Dan pemilik masa lalu itu adalah kau

Yang tetap bersemayam dalam dada meski luka masih saja membekas

Tak ada keinginan untuk mengubah sekalipun itu tak berpihak pada bahagia

Biarkan itu untuk dikenang dengan cara yang tidak menyakitkan

-ooo-

Segala perbedaan yang kita punya, telah berusaha kita leburkan untuk hari-hari penuh bahagia. Aku melengkapi apa yang kurang dari dirimu, pun sebaliknya.

Menjadi sepasang dua anak manusia yang saling mencintai, tentu membuatku berimajinasi lebih jauh perihal masa mendatang.

Aku ingin hidup diusia renta bersamamu, menghabiskan waktu tua hingga salah satu diantara kita dipanggil oleh-Nya dan hidup sederhana dalam rumah yang tidak begitu mewah namun penuh akan kasih sayang.

Perihal membayangkan masa depan dengan pasangan tentu hal wajar. Terkadang, rasa cinta ikut mendorong untuk melakukan itu.

Namun, senja tak selalu datang dengan warnanya yang khas. Kadang senja tertutup awan hitam yang membuat sinarnya tak bisa dinikmati oleh para pengagumnya.

Pada sebuah titik, kau merasa jenuh dengan semua ini.  Kau menghilang entah kemana. Mendung bukan berarti selalu hujan, tapi terik juga tak selalu pertanda baik.

Kadang, tak ada angin, tak ada mendung. Hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya membasahi hati.

Dari kejauhan kau meminta untuk jeda entah sampai kapan.

Sontak permintaanmu membuatku bingung dan tak tahu kalimat apa yang pas sebagai jawaban atas permintaanmu.

Kejenuhan itu akhirnya memuncak dan membuatmu terus-terusan diselimuti sikap pura-pura.

Katanya rindu tapi tak pernah berusaha untuk menebusnya dengan temu. Katanya berterus terang tapi ada saja jawaban yang coba kau sembunyikan.

Lalu sampai kapan kau terus-terusan dengan sikap seperti ini? Hingga rasa salah satu diantara kita memudar?

Kita seolah menjadi dua orang dari dimensi yang berbeda. Bagai dua orang asing yang tidak saling kenal.

Aku tak meminta semua waktumu sepenuhnya untukku. Karena aku tahu, terlalu menghabiskan waktu hanya untuk urusan cinta juga tidak baik.

Aku hanya meminta kepingan-kepingan waktumu. Namun nyatanya juga tidak ada.

Alhasil, Kita tak ada lagi waktu untuk duduk berdua di kedai sembari berbicara perihal apa saja yang membuat kita bisa tertawa. Kita tak ada lagi waktu untuk sekedar menikmati senja di bawah rindang angsana.

Kau pun semakin sulit untuk ku terka. Aku seperti berjalan dalam kegelapan yang sama sekali tidak ada lentera yang menuntunku untuk menentukan arah.

Kau yang semakin jauh ditelan malam meninggalkanku begitu saja. Sementara aku terus meraba jalan mana yang harus aku lalui.

Dan benar saja. Ku dengar kabar jika masa lalumu rupanya turut andil pada sikapmu yang berubah saat ini.

Dia mencoba mengisi ruang diantara kita. Dia yang telah membuatmu terluka kembali meminta kesempatan kedua.

Aku baru tahu perihal ini, perihal kau rupanya belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalumu dengan lukamu yang begitu pilu. Kau sepenuhnya belum bisa melepaskan dia.

Tapi kenapa kau lalu mengajakku untuk berbagi rasa dan hanya menjadikanku buku harian dari ceritamu yang tak jenuh kudengar hingga larut malam tiba. Sementara hatimu masih sepenuhnya untuk dia yang telah membuatmu terluka.

Aku rasa ini tidak adil. Aku yang menemanimu saat patah namun dia yang menemanimu saat tumbuh.

Aku sama sekali tidak menuntutmu untuk melupakan semua itu, sekalipun kau menjadi korban dari sebuah masa lalu yang begitu kelam.

Aku sama sekali tak menuntutmu sesegera mungkin untuk sembuh. Bukankah sembuh pun butuh waktu. Aku pun sama sekali tak menuntutmu untuk mengubur rasa itu begitu cepat. Karena semakin kau kubur, semakin kuat pula akan tumbuh.

Yang aku tidak terima jika masa lalumu juga ikut berjalan beriringan diantara kita.

Tidak bisakah kau menatap kedepan bersamaku? Berjalan beriringan dalam setiap langkah?

Kepada masa lalu biarkan kita menengoknya sekali waktu saja.

Cerita yang tak lagi sama seperti sedia kala perlahan membuatku mundur selangkah. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini.

Maka izinkan aku pamit untuk sementara. Tidak, aku tidak pergi. Aku hanya perlu waktu untuk mengistirahatkan rasa. Mungkin kau pun seperti itu.

Jika telah sembuh, disini selalu ada ruang yang siap untuk kau isi kapan saja. Disini adalah rumah tempatmu untuk pulang.

-ooo-

Berada di fase seperti ini tentu tidak mengenakkan bagi semua orang. Fase dimana kita tak saling memberi kabar sekalipun itu dari kejauhan padahal diam-diam kita saling merindukan.

Berjalan sendiri tanpa seorang pun yang membantu memapah rupanya cukup sulit. Seperti dipaksa untuk berdamai dengan patah hati.

Mengobati patah hati mungkin bisa dilakukan dengan mencari pengganti, tapi aku berfikir untuk menunda dan tidak tergesa-gesa secepat itu untuk mencari.

Perihal rasa, biar semesta yang menuntun itu semua. Kepadamu? Aku tak tahu. Biar waktu yang menjawabnya nanti. Suatu saat. Setelah kau telah berdamai dengan masa lalu.