Intan masih saja duduk sambil menangis. Air matanya telah menghabiskan beberapa tisu untuk menyekanya. Sambil memandang ke luar jendela ia terus teringat kata-kata ibunya.

"Jangan membawa teman laki-laki ke rumah, itu tidak baik," jelas sekali kalimat itu terdengar dan masih terngiang di telinganya.

Bagi intan itu adalah larangan yang tak beralasan karena berteman tak harus membedakan lawan jenis. Semua sama,  apalagi di era persamaan gender seperti sekarang ini. Laki-laki perempuan sama derajatnya.

Keakraban dua orang yang berlainan jenis bukan serta merta harus dianggap sebagai hubungan sebagaimana orang berpacaran. Dan seharusnya memang begitu. Perbedaan lawan jenis tak melulu soal hati jika harus akrab satu sama lain. Kan jatuh cinta tidak karena akrab. Ada juga jatuh cinta karena pandangan pertama bukan lantaran tiap hari akrab berteman.

Dalam lingkungan keluarganya,  berpacaran memang suatu hal yang tabu. Bagi mereka  pacaran hanya akan mendekatkan pada perbuatan dosa. Bagi keluarganya berpacaran identik dengan cara berhubungan yang tidak sehat karena menggiring untuk interaksi fisik antara laki-laki dan perempuan. Ujung-ujungnya zina begitu ibunya pernah.mengatakan

"Bukankah sudah banyak diberitakan bagaimana hubungan sex di luar nikah ujung-ujungnya yang rugi perempuan juga?" ibunya memberi pengertian.

"Aku bisa menjaga diri, bu...aku sudah besar dan tahu batasan-batasan mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang," Intan membalas pernyataan ibunya saat itu.

Batasan yang diperlakukan padanya membuat Intan seringkalli ingin memberontak. Ia ingin dihargai sebagai perempuan dewasa, ia sudah mampu menjaga kehormatan keluarga. Baginya berteman dengan laki-laki adalah lumrah sebagaimana berteman dengan teman perempuan. Hidup bukan melulu soal sex dan gairahnya.

Di era modern ini, ia menganggap apa yang dilakukan oleh keluarganya terlalu kaku dan tak sesuai zamannya. Mereka terlalu konservatif dan memiliki phobia luar biasa soal hubungan lelaki dan perempuan yang belum menikah.

Ibunya, terutama, sebagai wanita  single parent, seolah tahu bagaimana watak lelaki. Mungkin di matanya semua lelaki sama seperti suaminya yang telah tega pergi meninggalkan ia dan Intan. Lelaki itu telah membuatnya menyadari ketidakbermanfaatan sebuah pacaran.

***

Pak Hardi adalah lelaki yang sukses dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai mandor bangunan membuatnya mapan secara finansial. Bu Nurti, sangat menikmati hidup bersama Pak  Hardi. Selama lima tahun mereka rukun hingga pada suatu pagi yang tak diharapkan semua menjadi berantakan.

Pagi itu ia iseng mengangkat telp milik Pak Hardi, yang kebetulan sedang mandi. Tak dinyana ada suara perempuan di sana yang berbicara dan menyapa, "Sayang.."

Bu Nurti langsung menutup telp. Hatinya dibakar cemburu. Kalap. Tanpa berfikir panjang  ia langsung menginterogasi Pak Hardi. Mereka saling bertengkar hebat. Saat itu Intan masih duduk di kelas enam sekolah dasar dan masih belum mengerti mengapa bapaknya meninggalkan rumah sambil marah-marah. Sejak itu bapaknya tak pernah kembali. Hiingga detik iini, saat Intan memasuki bangku kuliah Pak Hardi tak pernah kembali

Sore itu, jingga masih terlihat di ufuk barat. Rumah mereka memang menghadap pantai dan berdua mereka selalu menikmati pemandangan sore hari dengan bercengkerama bersama.

Intan dan ibunya duduk berdua di teras rumah. Keduanya biasa menikmati warna jingga senja berdua di teras sambil ngobrol tentang banyak hal. Tentang hidup yang penuh kejutan kejutan dan segala yang remeh-temeh di sekitarnya.

Terkadang tentang bagaimana suasana di tempat kuliah dan kadang pula tentang pekerjaan ibunya sebagai penjahit. Tak jarang ibunya bercerita tentang masa lalunya. Satu hal yang pasti mereka jarang mengomongkan urusan tetangga.

"Intan, Aku dan bapakmu dulu juga berpacaran. Lebih dari tiga tahun kami berpacaran," ibunya berkisah sore itu. "Lihatlah apa yang ibu dapatkan dari pacaran kami, toh ini tidak bisa mempertahankan bapakmu yang pada akhirnya lari dengan wanita lain," ibunya melanjutkan.

Rentang lama tidaknya sebuah pacaran tetap tak akan mampu untuk memahami satu sama lain.  Intan berkecamuk dalam hati. Kemudian ia meberanikan dirinya untuk bertanya

"Apakah itu yang mendasari ibu untuk melarang saya berpacaran?"

"Iya, meski begitu lama waktu yang di  jalani seseorang dalam  berpacaran  tetap tak akan mampu membuat lelaki memahami wanita dan aku inilah buktinya," terang ibunya.