Pengelana
2 tahun lalu · 5425 view · 5 min baca · Politik images_84.jpg
Sumber gambar : detiknews.com

Dalam Tempo Seminggu, Anies Baswedan Berubah

Mas Anies, kau telah berubah! Terlalu cepat Mas. Padahal baru satu minggu. Bagaimana pula kalau  lima tahun? Entahlah, mungkin sudah tidak ada lagi Mas Anies yang dulu kami kenal. Benar loh Mas, kami tidak pernah bermimpi  tentang Aniez Wiz Edhan.

Makin dekat ajang Pilgub DKI 2017, perseteruan antara pendukung paslon yang maju di Pilkada DKI semakin "memanas". Seakan tidak mau ketinggalan, antar paslon juga sudah saling sindir, yang sudah pasti akan segera diramaikan oleh para pendukung masing-masing.

Yang paling menarik adalah sindir-menyindir antara paslon Ahok-Djarot Vs Anies-Sandiaga.  Anies-Sandiaga terlihat sangat berkepentingan untuk menafikan kerja Ahok-Djarot selama ini. Sambil terus menyundul Ahok, dengan aksinya yang tak henti merelokasi warga di bantaran sungai, mereka berharap mendapat simpati dengan menunjukkan kepedulian  mereka atas apa yang dialami oleh warga.

Munculnya Anies sebagai pasangan Sandiaga sebenarnya cukup menimbulkan tanda tanya.  Pasangan ini diputuskan tepat pada hari H pendaftaran paslon ditutup.

Pengamat amatiran seperti saya menilai, munculnya nama Anies merupakan strategi Gerindra dan PKS untuk menarik dukungan massa Pak Jokowi yang tidak mendukung Ahok. Guna menambah massa PKS yang menjadi kekuatan ril pendukung Sandiaga, mereka perlu tambahan massa dari luar PKS, dan itu hanya bisa didapat dengan mengusung sosok Anies guna  menggembosi pendukung Ahok.

Mayoritas massa Gerindra di DKI diprediksi sudah hengkang, bersamaan dengan hengkangnya Ahok dari Gerindra. Sisanya yang masih bertahan, sepertinya juga ikut kabur karena sudah tidak tahan melihat tingkah M Taufik dan Sanusi, dan juga sudah jenuh dengan muka Fadli Zon dan Habiburrokhman yang menyebalkan itu.

Upaya menghentikan Ahok melalui jerat hukum, juga sirna sudah. Sementara, petahana dan Ahokers semakin gencar memperlihatkan berbagai keberhasilan dalam memimpin Ibukota.

Sungai atau kali yang semakin jernih, jalanan yang semakin bersih dan rapi , taman kota yang hijau dan asri, dan juga kinerja dan layanan birokrat dan pegawai pemprov yang semakin cepat, ramah dan sigap, membuat pesaing begitu kesulitan untuk bermanuver. Fakta berbicara, dan bukti ada di depan mata, tidak terbantahkan.

Apapun caranya, prestasi petahana harus  "ditutupi". Jika tidak, elektabilitas mereka akan jauh  melesat di depan, sendirian tanpa lawan.  

Dan seiring dengan berjalannya waktu, dengan semakin banyak fasilitas yang dibangun; banyaknya kemudahan dan bantuan yang diberikan kepada warga; hibah yang diberikan ke daerah tetangga; perbaikan dan pengadaan  berbagai sarana dan prasarana; dan juga kesejahteraan pegawai yang semakin baik, di atas kertas merupakan modal petahana yang sangat  sulit untuk bisa ditandingi.

Dan herannya, anggaran yang digunakan atau serapan APBD tidaklah seboros zamannya gubernur yang lalu-lalu, yang selalu nyaris habis tanpa sisa, namun hasilnya tidak terlalu membekas, menguap entah kemana.

Adalah Anies Baswedan, yang entah masukan dari siapa baru-baru ini membuat pernyataan bahwa sungai-sungai di Jakarta semakin bersih dan airnya mulai jernih karena Fauzi Bowo. Ia secara sengaja hendak menafikan prestasi petahana dan memberi kredit kepada Fauzi Bowo.

Entahlah, harus bagaimana mengungkapkan ketidakpercayaan ini atas perubahan mendadak yang terjadi pada Anies. Padahal, baru seminggu ia ada di kubu pengusungnya. Bagaimana pula setelah lima tahun, apa yang akan terjadi pada Mas Anies?

Meskipun fakta sudah berbicara, dan sebelumnya juga, Mas Anies tidak pernah usil, ketika masih ada di kabinet Jokowi. Tiba-tiba Mas Anies berubah. Ia sepertinya mulai terjangkit dengan typikal orang orang di kubu pengusungnya, yang  selama ini terus berupaya mendiskreditkan dan menafikan prestasi Ahok selama memimpin ibukota.

Namun, pernyataan  Mas Anies kali ini terlalu sulit untuk bisa  dipercaya berasal dari Mas Anies. Harus dengan cara seperti itukah? Mas Anies tiba-tiba mengadopsi cara haters Ahok, yang selama ini berkeras bahwa Ahok adalah dusta yang disamarkan dan selalu dibenarkan.

Namun sulit dibantah, ucapan Mas Anies ini adalah fakta yang hendak didustakan. Fakta yang terlalu nyata untuk bisa didustakan, apalagi dengan mengkreditkannya kepada Fauzi Bowo. Harus sebegitunyakah Mas Anies?

Secepat itukah Mas Anies berubah? Padahal, Mas Anies sangat tahu, betapa  besarnya selama ini kebencian, yang menjadi energi bagi haters Ahok untuk terus meyakinkan siapapun agar yang namanya Ahok  jangan sampai ikutan di Pilgub 2017.

Mereka yang hatinya telah dicengkeram oleh kebencian, dusta pun akan dipaksakan menjadi kebenaran, dan kebenaran pun akan didustakan. 

Bukankah itu sangat cukup untuk menyimpulkan bahwa ketakutan dan kebencian telah memaksa haters untuk berdusta? Dan, bisa-bisanya Mas Anies mengadopsi cara-cara mereka, yang sudah pasti didorong oleh ketakutan bahwa Ahok pasti akan terpilih kembali. Itu juga lah yang memaksa mereka untuk terus mengagalkannya supaya jangan sampai terjadi.

Bahkan,  Mas Anies dengan santunnya berusaha meyakinkan orang bahwa Ahok tidak melakukan apa-apa selama menjabat Gubernur DKI,  yang bekerja adalah Fauzi Bowo, bagaimana bisa?

Begitulah, jika kebencian yang berbicara, yang benar pun akan dibilang salah. Dan segala hal akan selalu salah. Jika misalnya, ada pejabat DKI yang bobrok, mereka akan segera mengatakan: “ Habis, gubernurnya si Ahok.” Padahal, sangat mungkin apa yang dilakukan oleh pejabat tersebut tidak ada urusannya dengan Pak Ahok, namun akan dipaksakan bahwa itu terjadi karena kesalahan Pak Ahok. 

Demikian pula  ketika sungai- sungai di Jakarta sekarang makin bersih, tidak lagi dipenuhi sampah dan bebas bau. Jika haters masih bisa mengakui  bahwa itu karena pasukan oranye atau pasukan biru yang bekerja, dan tidak ada peran Ahok sama sekali di sana. Kenapa justru Mas Anis bisa lebih parah dari haters?

Mas Anies pasti tahu, betapa lihainya kebencian mendustakan kebenaran. Dan itulah yang sedang terjadi di setiap huru- hara dan aksi para haters menolak Ahok. Dan Mas Anies sekarang sudah menjadi salah satu dari mereka meskipun dengan cara Mas Anis yang santun.

Apakah Mas Anies sudah lupa seperti apa rasanya dizholimi saat Mas Anies  mendukung Pak Jokowi? Namanya orang dizholimi, pastilah orang yang memilki nurani akan bersimpati. Bahkan, sekalipun yang dizholimi itu layak dan pantas dizholimi,  nurani  tidak akan pernah membenarkannya.

Ini soal rasa Mas Anies,  dan jika itu terus dipelihara, perlahan dan pasti , ia akan membunuh nurani. Itulah kebencian, jika ia tidak segera dibinasakan, maka ia akan minta dipuaskan dan dibalaskan. Dan kebencian yang dibalaskan akan melahirkan dan melipatgandakan kebencian. 

Mas Anies tidak mungkin tidak tahu, bahwa Kebencian tidak akan pernah selesai dengan kebencian,  lalu kenapa Mas Anies  menyalakan kembali kebencian yang hampir redup?

 Mungkin saja Mas Anies menganggapnya hanya sekedar menumpang lewat, namun pernyataan Mas Anies ini justru memberi jalan dan tempat untuk kebencian, dan membiarkannya menginap dan menetap di hati Mas Anies, pecayalah!

Benar Mas, jangan  mengotorinya dengan kebencian. Kami tidak pernah menyangka akan seperti ini loh Mas!

Mas Anies kan pencetus Indonesia Mengajar? Masakan yang diajarkan yang beginian Mas? 

Sesungguhnya, kita adalah apa yang kita isi didalamnya. Oleh karena itu pikirkan dan  pilihah yang baik, yang benar, sedap didengar, yang disebut kebajikan, apa yang patut dipuji.

Terlalu, jika Mas Anies berubah setelah seminggu dikelilingi para hater itu. Mas Anieslah yang seharusnya mengubah mereka, bukan Mas Anies yang berubah dan menjadi serupa dengan mereka.

Artikel Terkait