"Kita mungkin dapat melawan hukum buatan manusia, tetapi tidak akan menang melawan hukum alam." ~ Jules Verne

Inilah perbedaan pandangan antara dua novelis dunia; Dan Brown dan Jules Verne. Keduanya jelas beda generasi. Namun, sama-sama mengusung genre fiksi ilmiah. Jules Verne masih mengakomodasi tradisi, sedang Dan Brown meloncat terlalu tinggi melampaui kemampuan ilmu yang dimilikinya.

Nilai-nilai muatan lokal, seperti keunikan Pelabuhan Nantes, Prancis, yang menjadi urat nadi eksplorasi tulisannya. Adapun Dan Brown, tenggelam dalam putaran elite Pentagon ataupun kebesaran Langley, sarang CIA.

Ketika Dan Brown serius memaksakan perpaduan antara prinsip Kabbalis esoteris dan teknologi empiris; sebaliknya, Jules Verne mampu memberikan paradoks tulisannya dalam humor satire dan ironi yang menggelitik dengan menghadirkan tokoh komikal Passepartout dalam novel Around the Word in Eighty Days & Five Weeks in a Balloon yang sudah diadaptasi ke film layar lebar dan serial TV itu.

Novel tersebut bercerita tentang petualangan mengeliliingi dunia selama 80 hari oleh Phileas Fogg, dengan rute: London-Suez- India-Hongkong -Yokohama-San Francisco-New York-London.

Selain mengangkat muatan lokal kota-kota yang dilalui tersebut, Jules Verne menghadiran satire terhadap kebobrokan polisi dalam tokoh detektif yang bernama Fix; yang terus-menerus membuntuti Phileas Fogg dengan segala keculasannya. 

Jules Verne menggunakan benteng satire sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap tuntutan presisi pada wacana empirisnya.

Modernitas revolusi Indutri Prancis yang berdampak industrialisme, globalisasi, kapitalisme, dan berbagai hal yang berkaitan dengan majunya teknologi, ilmu pengetahuan saat itu, mampu disajikan oleh Jules Verna tanpa ngotot menciptakan tensi fiksi ilmiah yang berlebihan.

Masuknya modernitas dan bertahannya tradisionalitas ditandai dengan adanya negosiasi tertentu. Tradisionalitas akan tetap bertahan di zaman modern berkat beberapa penyesuaiannya. Inilah fokus eksplorasi Jules Verne dalam novel tersebut. 

Jules Verne mengangkat tradisionalitas penggunaan kapal laut, gajah, dan alat angkut tradisional lainnya sebagai sarana transportasi dalam mengelilingi dunia. Padahal, bisa saja Jules Verne memperbanyak penggunaan balon udara dalam ekspolaris ceritanya.

Penggambaran detail luar biasa terhadap keadaan sekitar dan hitungan matematis menjadi ciri khas karya-karya Verne. Dengan gaya penulisan ini, ide-ide Jules Verne menjadi tonggak pengembangan teknologi balon udara di kemudian hari.

Sistem mekanika dan termodinamika balon udara Montgolfier dan Garneri yang masih sederhana menjadi ajang bedah teknologi pada novel Jules Verne. Berkat inspirasi novel tersebut, akhirnya lahirlah teknologi balon udara yang bermesin dan berkemudi oleh Ferdinand von Zeppelin.

Jules Verne tak segan-segan membuat dahi pembacanya terus berkernyit memikirkan alur perhitungan matematis dan rumus lainnya, semisal: rumus gaya angkat balon, hukum Newton III, hingga perhitungan Archimedes.

Oleh karenanya, Jules Verne disebut sebagi “Bapak Cerita Fiksi Ilmiah”. Jules Verne diibaratkan seorang penulis yang telah mampu mendahului zamannya, karena dalam karya, beliau bercerita bahwa manusia dapat berkeliling dunia dalam waktu 80 hari, sesuatu yang mustahil dengan teknologi transportasi pada zaman itu.

Walaupun novel ini dibuat pada tahun 1873, Jules Verne bisa menyajikan kisah dan teknologi yang sudah modern pada masanya. Penggambaran teknologi balon udara yang berkemudi dan bermesin ala Jules Verne terbilang relevan dengan ide pengembangan zaman berikutnya.  

Inilah yang disebut dengan “fakta mendahului fiksi”, sedang Dan Brown tetap pada arena umumnya, yaitu “fiksi mendahului fakta”. Dan Brown tidak menginspirasi penemuan teknologi baru sedikitpun. Dan Brown terlalu tenggelam dalam keasyikannya sendiri; yaitu main teka-teki ala anak SD.

Teknologi yang dihadirkan pada novel "Deception Poin" tidak mempunyai runut pengembangan ide yang relevan. Sebagai contoh, MEMS (Micro Electro Mechanical System) dengan robot mikrokospis model PH2 yang berbahan bakar medan magnet adalah sesuatu yang terlalu mengada-ada.

Dan Brown tak pernah berani menghadirkan perhitungan-perhitungan matematis yang sederhana sekalipun. Robot mikro PH2 hanyalah main comot dari robot mikro Black Hornet rancangan Android Tactical Assault Kit (ATAK) yang sekarang dipergunakan militer AS untuk menyajikan jaringan medan pertempuan dan mendistribusikan informasi.

Jules Verne mampu memegang prinsip karya seni dan teknologi sebagi “tiruan dari tiruan” (mimesis-memeseos) yang pernah disebut-sebut oleh Plato tentang karya seni dan teknologi sebagai sesuatu yang menirukan sesuatu lainnya di dunia ini; yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia ide.

Sedang Dan Brown, mempunyai naluri menciplak tinggi untuk urusan modifikasi dan ide teknologi dalam tulisan-tulisannya. 

Novel “Deception Point” yang mengangkat tema tentang pemilihan Presiden di Amerika Serikat itu tak lebih dari sebuah kasus biasa dan pada umumnya terjadi dalam persaingan politik yang penuh dengan desepsi (tipu muslihat). 

National Reconnaissance Office (NRO) atau badan intelijen Amerika yang bertugas memastikan superioritas informasi Amerika Serikat di tingkat global hanyalah sebagai bahan untuk sembunyi dalam tuntutan menghadirkan presisi fiksi ilmiahnya.

Untuk urusan format dan konsep sekularisme, keduanya berawal dari titik yang sama. Baik Dan Brown ataupun Jules Verne, keduanya mengusung konsep perkumpulan intelek untuk mengembangkan alur ceritanya.

Jules Verne mengandalkan perkumpulan ilmiah Reform Club London. Sedangkan Dan Brown mengandalkan Dante Club yang mistis sekaligus reformis.

Keduanya sama-sama mengobral hal berbau Masonis dan iluminatis. Ini adalah hal yang wajar ketika berhadapan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Baik Masonis dan Iluminatis adalah pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karya sastra sebagai situs hegemoni tak pelak akan selalu menampilkan berbagai ideologi yang ada di dalamnya. Ideologi tentang perbedaan ras, beserta konteks sosial politik yang melatarbelakanginya.

Dengan menggunakan perspektif hegemoni, kedua penulis ini ingin mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah seni kehidupan yang tak berjenis kelamin dan tak beragama. Siapa pun boleh dan bisa menikmati tanpa adanya diskriminasi apa pun dan dari siapa pun.