Public Relations
2 bulan lalu · 196 view · 4 menit baca · Ekonomi 50426_93825.jpg
Fieldtrip Qureta-App Sinar Mas ke Desa Delima, Jambi

Dan Lelaki pun Kembali

Saya tidak punya gambaran tentang Desa Delima sebelumnya. Ini kunjungan pertama, dan saya jatuh cinta dengan semangatnya. Ada gairah yang sulit diungkapkan kata-kata.

Debu tebal mengiringi perjalanan kami dari Sei Tapa. Tiga puluh menit lamanya. Dari Jambi bisa 3,5 jam. Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, tepatnya.

Belum terlalu lama menjadi desa mandiri sebetulnya. Pemekaran dari Desa Purwodadi pada tahun 2008, lalu menjadi desa mandiri pada tahun 2011, dan memiliki kepala desa pertama kalinya pada tahun 2016. Suhono, namanya.

Ketika kami sampai di Desa Delima, Suhono sedang ngariung duduk di lantai bersama beberapa warga. Baju safari cokelat khas perangkat desa menempel di badannya. Emblem tertera di saku kanannya. 

“Ayo, masuk, kita ngobrol di dalam,” ajaknya. Padahal kami sebetulnya pengen duduk di lantai saja. Panasnya Jambi terasa mencubiti pipi.

Ditinggal Pemuda Desa

“Dulu banyak pemuda keluar desa ini. Mencari kerja di kota lain. Apa yang bisa diharap dari desa yang tak bisa memberi mereka banyak uang?” ujarnya membuka cerita.

Ini tantangan pertamanya untuk mengelola desa. Ia baru 32 tahun ketika itu. Koperasi desa tak bisa diharapkan. Lalu Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) ditinggal pengelolanya. 

Suhono menyeka keringat. Pengelola periode berikutnya tak aktif. Ah, seandainya ia bisa putus asa.

Apatis

Suhono tak sendiri. Ada Zuvita yang jadi sekretaris Bumdes di periode ini. 

“Saya ingat betul. Warga bilang, buat apa sekolah maha-mahal, jadi sarjana pula kok mau kerja di Bumdes yang tidak ada gajinya? Bumdes itu tidak ada masa depannya,” cerita Zuvita.

Meski banyak dicemooh, tetapi dia terpilih jadi Direktur Bumdes untuk pemilihan pengurus berikutnya. 

“Warga bilang, kalau mimpi jangan tinggi-tinggi. Tidak akan tercapai. Mustahil,” tambahnya. 

Otaknya terus bekerja. Untunglah aparat desa banyak mendukungnya.

Bantuan sapi dari Wirakarya Sakti, perusahaan yang  paling dekat dengan desa, dimanfaatkannya sungguh-sungguh. Ada MoU dengan kelompok tani yang menerima. 

“Supaya tidak hanya sekelompok warga yang menerima, tetapi kelompok tani lainnya juga bisa mendapatkan gilirannya,” jelasnya. 

Kesepakatan dengan warga ini menjadi kunci transparansi. Dua puluh ekor kini sudah berkembang jadi 200 ekor.

Kotoran sapi menumpuk. Hijauan daun banyak. Kompos jadi pilihan usaha. Pemuda berlomba mendaftar bekerja. Dari 5 orang awalnya jadi 80-an orang saat ini. Perempuan pun tak mau ketinggalan.

Lahan Desa

Di sekitar kantor desa, lahan masih luas. Kompos dibuat di lahan warga yang memiliki sawit. Di samping kiri kantor Suhono. Di depannya, dibuat untuk cocok tanam warga. 

Holtikultura jadi andalan juga: kacang panjang, terong, dan cabai. Kurang dari 0,5 hektar luas lahannya, panennya lumayan. Kacang dan terong masing-masing menghasilkan 900 kilogram. Per kilo kacang  6-7 ribu, sedangkan terong Rp5000. Dari satu kelompok tani, kini sudah jadi dua kelompok. 

“Saya ingin terong jadi andalan holtikultura desa ini,” ujar Zulvita. 

Sayur-mayur ini tak perlu dijual jauh-jauh, warga bersuka cita membelinya. Pasar desa juga kelimpahan hasilnya. Kini, pare dan timun sudah mulai menghias lahan pula.

Bumdesmart

Kalau di kota, dengan mudah kita menemukan Alfa Mart dan Indomaret, kelontong dengan dagangan lengkap ini sulit dijumpai di areal rural seperti Desa Delima. Ini yang membuat pengelola Bumdes sepakat mendirikan toko sendiri, Bumdesmart mereka sebut. 

Minuman kemasan tampak menumpuk di depan toko. Menilik ke dalam, ada beras dalam karung-karung besar tertata rapi. Juga berbagai kebutuhan sehari-hari. 

“Apa yang dibutuhkan warga ada di sini,” ujar Suhono.

“Mereka memang punya pilihan untuk beli di tempat lain, meski itu jauh. Tetapi kalau beli di usaha milik Bumdes, di akhir tahun ada yang diharapkan, yaitu sisa hasil usaha yang bisa dibagi. Sedangkan di toko modern, hal seperti ini tentu tidak akan terjadi,” jelas Suhono.

Ia ingin segala kebutuhan warga bisa dicukupi oleh Bumdes. Dari satu toko, kini sudah berkembang jadi dua. Pun ada depot isi ulang air.

Bumdesmart ini tahun baru untuk warga. Baru dibuka Januari lalu. Dari awal tahun hingga kini omzet dua tokonya sudah lebih dari 28 juta, karyawannya 7 orang. 

Kios-kios lain yang berderet di sebelah Bumdesmart juga milik Bumdes bangunannya. Kios lain disewakan dan jadi pemasukan untuk Bumdes.

“Kami belum membuat survei dengan sungguh-sungguh apakah kesejahteraan warga meningkat dengan berbagai usaha Bumdes ini. Tetapi yang terlihat dari pandangan mata, dulu yang kesulitan bayar sekolah kini sudah tak ada lagi. Yang tak punya kendaraan, kini sudah mampu membeli,” ujar Suhono.

Suhono dan Zuvita ulet melihat kemampuan warga. Mereka yang bisa kerja dibengkel, dimaksimalkan. Mesin pencacah janjangan sawit bisa dibuat. Mesin chopper mereka sebut. 

“Kami juga mampu membuat bak mobil juga sebetulnya,” ujarnya tanpa kesan ingin sombong.

Kembali

Zuvita menambahkan, berkali-kali ia mendengar warga berkomentar sekarang tak perlu jauh-jauh cari kerja ke kota. Pelan-pelan, pemuda tak lagi hilang dari desa ini. Ia senang. Desa jadi kembang, yang menarik kumbang pulang kembali.

“Kalau Bumdes berhasil, yang bangga tentu warga desa. Ini kebanggaan kami semua,” jelasnya.

Zuvita dan Suhono sadar, warga tak akan tertarik bekerja di Bumdes kalau hasilnya tak nyata. Ketika satu kelompok berhasil, tak perlu mereka merayu warga untuk mengikuti jejaknya.

Melihat geliat warga, wajar, kan, cinta saya jatuh di Delima?