1 bulan lalu · 151 view · 3 min baca menit baca · Politik 22342_85319.jpg

Damai Indonesiaku

Konsep damai selalu membawa konotasi yang positif, karena hampir tak ada orang yang menentang perdamaian. Beberapa kelompok, berpandangan berbeda tentang apakah damai itu, bagaimana mencapai kedamaian, dan apakah perdamaian benar-benar mungkin terjadi. Damai sendiri memiliki banyak makna dalam segala definisi.

Seperti halnya damai dapat menunjuk ke persetujuan mengakhiri sebuah perang, atau ketiadaan perang, atau ke sebuah periode dimana sebuah angkatan bersenjata tidak memerangi musuh. Kemudian damai dapat juga berarti sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengizinkan untuk tidur atau meditasi.

Juga dapat diartikan damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi-definisi di atas.

Jadi, konsepsi damai itu setiap orang berbeda sesuai dengan budaya dan lingkungan masing-masing. Orang dengan budaya berbeda kadang-kadang tidak setuju dengan arti dari kata tersebut, dan juga orang dalam suatu budaya tertentu. Perdamaian juga harus fokus dari beberapa sudut pandang baik tunggal maupun jamak.

Beberapa orang berpendapat bahwa perdamaian memilih membuat ide damai tunggal dan mendorong ide banyak arti dari damai. Mereka berpikir tidak ada definisi tunggal yang benar tentang damai, harus dilihat sebagai sesuatu yang jamak. Orang yang sama pun mengkritik ide damai sebagai harapan dan yang akan terjadi pada suatu hari.

Mereka mengenal damai tidak harus sesuatu yang manusia harus capai "suatu hari". Mereka menganggap bahwa damai hadir, bila kita menciptakan dan mengembangkannya dalam cara yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, dan berubah secara terus-menerus.

Lalu muncul pertanyaan di kondisi saat ini, apakah kekerasan diperlukan? Ada banyak pandangan yang menganggap kekerasan dan perang dibutuhkan. Juga ada banyak pandangan yang menganggap kekerasan dan perang tidak dibutuhkan.


Dengan berbagai simpang siur yang terjadi, maka timbul permasalahan apakah kekerasan itu terjadi karena sesuatu hal? Permasalahan ini akan saya coba untuk ulas secara detail mulai dari akar permasalahan sampai inti penyelesaian beserta contohnya. Saat ini, perang seakan menjadi hal yang biasa bahkan lumrah terjadi.

Kehancuran fisik dan moril menjadi salah satu dampak peperangan dari pihak yang kalah maupun pihak pemenang walau tidak ada kemenangan mutlak.

Namun, kekerasan dan peperangan yang paling destruktif adalah perang saudara yang tidak saja akan menghancurkan secara fisik, namun lebih jauh akan saling menghancurkan secara ekonomi, sosial, politik kedua pihak yang saling bertikai.

Seperti halnya apa yang terjadi pada Mei 1998 dimana kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa dengan pribumi. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia. Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Amuk massa ini membuat para keturunan Tionghoa merasa ketakutan dan menulisi toko mereka dengan tulisan Milik pribumi atau Pro-reformasi agar tidak diserang massa.

Dalam kasus ini, perang saudara terjadi antara pribumi dengan keturunan Tionghoa dan hampir menghancurkan ekonomi, sosial, politik Indonesia. Sampai bertahun-tahun berikutnya, pemerintah belum mengambil langkah konkret untuk mengungkap siapa dalang atau nama-nama kunci dibalik peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Pemerintah menyebutkan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti konkret dalam kasus kerusuhan. Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Dalam beberapa pihak, khususnya pihak keturunan Tionghoa, berpendapat bahwa ini merupakan Genosida terhadap keturunan Tionghoa.

Walau masih menjadi kontroversi apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah yang sedang berkuasa atau provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.

Kemudian terjadi lagi kerusuhan yang sama terjadi lagi dan hampir sama waktunya tetapi beda kasus. Yakni kerusuhan yang terjadi pada Mei 2019 dimana massa menolak hasil rekapitulasi suara Pemilu terutama pemilihan presiden dan wakil presiden yang disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum.


Massa yang bentrok dengan aparat pengamanan Polri dan TNI disebut massa bayaran yang settingan untuk menciptakan kerusuhan. Dalam kasus ini, perang saudara terjadi antara pendemo dengan aparat keamanan yang menghancurkan fasilitas umum juga membuat ekonomi Jakarta lumpuh sesaat karena penutupan.

Aparat keamanan juga menemukan sebuah ambulans yang membawa batu. Dapat diindikasikan kerusuhan yang terjadi disebabkan provokasi oleh beberapa pihak dengan mengatakan Pemilu penuh kecurangan.

Saya ingin menekankan bahwa kekerasan juga perang tak ada yang berdampak baik bagi beberapa pihak yang sedang bertikai, karena tidak ada yang didapatkan di pihak pemenang dan tidak ada yang didapatkan di pihak yang kalah.

Pada hakikatnya, peperangan hanya membawa kemunduran dan kehancuran di semua pihak. Penting bagi kita sebagai bangsa Indonesia menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika yang sangat bermakna demi menjaga persatuan kesatuan bangsa.

Juga mengamalkan Persatuan Indonesia dimana memiliki arti walau berbeda-beda tapi tetap satu Nusantara. Maka dari itu, mari kita bersama menjaga keutuhan bangsa dan negara ini dengan segenap jiwa raga kita. Damai Indonesiaku.

Artikel Terkait