Ketidakmampuan belajar sering dikelompokkan hanya kepada keahlian tertentu, tapi yang paling mencolok itu biasanya yang sering terjadi yang berkaitan dengan membaca, menulis dan berhitung. 

Gangguan belajar dalam membaca disebut disleksia, dalam berhitung dikenal dengan istilah diskalkulia, dalam menulis dipanggil disgrafia, dalam hal keterampilan motorik biasanya diberi nama dispraksia dan terakhir dalam hal Bahasa itu disebut aphasia atau disphasia. (Darmawan, 2019)  

Disleksia berasal dari Bahasa Yunani yakni dyslexis yang biasa diartikan secara bebas sebagai ketidakmampuan membaca, mengeja, menulis, berbicara atau mendengar kata-kata. Lebih luas dimaknai secara ilmiah adalah ketidakmampuan belajar yang biasa dialami anak-anak sebagai akibat dari kesulitan mengekspresikan diri serta menerima Bahasa lisan atau tulisan berupa kata-kata.

Disleksia adalah salah satu jenis kesulitan belajar pada anak berupa ketidakmampuan membaca, suatu gejala yang disebabkan oleh gangguan pada proses otak saat menerima suatu pemprosesan informasi. Disleksia adalah gangguan belajar bahasa pada anak yang menyebabkan kesulitan memahami kata atau kalimat dalam menulis, membaca, dan mengeja (Haifa dkk., 2020). 

Gangguan disleksia umumnya disebabkan oleh gangguan kognitif seseorang, tetapi dapat juga dipengaruhi oleh faktor lain. Kemampuan membaca biasanya muncul pada anak normal sekitar usia enam atau tujuh tahun, tetapi tidak begitu untuk anak yang memiliki disleksia. Bahkan saat dewasa-pun mereka terus bergelut dalam membaca, menulis dan berhitung (Hasibuan, 2019). 

Ada berbagai jenis anak berkebutuhan khusus, salah satunya adalah anak disleksia yang memiliki kesulitan belajar membaca dan menulis (Jatmiko, 2016).

Disleksia merupakan faktor risiko keterlambatan perkembangan anak. Anak-anak dengan disleksia akan sulit untuk belajar membaca, menulis, dan melakukan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan bahasa.  Anak-anak disleksia menunjukkan berbagai gejala, satusatunya kesamaan yang mereka miliki adalah kemampuan membaca yang sangat rendah untuk usia yang ada dan kecerdasan yang dimilikinya saat itu.

Efek Terhadap Tumbuh-Kembang Anak

Adapun ciri-cirinya terdapat beberapa tanda awal disleksia pada anak usia pra-sekolah antara lain mencampuradukkan kata dan frasa, kesulitan mempelajari pengulangan bunyi (ritme) atau irama, kesulitan mengingat nama, keterlambatan perkembangan bahasa, dan senang dibacakan buku, tetapi tidak tertarik pada kata-kata atau huruf. 

Kemudian pada tingkat sekolah dasar, disleksia meliputi kesulitan membaca dan mengeja, sering bingung huruf dan angka, kesulitan mengingat alfabet atau tabel belajar, kesulitan memahami tulisan yang dibacanya, menulis lambat, sulit berkonsentrasi, kesulitan membedakan kanan dan kiri, atau urutan minggu, dan kepercayaan diri yang rendah (Arif, 2019).

Anak-anak yang berisiko gagal membaca harus dapat diidentifikasi sedini mungkin menggunakan tugas-tugas seperti penghilangan kata majemuk dan kesadaran cetak. 

Harapannya adalah bahwa intervensi yang dirancang untuk meningkatkan perkembangan kemampuan fonologis mereka dapat diterapkan di pra-sekolah dan juga untuk mengurangi risiko mengembangkan masalah membaca berikutnya, atau jika tidak dapat dihindari sepenuhnya, bisa berfungsi untuk mengurangi keparahan masalah yang berkembang selanjutnya.

Salah satu peran penting orang tua adalah memenuhi kebutuhan anak disleksia yang lebih sering menimpa kepada yang berkebutuhan khusus (ABK), salah satunya adalah hak atas pendidikan baik itu pendidikan inklusif maupun pendidikan khusus berupa Sekolah Luar Biasa (SLB). 

Tidak mudah bagi orang tua untuk mendampingi anaknya yang berkebutuhan khusus dalam menjalani proses kehidupannya sehari-hari dan pembelajarannya tersebut untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitar bahkan yang lebih luas yakni masyarakat awam.

Tingkat akseptabilitas atau penerimaan dari orang tua merupakan kunci utama guna sebagai langkah awal dalam mendampingi tumbuh-kembang anak secara lebih optimal (Normasari et al, 2021). 

Selain orang tua, Memanfaatkan peran guru dalam situasi ini juga adalah Langkah penting dalam menyediakan peran mereka (guru dan orang tua) agar bersinergi dan bisa memberikan dukungan perkembangan dan melakukan observasi sebaik mungkin. Apalagi jika anak sudah pada fase atau tahapan yang berisiko, seperti mengalami keterlambatan bicara dan memiliki saudara kandung yang mengalami disleksia juga (Endang dan Julia, 2017).

Hal beikutnya yang bisa dilakukan adalah lebih memahami disleksia secara ilmiah, komprehensif dan up to date, sehingga kebutuhan anak disleksia dapat terpenuhi secara maksimal seperti metode pembelajaran harus disesuaikan dan pencapainnya sebagai harapan guru dan orang tua juga harus disesuaikan dengan kemampuan anak semampu mereka.

Kemudian, meskipun anak tersebut memiliki kesulitan dalam membaca tetapi biasanya ada  kemungkinan lain bahwa anak disleksia pasti memiliki kelebihan di bidang lain selain membaca dan menulis. 

Hal ini harus dilihat secara objektif dan dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan perkembangan anak serta kecerdasannya yang lain tanpa mempertimbangkan skill membaca dan menulis. 

Anak yang terdeteksi disleksia juga harus didiagnosis sejak usia dini, agar anak yang mengidapnya dapat diberikan bantuan dan penangan yang sesuai sehingga dapat terus bersekolah dengan baik dan semangat.