Saya beruntung. Setiap hari dilimpahi WiFi hingga 4 season Money Heist atau La Casa de Papel terselesaikan hanya dalam beberapa hari.  

Seperti membaca komik petualangan dengan gambar keren yang didominasi warna merah, hitam dan abu-abu atau melihat cowok rambut gondrong yang dikuncir sembarang, berkemeja hitam yang lengannya digulung, sedang duduk serius di depan laptop, sambil rokokan, ngopi atau nge-beer. Kenapa komik dan cowok rambut gondrong? Entahlah, hanya saja itu yang terlintas di kepala saya. Dua hal yang bagi saya menarik dan bikin penasaran. 

Semua season menarik meski sedikit agak boring di awal, tapi sekali lagi rasa penasaran menjadi tenaga pendorong untuk menyelesaikan kisah perampokan ber-jumpsuit merah dan bertopeng Salvador Dali ini. Dan biar lebih greget saya pilih bahasa Spanyol, tentu saja yang ada terjemahannya biar mudeng. 

FYI ada beberapa adegan yang saya ulang atau di-pause, karena diajak bicara teman, menerima pesan di WhatsApp yang harus segera dijawab, atau telpon dari sesiapa yang ternyata nggak penting-penting amat. KZL. Bagi saya nonton film itu santuy tapi fokus, nggak sambil ngobrol atau mengerjakan yang lain. 

Bukankah setiap adegan itu bermakna dalam cerita, bahasa tubuh dan obrolan di film itu kadang amazing, makanya saya nggak mau terlewatkan barang sedetikpun. Selain itu saya pengen juga berkelana ke alam pikiran pembuatnya. Sebagai bonus biasanya saya temukan kata-kata bagus, bahan untuk nulis ala-ala review, menemukan sesuatu yang saya belum pernah tahu sebelumnya atau cara pandang baru yang uwu (dibaca : duh, cakep nih). 

Dan berikut hal-hal tentang Money Heist:

√ Profesor
Laki-laki kutu buku dengan wajah tak mengecewakan yang hebat dalam perencanaan, analisa, riset. Bos geng rampok yang punya masa lalu kelam. Dan gegara perampokan ini dia jatuh cinta, sedikit bucin sebab tak pernah mengalami sebelumnya.  Bagi mata saya, style-nya Profesor membosankan sekali. Resmi pakai jas dan dasi setiap hari seperti mau kondangan atau rapat di gedung DPR. Dear Profesor, season berikutnya tolong pakai celana chinos, kaos krah dan jaket ya. 

√ Tokyo
Cantik dan liar, nggak ada kalem-kalemnya. Terlahir dari keluarga bermasalah tetapi kasih sayang ibunya melimpah ruah. Senorita berbody langsing, mulus macam gitar Spanyol baru yang dipajang di etalase, berani, dan pintar.

Bisa menyerap pelajaran dan arahan yang diberikan Profesor dengan cepat, canggih menggunakan senjata, dan hebatnya sukses mengoperasi Nairobi saat dadanya tertembak. Sayangnya tak bisa menahan emosi dan sering mengambil keputusan tanpa berpikir panjang lalu menyesal sendiri. Brutal. 

√ Rio
Bocah canggih di bidang IT tapi belum siap diajak kerja kelompok. Sikap kekanak-kanakannya bikin kacau. Merampok tak sama dengan merebut pistol-pistolan teman, kan Rio. Butuh mental baja menghadapi situasi, termasuk perasaannya kepada Tokyo yang lebih tua beberapa tahun darinya. 

√ Arturo
Antagonisnya, juara! Sok pahlawan, lebay, alay, gombal mukiyo. Sukses loh dia bikin saya kesel setengah mati. Saya pengen dia mati tertembak, tapi realitanya berkata lain haha.. Mulutnya sungguh lamis parah, sumber masalah, diantaranya menyebabkan kematian Oslo, pelecehan seksual sesama tawanan dan kacaunya hubungan Stockholm dan Denver.  

√ Denver
Masa lalu yang tak menyenangkan berpengaruh besar bagi hidupnya, membawanya dalam masalah demi masalah di dunia mafia narkoba. Punya tertawa khas yang aneh, emosi tinggi, meledak-ledak macam petasan lebaran, tapi sebenarnya nggak tegaan. 

√ Berlin.
Perampok permata yang agak psikopat. No ngegas. Mungkin karena dia juga seniman, bisa menggambar, cerdas, tenang, dewasa, dan akhirnya rela mati demi keselamatan teman-temannya. Hebatnya lagi, sepupu Profesor ini tahu bahwa di tubuhnya bersarang penyakit genetik langka yang tak bisa disembuhkan tapi tak putus asa. Mengisi hari-hari akhir hidupnya dengan kesenangan, seperti menikah 4 kali dan jatuh cinta lagi dengan sanderanya, Ariadna.

Kesalahan Berlin adalah, tak membunuh Arturo, padahal dia bisa melakukannya. Arturo, semacam virus Korona tapi dalam bentuk manusia. 

√ Cincinnati
Nama anak Stockholm dan Arturo yang disayang banget sama Denver. Hasil gugling, itu nama kota di Ohio Amerika ternyata. Unik.

Suka juga nama anak impian Nairobi, Ibiza. Anak yang direncanakan setelah perampokan selesai. FYI rencananya anak ini adalah hasil donor sperma bos Profesor, tapi nasib berkata lain, Nairobi mati tertembak tepat di dahinya. 

√ Lagu Guantananera
Bertahun-tahun lalu pernah mendengar lagu ini, tapi baru tahu kalau lagu rakyat patriotik Kuba yang ditulis 1929 lalu. Tahun di mana dunia sedang krisis ekonomi, runtuhnya bursa saham Amerika, Pak Karno ditangkap di Bandung, Herge memulai debut petualangan tokoh ciptaannya Tintin, Indonesia dijajah Belanda dan mbah kakung saya baru berusia 6 tahun. Hehe..

Bagus lagu ini, sama bagusnya dengan lagu Feeling Good yang juga muncul beberapa detik tapi entah dalam versi siapa, agak aneh di telingan saya. Andai versinya Michael Bubble atau Nina Simone ya.

√ Diazepam          
Cakepnya film ini, tak melulu menampilkan aksi perampokan tapi juga menyuguhkan banyak hal salah satunya penanganan suatu keadaan, seperti operasi atau penanganan kecelakaan misalnya. Kotak P3K-nya sungguh lengkap. Ada adegan Gubernur Bank of Spain sekarat terkena serangan jantung. Tokyo dan geng tak lantas membiarkannya mati, diselamatkan dengan menyuntikkan Diazepam dosis tinggi.

Obat penenang resep dokter seperti Dumolid yang pada orang-orang tertentu disalahgunakan, padahal katanya obat golongan ini dipakai untuk gangguan cemas, gangguan panik, gangguan tidur atau terapi kejang. Jadi ingat kasus Tora dan Mieke, apa mungkin mereka terkena gangguan itu dan suka kejang? Entahlah.   

√ Ngomong-ngomong saya bangga Money Heist menyebut Jakarta, Denpasar, Jawa Indonesia, juga cerita tentang pernikahan Denver dan Stockholm dengan adat Bali. Yang bikin gerah, saat Denver cerita kalo Stockholm USG di salah satu rumah sakit di Sulawesi yang dibilangnya seperti bengkel sepeda yang jorok. Mana adegannya diperlihatkan juga rumah sakit yang kumuh, tembok-tembok kotor. Apakah mungkin itu benar adanya?

√ Beberapa obrolan mengandung bawang, tentang masa depan, keinginan, anak. Seperti obrolan 2 lelaki gay yang sama-sama patah hati, Palermo (salah 1 otak perampokan emas) dan Helkinsi.

Palermo bilang, "Rasa sakit itu seperti lintah darat, meninggalkan hutang yang menjerat dan tak akan terlunasi."

Iya sih, kadang memang begitu. Ngomong-ngomong saya nggak suka Palermo, labil dan tukang provokator. Merepotkan saja. Cocok disimpan di freezer sama Arturo, biar mati beku hehe.. 

Sementara poin lain yang bisa dipelajari dari Money Heist adalah:

√ Minimalkan mencampuradukkan urusan cinta dan pekerjaan. Terlalu melibatkan hati efeknya sungguh menyakiti.

Cek-cek lagi apa itu beneran cinta atau emosi sesaat yang akan luntur cepat lalu meninggalkan perih yang sangat. Jangan baperan pokoknya.

√ Dalam hidup andai menginginkan sesuatu, pikirkan ribuan kali tetekbengeknya plus risikonya. Seperti apakah sepadan dengan harga yang harus dibayar, bagaimana bila keadaan tak berpihak alias gagal, dan adakah plan B atau alternatif lainnya.

Tetapi memang bagusnya manusia memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi nanti, sekalipun itu hal kecil. Jadi sedia payung dan perlengkapan lain sebelum gerimis menjadi hujan badai. 

√ Tetaplah konsisten. Tak mudah tapi bukan berarti tak bisa. Seperti janji misalnya, bicara berbusa-busa eh baru sebentar sudah berbeda. Jadi ingat pepatah Jawa, ”Esok Dhele Sore Tempe."

√ Sifat labil jangan dibawa sampai tua, cukup pas ABG saja. Kalau tak bisa menciptakan suasana yang menyenangkan setidaknya tak mengganggu tetangga kiri kanan. Bisa jadi perubahan mood yang tiba-tiba; senang, sedih, ngamuk marah-marah itu karena kesambet atau jiwa yang terganggu karena ketinggian dalam mengekspektasikan sesuatu. Mari bercermin lagi gaes. 

Well, overall Money Heist adalah tentang cinta dan bagaimana mewujudkan dan mengapresiasikannya.

Cinta yang sebenarnya sederhana tapi jadi rumit dan sulit. Cinta yang memang membutuhkan keberanian untuk merasa, bicara, atau mengikhlaskannya. Tentu saja agar supaya hidup penuh suka cita dan minim drama.

Baiklah, mari kita tunggu season 5 kelanjutannya seperti apa. Eh yang belum nonton, silakan loh, sesekali nonton film Spanyol nggak Amerika melulu.

Adios. Te quiero!