Perkembangan globalisasi hari ini telah melahirkan banyak hal dalam kehidupan manusia, baik domestik maupun dunia internasional. salah satunya adalah pembangunan yang secara umum pembangunan diartikan sebagai usaha menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik.

Menurut Alexander - 1994, pembangunan sebagai sebuah proses perubahan yang mencakup seluruh tatanan/system sosial. seperti infrastruktur, ekonomi, politik, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan dan budaya. Sedangkan menurut Portes - 1976, memiliki definisi sendiri tentang pembangunan yaitu, sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya.

Awal mula kemunculan pembangunan sendiri sudah dikenal sejak tahun 1948 yang dikembangkan melalui ilmu psikologi, di Bagota, Kolombia. Selain itu, kemunculan teori pembangunan ini juga digunakan untuk menjelaskan tentang perubahan yang dialami oleh negara-negara barat (Eropa) dan negara-negara dunia ketiga dijadikan sebagai tolak ukur atas perubahan yang terjadi saat itu.

Study kasus : Hutan Hujan Amazon Brazil

Isu lingkungan adalah salah satu isu yang paling sering disoroti dunia internasional. Hal tersebut berjalan demikian karena lingkungan mempunyai peranan penting dalam keberlangsungan mahluk hidup (manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan). dengan kemampuan menyerap oksigen yang sangat besar, hutan Amazon merupakan salah satu hutan yang sering disoroti oleh dunia internasional karena pengaruhnya yang dapat menyimpan CO2 dengan jumlah yang sangat besar.

Etnis atau suku-suku yang tinggal di kawasan hutan amazon ini adalah penghuni tetap yang sudah sejak dulu menempati kawasan hutan dan belum terjamah dari dunia luar. akan tetapi seiring berkembangnya zaman, kehidupan etnis/suku-suku ini mulai diganggu dengan pembukaan lahan yang dilakukan oleh pemerintah untuk membangun infrastruktur dan lain-lain. pembukaan lahan yang dilakukan ini tidak lain adalah karena pengaruh globalisasi yang menuntut negara-negara berkembang untuk mengikuti gaya hidup negara-negara maju (Pengantar Studi HUBUNGAN INTERNASIONAL).

Sebagai salah satu negara terbesar di benua Amerika Selatan, Brazil memiliki luas wilayah yang lebih banyak adalah kawasan hutan hujan tropis. Kawasan hutan ini kemudian dikenal dunia sebagai paru-paru dunia karena dengan luas hutan yang begitu besar, hutan ini mampu menyerap CO2 (karbon dioksida) yang begitu besar.

Pada tahun 2010 sampai 2019 lalu, hutan amazon berhasil mengeluarkan CO2 sebanyak 16,6 miliar ton, sementara jumlah yang diserapnya hanya sebanyak 13,9 miliar ton CO2. dari uraian di atas bisa dilihat dengan jelas bahwa Hutan Amazon merupakan salah satu hutan yang sangat berperan penting atas kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Pembangunan yang lahir dari proses globalisasi hari ini kemudian dijalani oleh negara maju maupun negara berkembang yang secara terang-terangan mengeksploitasi hutan (lingkungan). Sejalan dengan yang dikritisi oleh "Jurgen Habermas", yaitu; masyarakat dikelompokkan dalam bentuk hubungan antara “State – Economy” dan “Culture”, di mana hubungan antara State dan Economy disebut sebagai System dan Culture sebagai Life World.

Dalam praktiknya, Sistem yang di dalamnya ada “State dan Economy” dipersatukan dalam suatu rasionalitas kuantitatif. sedangkan Life World yang di dalamnya ada “Culture” dibedakan Habermas sebagai rasionalitas komunikatif/kualitatif yang isinya adalah kesepakatan kultural atau etika.

 Habermas melihat krisis yang terjadi dimasyarakat dikarenakan rasionalitas sistem yang sifatnya kuantitatif dipaksakan masuk ke dalam rasionalitas kualitatif “Life World”.

Dari apa yang dikritisi Habermas, jika dilihat melalui kacamata Ekonomi Politik Internasional maka, negara berkembang tidak memiliki cukup kekuatan untuk menekan ukuran kesejahteraan menurut negara maju (industrialisasi dan pembangunan) yang dilihat sebagai tolak ukur kesejahteraan suatu bangsa.

Industrialisasi dan pembangunan yang lahir dari proses globalisasi, ini secara tidak langsung memaksa negara-negara berkembang untuk mengikuti gaya hidup negara maju yang mengarah pada eksploitasi lingkungan oleh negara dan akan berdampak pada kerusakan lingkungan yang akan membawa bencana bagi kehidupan makhluk hidup.

Solusi

Upaya pencegahan:

Hutan Amazon yang dikenal dunia sebagai paru-paru dunia hari ini, tengah menuju ambang kehancuran karena kebijakan deforestasi dari pemerintah setempat. Yang dapat mengancam kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Sehingga jika hal tersebut tidak segera di tangani maka awal kehancuran umat manusia dan makhluk hidup telah dimulai.

 

Untuk mencegah kerusakan lingkungan yang terjadi, penulis ingin menawarkan teori Ethonodevelopment sebagai salah satu upaya pencegahan kerusakan lingkungan yang terjadi (hutan hujan Amazon-Brazil). Mengingat pembangunan dan kerusakan lingkungan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

"Ethnodevelopment" pertama kali dikemukakan oleh Rohini Talalla dalam salah satu karyanya yang berjudul “Ethnodevelopment and The Orang Asli of Malaysia” 1980.

Secara umum teori Ethnodevelopment dimaknai sebagai pendekatan yang menempatkan budaya sebagai pusat dari perencanaan pembangunan. khususnya diwilayah pedesaan (pedalaman). Dalam praktiknya teori ini digunakan untuk menghapus segala bentuk diskriminasi rasial ethnocide dan sisa-sisa kolonialisme

Pendekatan ini menunjukan bagaimana budaya tradisional, teknologi, pengetahuan dan kemampuan organisasi berperan untuk membentuk sebuah proses pembangunan yang berkesinambungan (ecologically sustainable development) yang menjadi tujuan dari teori pembangunan masa kini (modern).

Singkatnya teori Ethnodevelopment dimaksudkan untuk sebelum dilakukannya pembangunan, yang harus dipahami adalah karakter masyarakat setempat (lokal). Hal tersebut bertujuan untuk menjaga pembangunan dan kehidupan alam sekitar (lingkungan) berjalan beriringan.

Referensi :