatian lokal maupun internasional, pemerintah dan masyarakat sekitar danau Toba dituntut kian bekerja keras demi memfasilitasi dukungan UNESCO terhadap Kaldera Toba.

Dengan harapan peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar, pengakuan tersebut akan semakin mempengaruhi pola kehidupan masyarakat danau Toba. Mulai dari segi pertanian, perikanan, sosial budaya, dan sebagainya. Seperti halnya studi kasus yang terjadi di perairan danau Toba, pencemaran air masih menjadi masalah krusial hingga saat ini.

Seperti yang dijumpai penulis dibeberapa daerah pinggiran danau Toba, sisa dari penggunaan pakan ikan, pupuk kimia pertanian, sisa kotoran ternak hewan, dan berbagai limbah lainnya kian menyuburkan eceng gondok. Walaupun sebenarnya eceng gondok dapat dikelola seperti di Jawa melalui home industri, kian menjadi kerajinan tas dan bentuk lainnya.

 Belum lagi soal limbah wisatawan yang masih kurang soal edukasi sampah diberbagai kunjungan ke danau Toba. Sampah plastik pun masih menjadi salah satu momok di danau yang kian belum terselesaikan. Edukasi soal bahaya limbah plastik harus tetap digalakkan, serta fasilitas pendukung terkait tempat sampah harus konsisten menyeluruh.

Beberapa minggu lalu, berbagai media sosial masyarakat berlomba melemparkan ucapan selamat kepada danau Toba, atas pengakuan lembaga internasional UNESCO menjadikannya Global Geopark Toba. Dibalik pengakuan tersebut, banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, jangan sampai peluang emas demikian terbuang sia-sia.

 Pola hidup masyarakat menjadi kunci utama danau Toba, menjadi masa depan atau masa suram, meningkatnya taraf hidup masyarakat atau tidak sama sekali, berlanjut atau berakhirnya masa depan ekosistem danau.

Sekali lagi, penulis ucapkan ‘Selamat kepada Danau Toba, Masyarakat dan Pemerintah’. Selamat mengemban tugas mulia dan tetap teguh dalam semangat.