"Aku pulang tanpa dendam, kuterima kekalahanku. Aku pulang tanpa dendam, kusalutkan kemenanganmu. Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita, kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita.”

Menurutku, lirik lagu di atas adalah lagu yang bagus dari Sheila On Seven (SO7) yang judulnya Berhenti Berharap. Aku paling suka mendengar lirik ini. Namun, aku tak mengerti, apa maksud SO7 menulis dan menyanyikan lagu ini.

Pada kesimpulanku sendiri, ada kalimat yang paling aku mengerti adalah ketika kita kalah, kita tidak akan menyimpan dendam. Ketika kita kalah, kita harusnya salut pada kemenangan pemenangnya (mungkin dengan legawa mengucapkan selamat pada kemenangan pemenangnya). Kemudian, sebagai pemenang pasti merasakan bahagia, jika menjadi pihak yang kalah adalah (subjek atau dan objek) penderita.

Kalah sebagai penderita? Bisa jadi. Aku mengerti rasanya kalah. Aku juga selalu kalah. Aku juga mengerti rasanya menderita.

Aku kalah ketika aku sakit dalam waktu lama; aku kalah ketika naskahku untuk jurnal dikembalikan; aku kalah ketika pengajuan beasiswaku tidak lolos; aku kalah ketika mahasiswaku salah mengerjakan tugas yang kuberikan; aku kalah ketika tahu dia lebih mencintai mantan pacarnya; dan lain sebagainya.

Ketika aku sakit dalam waktu yang lama, aku kalah dan menderita karena aku tidak berjuang lebih keras melawan penyakitku. Ketika naskahku untuk jurnal dikembalikan, aku kalah dan menderita karena penelitianku belum mendapat respons yang baik.

Ketika pengajuan beasiswaku tidak lolos, aku kalah dan menderita karena usahaku terasa sia-sia. Ketika mahasiswaku salah mengerjakan tugas yang kuberikan, aku kalah dan menderita karena merasa gagal menjadi dosen yang benar. Ketika tahu kekasihku lebih mencintai mantan pacarnya, aku kalah dan menderita karena belum bisa mengambil hatinya sepenuhnya.

Every Dark Cloud has A Silver Lining

Namun ada idiom Barat yang sangat menginspirasi, yaitu, “Every dark cloud has a silver lining.” Jika diartikan dalam bahasa, berarti setiap awan gelap mempunyai cahaya keperakan. Maksudnya, setiap permasalahan pasti ada solusi atau hikmahnya.

Aku selalu berusaha mengambil solusi dan hikmahnya ketika aku kalah seperti yang di atas tadi. Seperti ketika aku sakit, aku sadar aku harus berhenti sejenak dari rutinitas dengan lebih memperhatikan pola hidup sehat. Ketika naskahku untuk jurnal dikembalikan, seorang teman membesarkanku dengan mengatakan kalau tulisanku bagus sehingga naskah jurnal itu bisa dikirim ke tempat lain.

Ketika beasiswaku tidak lolos, aku kembali mengajar dengan kembali lebih aktif di kampus. Ketika mahasiswa salah mengerjakan tugas, aku lebih mendekati mereka dengan mencoba mengakrabkan diri agar tahu apa maunya dan masalahnya mengapa tugasnya tidak bisa dikerjakan dengan baik.

Ketika tahu kekasihku lebih mencintai mantan pacarnya, aku memilih untuk menepi dari dirinya dan menimbang ulang untuk apa hubungan ini dipertahankan.

Setiap aku mengalami kekalahan demi kekalahan, aku bisa menemukan hikmah atau solusi. Aku merasa lebih hidup dengan lebih banyak belajar dan berusaha sabar. Aku pun merasa aku telah menjadi pemenang. Aku pemenang karena aku bisa menyelesaikan persoalan dan permasalahan dalam hidupku ini.

Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu

Dari negara kita sendiri, kita punya peribahasa yang tidak kalah keren dengan idiom Barat tadi yang bisa diterapkan dalam memaknai kehidupan, yaitu kalah jadi arang menang jadi abu. Arti peribahasa ini, menurut leluhur kita zaman dulu, adalah setiap persaingan, perselisihan, atau pertengkaran, baik yang menang maupun kalah, sama-sama tidak mendapat keuntungan. Intinya, menang dan kalah sama saja.

Menang jadi arang kalah jadi abu, walau secara harfiah artinya sesuatu itu (kayu) yang dibakar itu bisa menjadi arang dan sisanya adalah menjadi abu, aku pun lebih senang mengartikan bahwa menang jadi arang dan kalah jadi abu ini adalah setelah kontestasi segala sesuatunya itu memiliki fungsi.

Dalam versiku sendiri bahwa setelah kontestasi, segala sesuatu itu semuanya berfungsi. Arang itu dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak dan yang abu dipakai untuk mencuci alat masak. Semuanya berfungsi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Sehingga, pada kesimpulanku sendiri, pada kontestasi apa pun dalam hidup ini, semua bisa menjadi pemenang tanpa ada yang benar-benar kalah. Pada setiap pertandingan, baik yang menang maupun kalah punya keunggulan masing-masing, punya levelnya masing-masing.

Kalah-Menang Itu Biasa!

Siapa yang tidak pernah kalah? Siapa yang tidak pernah menang?

Aku yakin, kita biasa dan pernah kalah. Begitu pun sebaliknya, kita biasa dan pernah menang. Tinggal bagaimana kita menyikapi kemenangan maupun kekalahan saja. Ketika kita siap kalah, berarti kita sudah jadi pemenang. Begitu pula ketika kita menang, kita harusnya siap kalah karena susah untuk mempertahankan kemenangan itu sendiri.

Seperti pemenang dalam hidup ini, yaitu kita semua adalah pemenangnya. Kita pemenang ketika kita bisa menahan hawa nafsu; kita adalah pemenang ketika kita bisa bersabar; kita adalah pemenang ketika kita tidak mau membenturkan negeri ini; kita adalah pemenang ketika kita mengakui kemenangan orang lain.

Dan yang terbaik pasti yang menang. Kuncinya, kita mau menjalani hidup dengan bijak, dewasa, dan suportif kemudian berusaha memperbaiki diri untuk memecahkan masalah dengan mental juara yang tahan banting, dan sekuat baja. Mental juara yang menerima semuanya, baik kekalahan maupun kemenangan. 

Sehingga, lahirlah lahirlah mental-mental manusia yang beradab yang akhirnya menciptakan sebuah peradaban. Mengutip kata Buya Ahmad Syafii Maarif, "Kita rindu melihat lahirnya sebuah peradaban dengan wajah asri, anggun, dan adil." Yang pada akhirnya dari mental beradab menciptakan masyarakat beradab kemudian membentuk peradaban bangsa.

Akhirnya, selalu ada sisi positif dari setiap peristiwa negatif yang terjadi dalam hidup kita. Di balik kegagalan ada keberhasilan. Di balik kekalahan ada kemenangan. Sehingga malaikat pun tahu, siapa yang akan juaranya (Dee).

Dan pemenangnya adalah…

(Zuhriah, Alumni Sekolah Buya Maarif, SKK3)