Penulis
1 tahun lalu · 90 view · 2 min baca menit baca · Gaya Hidup 31189_38428.jpg
Sumber: blog.thelevelmarket.com

Damai

Damai. Kedamaian. Sungguh betapa sering kita mendengar kata-kata itu digaungkan di mana-mana. Semua agama mengajarkan hal yang sama tentang damai, tentang pentingnya masing-masing umat menjaga kedamaian. Kalaupun ada perselisihan, tujuannya adalah untuk menciptakan kedamaian yang lebih luas arti.

Tapi kedamaian ini kadang menjadi semakin sempit dalam kepala kita masing-masing. Bagi kita, kedamaian adalah sesuatu yang berada di luar, di sekitar, di sekeliling kita. Bahwa kedamaian adalah ketika tak ada perang yang terjadi di daerah yang kita tinggali. Bahwa kedamaian adalah tak ada bantai membantai, tak ada darah bersimbah, tak ada kekerasan. Bahwa kedamaian adalah saat tak ada kemarau panjang dan tanaman masih tumbuh subur. Selalu, kita merasa bahwa kedamaian adalah sesuatu yang berada di luar diri.

Namun pada sekarang-sekarang ini, semuanya mulai terlihat lebih jernih. Apalagi sejak olahraga yoga mulai menjadi tren. Kata-kata relaksasi dan meditasi menjadi populer. Tren itu mengajari kita untuk tenang dan merasa relaks. Ia mengingatkan kita betapa perlunya hal itu. Bahwa diri sendiri adalah yang terpenting untuk berada dalam keadaan selalu damai.

Bahkan pada kelas ajaran yoga spiritual, disebutkan seseorang yang sudah memiliki “inner peace” “kedamaian jiwa” tak akan terusik bahkan pada keadaan yang separah apapun. Dia malah akan mewujud serupa tetes embun yang menyejukkan, membantu penyembuhan, penyebaran kebaikan di masa-masa kacau. Terkait dengan konsep ini pun akhirnya kita akan teringat pada Gandhi dan Madam Teresha serta tokoh-tokoh lain yang harum namanya karena aksi kebaikan. Mereka yang berubah menjadi air yang menyejukkan untuk para pesakit di zaman yang sungguh kacau. Sebut pulalah Dalai lama. Bahkan terutama Nabi Muhammad.

Namun untuk mencapai tahap itu sangatlah sulit. Kebanyakan manusia biasa tak akan bisa. Tapi setidaknya kita berusaha untuk setingkat demi setingkat bisa memiliki kedamaian yang selalu bertambah.

Bukan lagi hal yang rahasia, bahwa kedamaian diri adalah kunci hidup kita tenang, dari stres, bahkan membuat kita selalu positif. Jauh dari penyakit, ceria, tak gampang merasa marah, gundah dan sebagainya. Hidup menjadi ringan sebagaimana seharusnya. Sehingga kita pun menjadi lebih dekat dengan kebaikan.

Sayangnya seringkali tanpa kita sadari, betapa acapnya damai itu luput dari kita. Selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu, 30 hari sebulan, 365 hari setahun, tahun demi tahun sepanjang hidup yang kita jalani, betapa banyak damai itu menghilang.

Damai itu bahkan menghilang karena hal yang sebenarnya sangat sepele. Semisal saat kita berada dalam keadaan macet parah di jalanan atau saat kita terkaget dengan kendaraan yang dikemudi serampangan. Damai itu bahkan hilang saat kita dilayani kasir atau pelayan yang tak ramah.

Setingkat lebih lagi, damai kita hilang bahkan untuk hal-hal yang muncul karena kita pikiran kita sendiri. Damai kita hilang ketika melihat orang lain lebih cantik atau lebih tampan. Damai kita sirna ketika melihat karir orang lain terlihat lebih kemilau. Ia juga hilang saat kita melihat orang lain lebih kaya. Seolah-olah mereka lebih, dan di dalam diri kita manusia yang purba, kita merasa tak ingin lebih rendah atau kurang dari orang lain. Alhasil damai itu pun hilang, kita menjadi tak tenang.

Tanpa kita sadari damai itu hilang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Apakah akan kita biarkan damai itu tak pernah hadir bahkan seumur hidup kita? Padahal segala yang kita usahkan sebenarnya adalah demi merasa bahagia, damai tiada tara.

Artikel Terkait