Pemerhati Kamu
6 bulan lalu · 16 view · 4 menit baca · Cerpen 46909_92917.jpg
Foto: Lady in rain ron woodbury dari pixel

Kebencian yang Disombongkannya
Cerita Nakula dan Lati (ii)

“Kamu sudah pergi dan menemukan yang kamu bilang memberimu kebahagiaan?”

Nakula kini tampak menjadi lelaki yang selalu sinis. Dia mudah meledak-ledak marahnya. Nakula adalah lelaki yang terluka. Kini dia merasa lebih baik gila. Dia kehilangan cara berbaik hati kepada Lati, perempuan yang sebenarnya masih diinginkannya di dalam palung hatinya.

Lati tidak mengelak. Dengan tegas, dia menjawab. “Iya aku menemukan. Sudah menemukan.”

“Lalu untuk apa kau masih mengusik kehidupanku dan membatasi langkahku?”

Lati menarik nafas. Dia hendak mengendalikan dirinya dari kuasa marah yang bisa merusak keinginannya untuk mengatakan sejujurnya.

Lati berhasil. Kini perempuan itu jauh lebih tenang.

“Nakula, dengarkan aku.”

Nakula merasa tak perlu untuk mendengarkan apapun. Dia ingin merawat kebencian. Sedang mendengarkan apapun dari Lati bisa merusak kebencian yang dia inginkan.

Aku tak boleh menjadi pembenci yang buruk, pikir Nakula.

“Tolong, dengarkan aku”, sekali lagi perempuan itu meminta.

“Basa-basi apa yang ingin kamu katakan?”

“Tolong, Nakula. Pikirkan ini dengan tenang. Kebencian yang kita rawat, tidak akan memberi apa-apa kepada kita. Tidak akan”.

Nakula tak menghiraukan permintaan Lati. Sebaliknya lelaki itu menatap tajam dan mengatakan dengan keras:

“Kamu pernah bilang: buatlah kebencian dan itu cara terbaik untuk saling meninggalkan”.

Lati ingin menghindari pertengkaran. Dia mulai menyadari beberapa yang dikatakannya di waktu yang lalu tak selalu benar di hari ini. Daya tahan sebuah kata-kata diuji oleh waktu. Dan ia merasakannya: waktu itu, kata-kata itu serasa benar menurutnya. Saling merawat kebencian adalah baik untuk saling melupakan. Tapi ternyata itu adalah ucapan yang tak sepenuhnya tepat. Melalui pengujian waktu, dia menjadi mengerti: terus-menerus bersikap marah dengan mencampakkan kejujuran adalah sesuatu yang tidak baik.

“Aku membaca cerita ‘dialog-dialog kecil tentang cinta dan perpisahan’ dan aku merasakan perih. Cerita itu begitu jujur. Dan aku merasakan betapa kau menulisnya dengan melibatkan perasaanmu yang terdalam.”

Nakula bereaksi dan tertawa. Lalu dia bergerak menatap mata perempuan itu. Dia mengatakan dengan suara yang terdengar seperti sebuah bisikan.

“Dengarkan aku, Lati. Aku hanya tukang khayal. Aku merangkainya dari segala imajinasi. Jika cerita itu terdengar begitu dramatis dan menggugahmu, aku bahagia. Setiap tulisan yang dirasakan oleh pembacanya dengan begitu dalam selalu terdengar menyenangkan bagi penulisnya. Aku mendengarmu seperti sebuah sanjungan.”

“Aku tidak sedang menyanjungmu. Aku sedang berbicara jujur tentang diriku dan aku mengatakan ini padamu”.

“Tempatkan fiksi sebagai fiksi. Khayalan tetaplah khayalan. Bualan tetaplah bualan. Dan tukang khayal sepertiku tak perlu kamu terima dengan caramu yang jujur. Itu tidak adil.”

Suara Nakula kian meninggi. Ada ketegangan dalam tuturannya. Ada sesuatu yang membuat perempuan itu mengerti untuk tak perlu meneruskannya lagi.

Percuma kejujuran berhadapan dengan kebencian. Perempuan itu merasa tak perlu membantah meski dia tahu lelaki itu sedang bersikap salah. Dia merasakan ada sesuatu yang lain di balik kebenciannya. Tapi biarlah waktu yang menguatkannya.

Keduanya kini terdiam. Seonggok keangkuhan masing-masing menjadi pagar perjumpaan.

*

Nakula masih mengenangkan ucapan terakhir Lati sekali waktu

“Aku telah memilih dia”.

Di belakang rumahnya, Nakula memandang langit malam sebuah kampung. Malam yang akan ditinggalkannya untuk kembali ke kota. Di tangannya lima kertas warna-warni berisi kata-kata indah dari Lati di masa lalu. Sebuah perhatian-perhatian sederhana yang diabadikan lewat tulisan. Nakula memperhatikan kalimat-kalimat itu. Keindahan yang diukir oleh kata-kata itu terasa di hatinya.

Tapi kini tulisan-tulisan tak lagi terasa sebagai kebahagiaan. Kalimat-kalimat itu seperti penjara. Bila ia simpan, masa lalu hanya akan datang dan terus menyapanya.

Dirobeknya kertas-kertas itu. Dia lemparkan potongan-potongan yang sudah tak lagi terbaca ke selokan. Robekan-robekan surat itu telah mengalir dan tenggelam di aliran air selokannya. Dalam sebentar, Nakula lega. Dia tak kan lagi terusik oleh surat-surat itu.

Kini dia telah berpamitan dan mulai berangkat pergi.

Sepanjang jalan, bayangan-bayangan perpisahan seperti kian dekat. Nakula akan bertemu perempuan itu sebagai perjumpaan terakhir di sebuah kota. Di kota itu, dia akan bertemu dengan senyum yang indah tapi tak akan dimilikinya selamanya. Di kota itu, orang-orang berbahagia dengan kekasihnya. Tapi Nakula membayangkan sebuah kepedihan. Boleh jadi dia akan menggenggam tangannya, mencium keningnya dan bercerita banyak hal tentang sebuah kota yang mempertemukannya sebelum perpisahan.

Boleh jadi mereka akan berjalan kaki sepanjang tempat-tempat yang indah di kota itu. Mereka berdua bakal menikmati kendaraan tradisional andong. Mereka akan tertawa di atas becak. Mereka akan menikmati suasana malam yang indah. Mereka akan menikmati duduk di warung-warung lesehan di lokasi-lokasi wisata. Saat duduk, mereka bisa menyaksikan para pengamin jalanan mendendangkan lagu-lagu romantis. Mereka mungkin akan meminta salah seorang pengamen untuk menyanyikan lagu kesukaan mereka. Ah bermacam-macam lagu yang mereka suka. Bermacam lagu pengobar derita.

Tapi perpisahan adalah cerita lain yang bakal mengakhiri keindahan kota itu. Mereka akan mengakhiri dengan cara baik-baik: saling memberi jalan untuk pergi dan mengakhiri.

Nakula akan menyaksikan tangis terakhir yang bakal pecah dari sepasang mata Lati. Tangis yang hanya akan mengalir malam itu untuk melepaskan beban berat perpisahan. Tapi Nakula bersumpah untuk tak akan menangis. Dia tahu air mata bukan jalan yang baik untuk perpisahan. Naukal adalah seorang lelaki yang pantang satu tetes pun. Egonya terlampau tinggi untuk menangis. Jika harus lebih lama menanggung beban perih di hati, itu akan lebih baik daripada menangis.

Nakula telah sampai di terminal Purabaya. Dia menepi ke sebuah warung makan. Sambil menunggu hidangan, sebatang rokok dia nikmati.

Malam itu, Nakula tak bisa tidur. Dia telah menunggu dan mempersiapkan diri untuk perjalanan kereta api nanti jam 10 pagi menuju kota perjumpaan sebelum perpisahan.

Bersambung… ke cerita bagian tiga