Karyawan
1 bulan lalu · 58 view · 2 min baca menit baca · Kesehatan 68716_86946.jpg
ilustrasi.int

Dampak Mengerikan Penggunaan Tisu Daur Ulang

Era modern sekarang, tisu telah menjadi kebutuhan konsumtif sebagian besar orang di muka Bumi. Tidak hanya untuk pelengkap meja makan saja, penggunaan tisu dapat diaplikasikan dalam berbagai aktivitas, mulai dari remeh-temeh hingga sesuatu yang penting memerlukan tisu.

Kita pasti menginginkan tisu yang baik, benar, efisien, dan tidak merusak lingkungan maupun diri sendiri di masa mendatang. Karenanya, pemilihan tisu yang berkualitas adalah salah satu kunci tercapainya keinginan tersebut.

Menurut mybest, brand Paseo, Livi, dan Nice merupakan tisu dengan kualitas terbaik tahun 2019 karena berbahan lembut, memiliki sertifikasi ramah lingkungan, dan juga tidak mengandung bahan pemutih berbahaya. Dengan kata lain, dapat digunakan sebagai pembungkus makanan juga.

Ketiga brand tisu tersebut merupakan produk-produk unggulan dari APP Sinar Mas yang selain memproduksi kertas dan pulp juga memproduksi tisu sehat berkualitas, mereka menggunakan bahan halal, natural, dan menyehatkan.

Wajar jika pemilihan tisu yang benar merupakan hal penting saat ini. Karena seperti yang saya sebutkan di awal tadi bahwa tisu merupakan kebutuhan konsumtif. Di pasaran sendiri banyak beredar tisu recycle atau daur ulang yang berasal dari Cina. Tisu tersebut sangat berbahaya karena mengandung bahan-bahan tidak layak guna.

Pihak Univenus selaku produsen tisu Nice yang juga masih tergabung dalam APP Sinar Mas menyampaikan dalam iklan produk mereka pada 9 Mei 2019 setelah melakukan riset, bahwa dalam tisu recycle mengandung bakteri 1.000 kali lebih tinggi dari tisu biasa, mengandung logam berat 400 kali cadmium 2 kali lead, 13 kali lebih banyak mengandung moid, adanya penggunaan formalin untuk mencegah bakteri, hingga zat-zat pemicu kanker.


Senada dengan hal-hal yang diserukan pihak Univenus, Dr. Andhika Rachman, SpPD, ahli kanker RS Dharmais melalui detikhealth mengatakan jika dikaitkan dengan risiko kanker, beberapa bahan tambahan yang dipakai dalam pembuatan tisu recycle dapat memicu degenerasi atau perubahan sel menjadi malignant atau ganas. Pada akhirnya, sel-sel degenerasi tersebut dapat menjadi kanker.

Ide tisu daur ulang ini awalnya muncul dari penghematan bahan pokok kertas dan pulp itu sendiri. Sehingga beberapa produsen tisu berpikir untuk memanfaatkan kembali tisu bekas dan menjadikannya (seperti) layak pakai. 

Alih-alih memberikan solusi, hal tersebut justru membahayakan kehidupan banyak orang. Tidak salah memang ide penghematan bahan pokok tersebut. Hanya saja, bila melahirkan produk baru yang tidak aman, maka itu menjadi sebuah masalah baru.

Mengerikan memang apabila memikirkan dampak dari penggunaan tisu daur ulang atau recycle ini. Apalagi sulitnya membedakan mana tisu sehat dan tisu recycle yang berbahaya. Karenanya, tidak disarankan membeli tisu baru di pasaran jika belum terjamin kualitasnya, terlebih iming-iming harga murah yang menyesatkan dapat berakibat fatal.

Lalu, sebaiknya bagaimana? Gunakan tisu yang berkualitas dan terpercaya seperti produk-produk berkualitas yang diproduksi APP Sinar Mas, serta batasi penggunaan tisu untuk hal-hal yang perlu saja, dan jangan terlalu cepat membuang tisu bekas pakaimu ke tong sampah, karena mungkin saja berguna untuk membersihkan noda atau sejenisnya.


Kita juga harus berhati-hati dan cermat dalam penggunaan tisu di tempat umum. Biasanya toilet umum, cafe, dan tempat-tempat pusat keramaian menggunakan tisu ekonomis untuk menekan pengeluaran pengelola. 

Kita harus memastikan jika tisu yang tersedia benar-benar aman, dan bukan tisu recycle. Tisu recycle biasanya kasar dan warnanya tidak putih sempurna, namun 2 hal itu bukan merupakan patokan mengingat kemajuan teknologi saat ini yang bisa saja membuat tisu recycle serupa tampilannya dengan tisu biasa.

Penggunaan serbet atau sapu tangan juga membantu mengurangi penggunaan tisu. Selain itu, juga dapat dicuci dan digunakan kembali. Jadi, sebenarnya ada banyak alasan dan alternatif supaya kita tidak menggunakan tisu daur ulang yang berbahaya.

Saya sendiri sudah mengurangi penggunaan tisu di rumah hampir 70% sejak tahun 2018. Selain mendukung keberlangsungan, hal tersebut juga berguna untuk aksi penghematan dana rumah tangga.

Artikel Terkait