Bryan akhirnya tidak sabar untuk segera menemui sahabat lamanya di Georgia. Mencicipi makanan seafood yang disuguhkan sambil mengenang masa-masa sekolah bersama Tasya.

Dalam kendaraan pribadi, ia sengaja menyetel alunan musik country milik Tailor Swift. Lagu favoritnya itu turut menemani kesendiriannya membelah kota metropolis malam itu. Ia sungguh menikmati, terlihat dari jemarinya yang bergerak mengikuti tempo seolah sedang menekan keyboard piano.

Perjalanannya itu terasa lebih menyenangkan, sebab ia membawa bekal ingatan dari Australia 3 hari lalu saat merayaan kelulusan Renata. Dan juga sebentar lagi ia akan mengadakan reuni kecil bersama sahabatnya setelah berpisah cukup lama.

"Hello, where are you? Now, I am in the Wells Fargo Bank area," kata Bryan mengonfirmasi bahwa dirinya telah memasuki wilayah Georgia. 

Setelah diberi tahu oleh Tasya mengenai nama restorannya, Bryan pun mulai celingukan mencari tempat yang di maksud sambil memperlambat laju kendaraannya.

Tiba di depan restoran mewah, Bryan mulai mencocokkan alamat yang dikatakan sahabatnya itu dengan tulisan merah menyala sebagai penanda tempat itu.

"Betul, ini dia tempatnya," kata Bryan dengan suara lirih.

Matanya melirik area parkiran yang sesak. Berharap dapat menemukan ruang untuk mobilnya berhenti sejenak. 

Setelah memarkir dan mematikan mesin, Bryan mulai merapikan rambutnya yang dikuncir bergaya top knot kemudian melangkah masuk.

Perempuan berwajah tirus bermahkota rambut cokelat keemasan menyambutnya dengan senyum lepas sebelum langkahnya berhenti melewati meja-meja yang tertata rapi.

"Have a seat, sir,sambut Tasya setelah menarik kursi di sebelahnya.

"Hemm.. thanks," jawab Bryan dengan senyum seperlunya menjawab Tasya saat diperlakukan bak seorang pesohor yang baru tiba.

"Are you still fluent in Indonesian?" Bryan mulai membuka percakapan.

"Of course, aku masih bisa. Dan aku suka bakso, nasi goreng. Hehehe." Tasya membuktikan keraguan Bryan mengenai kemampuannya menggunakan bahasa Indonesia karna dirinya mengaku sudah cukup lama menetap di negeri Paman Sam.

"Hehehe." Bryan tak sanggup menyembuyikan tawa ketika Tasya meniru ucapan mantan presiden Barack Obama, sampai-sampai pengujung lain kompak memandang heran ke arah mereka.

"Oh yah, Sya (Panggilan Akrab Tasya). Kemarin di bar kenapa kamu bisa menolong saya?"

"Ohh... Bukannya dari dulu aku sering menolong Kamu waktu SMA, mengerjakan tugas Bahasa Inggris?"

"Ahh, Kamu ini. Saya serius bertanya kenapa di alihkan lagi ke sana."

Bryan larut dalam guyonan sahabatnya itu sampai-sampai lupa memesan makanan seperti yang di fikirkannya sesaat setelah meninggalkan apartemennya di Charlotte.

"Waktu itu, aku frustasi, fikiranku kacau setelah mengetahui Alex selingkuh dengan seorang model dan meninggalkanku." Tasya mengulas kisah masa lalunya pada Bryan dan menjelaskan alasan keberadaanya di bar malam itu untuk sekedar mengurai kekalutan fikirannya.

"Sorry, sorry, saya tak bermaksud mengulit kenanganmu."

"Jam berapa sekarang, malam ini saya harus pulang lebih cepat karna besok ada agenda penting di kantor." Bryan melirik lengannya padahal ia sebetulnya ingin mengalihkan pembicaraan.

"Restoran kamu luar biasa, saya merasa senang berada di tempat ini." Tatapan Bryan mencoba menjelajahi desain interior yang menampilkan kesan modern industrial di balut furnitur kayu gelap yang ada, menambah nilai estetika di matanya.

Setelah perbincangan usai, Bryan meminta untuk kembali ke apartemen  dan juga berjanji pada Tasya bahwa setiap ada kesempatan, ia pasti akan datang.

****

Setelah menyelesaikan gelar magisternya, Renata kini berada di Indonesia dan menjadi dokter kontrak di salah satu rumah sakit umum swasta di Jakarta.

Berselang 2 hari saat kembalinya Bryan ke Amerika lantaran di buru pekerjaan, Renata pun turut meninggalkan Australia. Wanita bermata sipit itu terpaksa harus kembali meredam rindu saat ribuan kilometer tak mampu di pangkas oleh kekuatan asmaranya.

Memasuki bulan pertama bekerja, Renata mulai beradaptasi dan mengenal banyak dokter spesialis di sana. Berbekal  keahlian di bidang penyakit jantung serta lulusan luar negeri, direktur rumah sakit mulai melirik kinerjanya yang disiplin.

"Dokter Renata." Panggil seseorang di  balik pintu ruangannya.

"Iya, silahkan masuk!" Sambut Renata  sembari memandang wajah perawat itu sedang memeluk map abu-abu di dadanya.

" Maaf dok, di panggil Pak Rusdi (Direktur Rumah Sakit) ke ruangannya sekarang."

"Baik. Tapi soal apa yah?" Jawab Renata heran. Biasanya jika ada pertemuan musti di jadwalkan terlebih dulu.

"Tidak tahu dok, saya hanya di tugaskan untuk menyampaikan." 

"Ok. Saya akan segera kesana."

Setelah perawat itu keluar dari ruangannya, Renanta mulai memainkan pulpen di jemarinya menyerupai seorang drumer sedang memelintir stik, ia berupaya menerka maksud panggilan itu.

"Sebaiknya aku telfon Bryan dulu, mungkin dia belum tidur jam segini." Ucap Renata dalam hati.

Berkali-kali  ingin mencoba menyambungkan namun tetap tidak ada respon dari Bryan di Amerika. Renata pun berfikir untuk menghubunginya di lain waktu lantaran ia tidak ingin direktur rumah sakit menunggu terlalu lama.

"Permisi pak." Kata Renata ketika berada di hadapan pimpinannya itu.

"Oh, iya. Silahkan duduk dok." Sambut pak Rusdi sembari meletakkan koran bacaan yang menutupi wajahnya.

"Setelah saya melihat integritas anda, saya berharap anda bisa menjadi dokter tetap di rumah sakit ini." Tambah lelaki berkumis tebal itu.

Belum sempat Renata menjawab, seorang pria berkarisma tiba-tiba muncul menghampiri mereka.

"Selamat datang pak, oh yah dokter, ini pak Alamsyah, dia juga pemilik saham di rumah sakit ini." Pak Rusdi menjelaskan setelah beranjak dari kursi.

Wajah lelaki itu terlihat memandangi Renata penuh arti. Dalam hati, Renata merasa risih di pandang dengan durasi yang lama. Sekilas, Usianya mungkin tak berbeda jauh dari Bryan, hanya saja dalam pertemuan itu, Renata telah menyimpulkan jika dia adalah seorang lelaki genit.

****

Cahaya gemintang memoles syahdu cakrawala, hembusan angin malam berharap menenduh jiwanya. Renata yang hanyut dalam bukit lamunan, kembali mencoba mengabari Bryan, kekasihnya, tentang sebuah kabar gembira.

"Aku sekarang jadi dokter tetap di Rumah sakit itu." Ucap Renata riang kala menelfon Bryan.

"Ohh yah, selamat sayang. Saya turut bergembira dengan berita ini."

"Jadi bagaimana dengan rencana pernikahan kita? kapan pulang ke Indo?" Tasya kemudian menagih janji Bryan waktu itu.

"Emm... Mungkin, menjelang Natal nanti. Sudah dulu yah. Aku mau ke Gastonia, ada urusan mendadak di sana."

Malam itu, Renata sedikit bersedih lantaran sikap Bryan seolah terfokus dalam pekerjaan hingga tak punya waktu untuknya berbincang lebih lama . Namun begitu, hatinya tetap berkata jika apa yang di lakukan Bryan, juga demi masa depan mereka kelak.