Di dunia yang penuh misteri dan kejutan ini, terdapat dua dunia saling berdampingan. Dunia kami sendiri dan dunia gaib, di mana semua kejadian ajaib terjadi. Berdampingan, saling terikat satu sama lain.

Namaku Nofinda, aku hanya sebuah boneka—maksudku benar-benar sebuah boneka milik seorang wartawan yang memiliki nama depan sama denganku. Hal itu terjadi, bisa dibilang karena Awan—pemilikku memang mengambil namanya sebagai namaku.

Ia bekerja di salah satu kantor berita ternama di kota Jakarta. Tidak pernah takut saat harus melaporkan situasi paling berbahaya, dalam perang maupun tempat terjadinya bencana, selalu tanggap dan santai itulah sifatnya.

Sudah banyak orang yang kusaksikan saat Awan mewawancarai, segelintir kasus sudah terbongkar di depan mataku, hingga ia dijuluki wartawan detektif, walau sebenarnya itu sedikit membuat tidak nyaman—bukan masalah julukannya, masalahnya adalah orang-orang terus saja meminta bantuan untuk memecahkan kasus-kasus yang menyita waktu untuk beristirahat. Aku jadi merasa sangat kasihan padanya yang selalu mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Setiap malam Awan selalu mengeluhkan bosnya yang menyebalkan, dia selalu memerintah untuk mencari berita murahan tentang artis-artis sensasional yang sangat tidak etis. Ya, memang betul dia adalah gadis yang amat menghargai privasi orang lain.

Suatu hari si bos memerintahkan untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang terjadi di sebuah desa terpencil.

“Benar kan? Sudah kubilang dia selalu memerintahkan Awan untuk menyelesaikan kasus pembunuhan seolah ia adalah seorang detektif dalam novel. Tetapi setidaknya kali ini  bukan berita tentang selebriti, dan semoga Awan membawaku bersamanya demi menyaksikan petualangan hebat yang selama ini selalu kusaksikan,” pikirku, sambil berharap itu akan menjadi kenyataan.

Menurut informasi yang kudengar dari percakapan Awan dan temannya, “Tidak ada sinyal di sana, teknologi yang digunakan pun masih semi modern. Di desa tersebut kepercayaan terhadap takhayul masih amat kental, bahkan bisa dibilang masih kuno. Banyak sekali legenda urban di desa tersebut, dan yang paling terkenal adalah legenda hantu sang dalang yang sudah muncul sejak tahun 1970. Dulunya sang dalang adalah seorang yang sangat terkenal baik di desa itu, selalu gemar menolong orang yang kesusahan. Namun kemudian pada suatu malam ia dibunuh dengan cara dimutilasi, mayatnya tidak ditemukan karena pada saat itu akses jalan amat sangat sulit. Hantunya bergentayangan mencari jiwa-jiwa yang hidup.” terdengar berlebihan, tetapi begitulah orang di telepon menceritakan kisah tersebut.

Versi lain menyebutkan bahwa sang dalang adalah jawaban dari rangkaian peristiwa pembunuhan yang sampai saat ini masih menjadi misteri. Cerita ini menyebut bahwa sang dalang hanya dijadikan kambing hitam untuk menjawab setidaknya tiga pembunuhan wartawan yang bekerja di tempat yang sama denganku. Tiga orang yang masing-masing dari mereka adalah;  Alina 21 tahun, Bambang 45, dan Dodi 35 tahun. Bahkan konon bukan hanya mereka, masih banyak serangkaian pembunuhan aneh yang mungkin dilakukan oleh si dalang gila ini,” lanjut suara itu.

Semisterius dan seseram apa pun legenda urban tersebut, aku yakin itu tak akan membuat Awan takut, justru ia pasti akan bilang,  “Penugasan kali ini adalah kesempatan bagus untuk menghindar dari si bos yang menyebalkan, lagi pula korban-korbannya adalah temanku, tidak etis rasanya membuat mereka mati penasaran.”

***

Baca Juga: Beban Moral

Malam hari Kamis, kami tiba di Desa Tapal Batas yang masih merupakan wilayah Provinsi Jawa Barat. Sebuah papan yang terbuat dari kayu tua terpampang jelas sebelah kiri jalan bertuliskan “Selamat Datang di Desa Tapal Batas”. Lampu penerangan yang minim, ditambah dengan suasana yang sangat sepi membuat malam ini kian horor.

Dalam tugas kali ini aku akan menginvestigasi desa bersama Awan dan Afika. Setelah memasuki gerbang desa, mobil jip tua ini segera menuju rumah ketua RT setempat untuk mengurus izin tinggal selama beberapa hari ke depan.

***

Hari pertama di pagi hari, aku masih diam di atas kasur polos berwarna merah, di bawah selimut cokelat bersama awan yang memelukku dengan erat. Entah apa yang membuatku merasa nyaman di dekatnya, walau usianya sudah 26 tahun tetap saja ia tak pernah bisa tidur tanpa boneka.

Sejak saat usianya 6 tahun. Ketika ibunya memberikanku kepada Awan sebagai hadiah ulang tahun, sejak saat itu kami tak pernah terpisahkan, melalui berbagai petualangan seru dan menantang, memecahkan kasus menegangkan, sampai meliput orang-orang terkenal.

Hari ini, si gadis wartawan memutuskan untuk mengunjungi rumah tetua desa, ia sudah pasti tidak tidak mau membuang waktu untuk sekedar berjalan-jalan menikmati pemandangan desa yang asri, lebih baik segera selesaikan dahulu baru kemudian jalan-jalan.

Angin sepoi-sepoi terasa menusuk di antara serat-serat halus yang kini mulai rapuh. Di desa yang masih banyak ditumbuhi tanaman-tanaman bambu seperti ini memang wajar jika anginnya terasa sangat dingin, tapi tidak kusangka akan sedingin ini.

Langkah kaki kudengar dengan jelas dari balik ransel kecil di punggung Awan. Mereka sepertinya tengah membicarakan sesuatu, namun suaranya terhambat suara kaki yang berisik. Dengan sopan Afika mengetuk pintu kotak dengan gerendel pintu yang terbuat dari perunggu. Ornamen-ornamen yang terdapat di pintu itu membentuk sebuah simbol aneh, seperti sebuah simbol dari kultus sihir yang pernah kubaca pada sebuah buku.

“Silakan masuk!” teriak tetua desa, atau siapa pun yang tadi menjawab ketukan pintu. Suaranya parau bagai harimau yang sedang kelaparan, menyeramkan seperti hendak menerkam. Oh Tuhan, semoga saja mereka berdua akan baik-baik saja.

Beberapa meter memasuki rumah aku merasa ada sesuatu yang sangat tidak asing dari rumah tetua desa. Tempat itu memiliki banyak hiasan menyeramkan yang sudah pernah kulihat sebelumnya di suatu tempat. Seperti noda merah di dinding yang tampak seperti cipratan darah, tulang yang mirip tengkorak manusia di atas pintu lorong, hingga beberapa boneka tali yang terikat pada delapan tiang penyangga rumah.

“Permisi Pak, nama saya Awan dan ini rekan saya, Afika. Kami datang ke mari untuk meliput keadaan desa ini, dan datang ke rumah bapak untuk menanyakan beberapa hal,” ujarnya, menjelaskan maksud kedatangan, namun tetua desa tidak menjawab—ia hanya bergumam mengucap kata “sang dalang”  dan terus mengulanginya sampai membuat Afika ketakutan. Tapi tidak dengan Awan yang masih sibuk memerhatikan narasumber yang aneh ini. Aku pun masih tetap mengikuti awan, mengintip dari balik tas kecil tempatnya membawaku.

“Awan, kita pulang saja yuk. Cari narasumber yang lain.” Bisikan ketakutan Afika terdengar sangat jelas dari sini, apalagi tanpa suara langkah kaki ditambah kesunyian yang mencekam.

“Tidak, Afika, beliau adalah narasumber yang paling tepat jika kita ingin mengetahui banyak hal tentang desa Tapal Batas,” Awan menjawab dengan santai.

Afika yang sejak tadi ketakutan langsung berpindah ke belakang sambil terus menggigil ketakutan.

Namun tiba-tiba, “bruk!” sebuah boneka jatuh dari salah satu tiang rumah.

Afika masih diam, matanya melotot karena ketakutan. Aku justru tidak merasa ngeri sama sekali, malah sibuk memerhatikan sekitar. Sejenak masih memikirkan tentang sesuatu yang aneh sejak memasuki rumah ini, namun tidak tahu apa itu, masih terlalu abu-abu jika dianalisis sekarang, terlalu minim bukti dan informasi.

Setelah beberapa menit ketegangan akhirnya Afika memutuskan pergi tanpa berpamitan kepada tetua desa. Namun baru saja ia melangkah beberapa langkah kecil tetua desa kembali bergumam, “Sang dalang sedang mengikuti kalian, anak muda berhati-hatilah!” lantas kembali tertawa seperti sedang kesetanan.

Awan mengambil alat perekam milik rekannya yang tergeletak begitu saja di lantai kayu. Ia berpamitan dengan sopan kepada tetua desa kemudian berjalan santai lalu mengangkat bahu.

Malam hari di desa ini jauh lebih horor dibanding saat siang hari suasana mencekamnya tidak jauh berbeda dengan desa yang biasanya ada di film-film horor. Ditambah lagi dengan angin yang begitu kencang hingga menusuk tulang.

Beruntung sekali ada penduduk desa yang mengizinkan kami menginap di rumah dalam kamar yang sama, sehingga kalau ada sesuatu bisa dengan mudah berkomunikasi.

Pada pukul 12:00 aku mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Kulihat Awan yang sedikit terkejut, namun juga penasaran. Demi alasan konyol itulah ia kemudian mencoba bangun dari tempat tidur dan melangkah pelan menghampiri dapur. Dengan badan gemetar, mata yang sayu ini mengintip dari balik selimut bermotif, berharap semua bisa berlalu dengan cepat.

Awan melangkah hingga akhirnya sampai di pintu kamar, alangkah terkejutnya wajahnya saat melihat sesosok pria—kalau ia memang manusia dan bukan berasal dari golongan hantu, pakaiannya serba hitam—termasuk tangan dan kakinya, ia sedang mencari sesuatu di tempat penyimpanan alat makan.

 “Oh, ya Tuhan! Bagaimana kalau dia ternyata sang dalang?” Aku bergumam saat mengintip pintu yang sedikit terbuka sambil menahan kaki yang gemetar.

“Bagaimana kalau ternyata sang dalang hanya legenda yang dibuat untuk menutupi kejahatan seorang pembunuh berantai? Seperti yang dikatakan orang itu?” pikirku panik. Kalau memang begitu ini gawat, mereka berdua dalam bahaya.

Awan yang sudah selesai menyaksikan kejadian horor itu ketakutan hingga langsung melompat begitu saja ke tempat tidur lantas menutupi diri dengan selimut tebal.

Ia meraih ponsel pintar yang tergeletak di atas kasur untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantu. Sungguh sial, ia pasti lupa bahwa di desa ini belum terjangkau jaringan sinyal. Mau berteriak tapi apa daya, jika melakukan itu si pembunuh berantai mungkin justru akan mengetahui keberadaan kami.

Terdengar suara ketukan pintu yang mengagetkan bagai petir di siang bolong “Itu pasti sang dalang” pikirku dalam hati

Awan yang ketakutan langsung berlari mengunci kamar lalu kembali dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Gemetar, jantung berdegup sangat kencang bisa kurasakan saat ia memelukku dengan sangat erat. Berapa menit kemudian suara daun pintu diputar, suara yang membuat jantung berdegup semakin kencang hingga selimut mulai basah oleh keringat.

“Untung pintunya sudah terkunci,” pikirku. Namun setelah lima menit keheningan, dia kembali ke kamar, kali ini beserta suara kunci yang berhasil diputar, langsung kututup saja telinga ini—berharap tidak akan mendengar kedatangannya.

Suara langkah kakinya bak dentingan pisau yang jatuh ke telingaku, setelah beberapa menit berlalu kuberanikan diri untuk mengintip dari balik selimut cokelat bermotif. Hilang! Tidak ada siapa pun kecuali kami di ruangan ini. Dari samping tempat tidur hanya ada Afika yang sedang tidur nyenyak sampai ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

***

Pukul enam pagi, sarapan adalah hal yang penting untuk mengawali aktivitas. Selain menyehatkan, sarapan juga sangat penting supaya punya energi untuk menjalani hari yang melelahkan.

“Tadi malam aku melihat dalang, dia mengenakan pakaian serba hitam, sedang mencari sesuatu di dapur, kemudian datang ke kamar kami, aku sampai tidak bisa tidur karena itu. Ya Tuhan, menakutkan sekali,” ujar Awan dengan antusias dan ekspresi yang meyakinkan, membuka percakapan pagi itu dengan semangat.

“Masa? Aku tidak melihat apa pun tadi malam. Hei tunggu! yang kau maksud itu aku,” Afika menanggapi.

“Apa maksudmu?” Awan mengernyitkan dahi.

“Tadi malam aku kelaparan, jadi mencari makanan di dapur, namun hanya ada buah-buahan di penyimpanan makanan, jadi aku mencari pisau. Dan soal mengenakan pakaian hitam, aku sangat kedinginan, jadi aku mengenakan kaus kaki dan sarung tangan serta kupluk untuk menghangatkan kepala. Dan kenapa kau mengunci kamar? Aku sampai harus meminta kunci cadangan pada Bibi Marni,” Afika menjelaskan, sambil terus memakan nasi gorengnya.

bruk

Kulihat Awan memukul tengkuk Afika hingga membuatnya hampir tersedak, namun beruntung ia cepat-cepat meminum segelas air di meja makan.

“Apa-apaan kau! Itu berbahaya tahu!” Afika berteriak.

“Kau juga hampir membuatku terkena serangan jantung!” Awan berteriak lebih kencang.

“Sudah, jangan berkelahi, kalian ada-ada saja,” ujar bi Marni, pemilik rumah atau penginapan ini, “oh iya, bukannya kalian ada wawancara pagi ini, kalian mau mulai dari siapa?” tanyanya.

“Kami akan mewawancarai pak RT, barangkali beliau mengetahui sesuatu tentang kasus ini,” jawab Afika, “terima kasih sarapannya, kami berangkat dulu,” lanjutnya, berpamitan.

“Berhati-hatilah,” ucap si pemilik rumah, lalu tersenyum pada kami—senyum yang amat misterius.

Hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di rumah ketua RT, itu terjadi karena rumah Pak RT dan Bi Marni yang berdekatan. Setelah sampai, pintu rumah diketuk pelan.

Pak RT menghampiri dan segera membuka pintunya.

“Eh, kalian, silakan masuk,” ucap pak RT.

“Terima kasih, pak.” Lantas kami semua masuk.

“Ada perlu apa kalian datang pagi-pagi begini?”

“Maaf mengganggu aktivitas bapak, kami datang ke sini untuk bertanya mengenai kasus pembunuhan berantai yang terjadi di desa ini. Saya dengar mereka dibunuh dengan cara yang sama, bisakah Anda jelaskan bagaimana kronologisnya?” tanya Awan, mencoba untuk bersikap seformal mungkin.

“Maaf, saya tidak mengetahui kejadian itu, saat kejadian saya sedang berada di luar desa, tapi kalian bisa bertanya pada tetua desa Tapal Batas,” jawab Pak RT.

“Kami sudah mencoba bertanya, tapi beliau terlalu sibuk berkata-kata tentang ‘sang dalang’ dan menurut penelusuran kami legenda urban tersebut hanya tipu daya pembunuh berantai untuk menutupi kejahatannya. Apa tanggapan Bapak?” Awan yang masih belum menyerah kembali bertanya.

“Saya sependapat dengan Anda. Tapi maaf, saya benar-benar tidak bisa membantu.” Pak RT menjawab acuh tak acuh.

“Baik Pak, kalau begitu kami permisi.” Terpaksa kami berpamitan karena lagi-lagi menemui jalan buntu.

“Ini tidak ada gunanya! Bagaimana bisa memecahkan kasus jika semua orang justru menghindar dengan cara-cara menjijikkan itu.”

Setelah keluar dari rumah pak RT, tidak ada lagi kegiatan yang bisa kami lakukan,  mulai kebingungan untuk mencari narasumber. Hingga malam tiba hanya bisa berdiam diri di rumah sambil menatap bintang di langit.

***

Malam ini rasanya udara Desa lebih dingin dari hari kemarin. Apa mungkin ini memang hal yang normal di sini? Ah persetan, untung ada selimut tebal yang bisa memberi kehangatan.

Namun tiba-tiba terdengar suara yang sama seperti kemarin, Awan yang mendengar suara itu bersikap acuh kali ini. “Ah, paling itu Afika yang sedang kelaparan.” Mungkin itu yang ada di pikirannya.

Namun sepertinya dia berubah pikiran saat berbalik badan dan melihat Afika tengah tertidur di kasurnya. Sial sekali, tadi Awan lupa mengunci pintu kamar. Pintu itu dibuka perlahan hingga menghasilkan bunyi menyeramkan yang khas. Langkah kaki terdengar mendekat.

Refleks Awan melompat ke kasur Afika “Aduh! Apa-apaan kau!” Kemarahan Afika langsung hilang seketika saat ia melihat seseorang mengenakan pakaian khas seorang dalang, dengan membawa keris di tangan tengah berdiri menatap tajam.

Afika langsung ketakutan ketika melihatnya hingga memecahkan jendela kamar dengan pisau buah yang ia ambil kemarin lalu melompat, diikuti Awan yang juga ketakutan melihat sosoknya.

“Cepat ke mobil!” Awan berseru.

Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Afika segera masuk ke mobil. Diikuti oleh awan yang memelukku berlari secepat angin, lalu langsung melompat masuk ke dalam mobil. Mobil mulai berjalan meninggalkan tempat menyeramkan itu, deru mobil bagai suara musik yang menenangkan saat itu, begitu tenang saat tahu kami sudah lolos dari teror sang dalang.

Sejenak aku berpikir “Apakah sang dalang bukanlah hantu?" Jika benar begitu, kenapa mereka hanya meneror orang yang datang ke desa ini?.

“Arrhggg!!” terdengar teriakan yang begitu kencang, di tengah jalan gelap nan sepi, sontak Afika menekan remnya dalam-dalam hingga membuat kami terguncang.

Jantungku berdegup kencang karena ditakuti dua hal yang berbeda, hantu sang dalang dan ketakutan kami bahwa ada yang kami tabrak.

“Dodi, kau ... kau masih hidup?” Afika berkata—tidak percaya dengan apa yang ia lihat, bukan karena ia mengira orang yang dikenalnya itu tidak tertabrak, tapi Dodi dilaporkan sudah tewas dan mayatnya tidak pernah ditemukan. Tapi dengan pertemuan yang mengejutkan ini cukup untuk menjelaskan sesuatu.

“Apa yang terjadi sebenarnya Dodi? Kami dengar kau dibunuh Sang Dalang.” Aku makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, apalagi setelah mendengar percakapan mereka barusan.

Dodi pun menceritakan semuanya, dengan detail sehingga tidak ada yang tertinggal. Mulai dari kenapa sang dalang mengincar mereka, hingga saat ‘hantu’ itu mencoba membunuh Dodi. Namun di balik semua itu, pria berusia 35 tahun itu berhasil menemukan kebenaran sang dalang, sesuatu yang sejak awal sudah kucurigai.

Dodi masuk ke mobil dan mengambil alih kemudi lalu dengan cepat meninggalkan tempat yang merupakan hutan sawit itu. Setidaknya mereka bertiga bisa bernafas lega, karena bisa keluar dari tempat terkutuk itu dengan selamat.

Sembilan jam kemudian tiba di Kota Jakarta. Awan, Afika, dan Dodi memasuki kantor berita untuk mencari barang, dokumen, atau semacamnya, yang bisa dijadikan bukti untuk menangkap penjahat yang sudah membunuh begitu banyak wartawan.

Sekitar satu jam mencari, namun barang yang dicari tak kunjung ketemu, keringat dingin mengucur di pelipis, jantung berdebar sejak masuk ke kantor ini.

Malam itu, hidup ketiga wartawan dipertaruhkan untuk mengungkap kebenaran, tidak boleh salah langkah, atau sang dalang bisa membunuh mereka. Aku tahu tahu betul bahwa ketika memutuskan untuk menggali rahasia, pasti suatu saat akan menemui bahaya. Itu juga hal yang kusesalkan saat Awan menerima tugas untuk mengungkap kebenaran sang dalang. Semua ini hanya soal waktu, siapa yang lebih cepat menghabisi, dialah pemenangnya.

Setelah beberapa lama mencari, akhirnya berkas itu ketemu. Amplop berwarna cokelat berisi dokumen kepemilikan tanah di desa Tapal Batas. Baru sedetik kami senang karena menemukan dokumen yang tadi kami cari-cari, tiba-tiba saja ada orang yang masuk.

“Kau akan membayar untuk semua kejahatan yang kaulakukan!” Dodi berteriak, matanya melotot memerah.

“Apa maksudmu? Kejahatan apa?” Si pria yang baru saja masuk terkejut melihat kami. Namun tiba-tiba saja, tak ada angin tak ada hujan, orang itu berteriak.

“Baiklah, sepertinya kalian sudah tahu semuanya. Ya! Aku adalah Sang Dalang, aku memanfaatkan keluguan orang tentang kejadian gaib, dan sekarang aku akan menjadi kaya karena itu, sebaiknya kalian menyerah saja seperti wartawan-wartawan bodoh yang kukirim ke desa itu! Dan satu hal, kalian jangan lupa sedang berada di mana, kalian sedang berada di kantorku, bisa saja kutuntut atas tuduhan pembobolan dan pencurian dokumen.” Ia menunjuk ke arah kami. Kulihat sorot matanya yang begitu tajam mengintimidasi.

“Sudah kuduga dari awal, memang ada yang aneh dengan sikapmu itu. Kau terlalu santai saat mendengar berita duka tentang meninggalnya rekan-rekan wartawan, bahkan iblis pun tak akan sedingin itu saat anak buahnya tewas. Dan sekarang adalah akhir dari kejahatanmu, Sang Dalang!” Awan berteriak sedemikian keras.

“Cih! Kalian tidak akan bisa menjatuhkanku.” Si pria berjas berteriak lebih keras.

“Dasar bodoh! Kau kira sejak aku sadar akan kebusukanmu, diriku akan diam saja? Tidak, aku sudah meminta polisi untuk memonitor kegiatanmu, dan sekarang mereka pasti sedang berada di luar untuk menangkapmu!” Awan kembali berteriak tak kalah kencang dengan yang tadi.

Di saat itu juga, kami mendengar suara mobil polisi yang meraung kencang dan menangkap Pak Fajar, Bos kami yang selama ini melakukan korupsi.

***

Keesokan paginya, kutonton berita di televisi bersama Awan, kulihat detik-detik saat sang dalang ditangkap atas kasus pembunuhan dan kepemilikan ladang ganja di Desa Tapal Batas. Polisi menyebut, legenda Sang Dalang hanya cerita yang dibuat agar orang luar menjauh, sehingga ladang ganja seluas 4 hektar tetap aman.