Perekonomian suatu negara akan berkembang atau bahkan menurun disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktor yaitu perindustrian. Kegiatan industri yang telah dilakukan baik itu upaya dari pemerintah maupun pelaku usaha (swasta) memberikan kontribusi yang besar kepada perekonomian negara. Negara bisa dikatakan mandiri apabila segala kebutuhan dapat terpenuhi oleh produk dalam negeri, artinya lembaga industri menjadi kunci dalam kemandirian bangsa.

Sekian banyak industri yang ada, industri kelapa sawit dan kertas menjadi sorotan tajam oleh kalangan masyarakat. Banyak pertanyaan yang muncul tentang dampak atau efek dari industri kelapa sawit dan kertas.

Salah satu pertanyaan yang muncul mengenai industri kelapa sawit yaitu, apakan industri kelapa sawit tidak memakan lahan hutan dan mengakibatkan kerusakan hutan yang mengakibatkan hutan gundul? Pertanyaan serupa mengenai industri kertas yaitu, apakah pohon dalam hutan akan aman, sementara bahan pokok kertas adalah kayu dari pohon di dalam hutan?.

Banyaknya pertanyaan yang muncul tersebut bukanlah sebuah hal yang tidak wajar, karena disamping pelaku industri yang kurang memberikan sosialisai kepada masyarakat juga dari sisi masyarakat kita sendiri yang kurang menggali informasi secara mendalam sehingga timbul pemahaman yang kurang.

Dari permasalahan tersebut perlu kiranya pelaku industri untuk memberikan sosialisasi mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan industrinya, sementara bagi masyarakat perlu untuk meningkatkan intensitas dalam menggali sebuah informasi sehingga tidak terjadi kesalahan dalam persepsinya mengenai kegiatan-kegiatan industri.

Berdasarkan sosialisasi dari pemerintah dan pihak industri menjelaskan bahwa industri sawit dan kertas di Indonesia bisa dikatakan ramah lingkungan, karena telah memenuhi standar dan aturan yang telah ditetapkan pemerintah.

Di bawah ini akan diuraikan mengenai sudut pandang dampak dari industri sawit dan industri kertas bagi lingkungan serta masyarakat.

Industri Sawit dan Dampak Bagi Lingkungan serta Masyarakat

Kelapa sawit merupakan komoditas yang penting karena merupakan bahan baku pembuatan minyak goreng, margarin, dan sabun. Kebutuhan akan kelapa sawit di dalam negeri terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar ekonomi masyarakat. Minyak kelapa sawit merupakan salah satu sumber devisa negara yang sangat potensial karena tidak semua negara dapat memproduksinya.

Kelapa sawit hanya dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada kawasan beriklim tropis seperti di Indonesia.

Pohon kelapa sawit yang sangat besar manfaatnya bagi perekonomian negara juga memberikan kekhawatiran mengenai dampak atau efek terhadap kelestarian hutan. Meski kerap dianggap kontroversial, namun produk kelapa sawit Indonesia menguasai pasar dunia. Dari 59,6 juta ton produksi minyak sawit dunia pada 2014, sekitar 31,3 juta ton atau 52% dihasilkan dari Indonesia (BBC Indonesia 18 Februari 2016).

Dari fakta di atas kita mengetahui sumbangan industri kelapa sawit bagi devisa negara. Akan tetapi masih banyak pandangan negatif mengenai industri kelapa sawit. Seperti dalam menilai sesuatu, masyarakat cenderung melihat sisi negatif saja, tanpa memperhatikan sisi positif.

Dampak positif dari industri sawit sangatlah banyak, di antaranya telah disebutkan di atas. Industri kelapa sawit juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengingat terdapat sekitar 42 juta orang yang terlibat di dalam industri tersebut (Sembiring dalam Kompas.com 24 November 2016).

Sementara itu dampak negatifnya adalah seperti yang kita ketahui bahwa dalam membuka lahan kelapa sawit untuk kegiatan industri diperlukan pembukaan lahan hutan. Hal ini menjadi perdebatan yang selalu muncul dalam masyarakat. Bagaimana nasib hutan Indonesia apabila hutan selalu menjadi korban untuk perindustrian kelapa sawit. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dengan menetapkan berbagai peraturan, yaitu melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).

Melalui ISPO akan memperketat pendirian lembaga industri dan perizinannya. Bagi lembaga industri yang telah ada melalui ISPO mengharuskan untuk lebih meningkatkan efisiensi secara operasional maupun produktivitas, sehingga tidak menjadikan lahan hutan sebagai korban.

Lahan yang telah digunakan untuk industri kelapa sawit harus dikelola oleh lembaga industri sehingga tetap terjaga kestabilan atau kelestaraian dari hutan Indonesia. Dengan ISPO juga menjadikan bukti bahwa pemerintah tidak main-main dalam menangani dampak dari industri kelapa sawit.

Industri Kertas dan Inovasi Kertas Ramah Lingkungan 

Industri kertas adalah industri yang mengolah kayu sebagai bahan dasar untuk memproduksi kertas, baik kertas kardus, karton dan kertas tulis. Pengertian tersebut sangat kaku sehingga membatasi pola pikir kita mengenai bahan baku pembuatan kertas. padahal apabila dilakukan sebuah penelitian pasti akan menemukan formula lain yang dapat dijadikan bahan baku kertas. sebelum sampai pada bahasan inovasi, maka akan diuraikan dampak penggunaan kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas.

Dampak positif dari adanya industri kertas adalah terpenuhinya kebutuhan dalam negeri dan dapat menjadikan sebagai tambahan devisa negara. Sementara dampak negatif yang menjadi kekhawatiran adalah tentang bahan baku pembuatan kertas, yaitu kayu. Penggunaan kayu sebagai bahan baku dapat menimbulkan habisnya pohon di hutan apabila terjadi banyaknya permintaan akan produk kertas.

Produk kertas merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari sebagai alat dan fasilitas dalam belajar, bungkus peralatan atau kardus, dan lain sebagainya. Mengingat pentingnya peran kertas dalam kehidupan sehari-hari menjadikan sulitnya mengurangi penggunaan kayu sebagai bahan baku, maka untuk menyikapi hal tersebut diperlukan sebuah bahan yang memiliki fungsi sama dan memiliki dampak yang lebih sedikit mengenai kerusakan lingkungan.

Solusi atau bisa dikatakan inovasi tersebut sudah ditemukan yaitu dengan menggunakan nata de coco dari air kelapa, nata de soya dari limbah produksi tahu dari kedelai, atau nata de pina dari limbah nanas sebagai bahan baku kertas. Penelitian tersebut dilakukan oleh Peneliti bioteknologi Institut Pertanian Bogor (kompas.com 01 Oktober 2011).

Menurut pendapat penulis bahan yang sangat cocok digunakan adalah dengan menggunakan air kelapa. Di samping mudah ditemui dan masa tumbuhnya yang relatif lebih rendah dari pada kayu juga dapat menghijaukan daerah pesisir Indonesia apabila memang diterapkan.

Berbicara mengenai penerapan sebuah inovasi tersebut, bisa dikatakan di Indonesia belum terealisasikan. Belum terealisasikan temuan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kebijakan dari pemerintah, kurang koordinasinya antara peneliti dengan pelaku industri kertas.

Kebijakan pemerintah sangat penting dalam pelaksanaan sebuah temuan, karena dengan kebijakan pemerintah akan memberikan aturan atau batasan yang dapat mendorong pelaku industri untuk beralih dalam penggunaan bahan baku. Setelah kebijakan dari pemerintah sudah ada maka akan dengan mudah untuk merealisasikan hasil temuan tersebut.

Sementara masalah kurangnya koordinasi antara pelaku usaha dengan peneliti dapat dijawab dengan selalu mengadakan sosialisasi oleh para peneliti sehingga pelaku industri paham betul dengan seluk beluk inovasi yang telah ditemukan. Apabila hal tersebut sudah dilakukan maka akan menghasilkan produk kertas yang ramah akan lingkungan.