Membicarakan mengenai mahasiswa pasti tak jauh dari perkuliahan dan tugas. Atau bisa dibilang tugas adalah makanan sehari-hari bagi para mahasiswa tentunya dengan deadline yang tidak lama pula.

Walaupun banyak orang bilang kuliah hanya sebatas titip absen saja atau hanya sebatas datang mendengarkan lalu pulang. Banyak juga yang mengatakan bahwa kuliah itu lebih banyak mainnya daripada belajar. Namun hal itu tidak berlaku di kala pandemi seperti ini, karena seluruh kegiatan dilaksanakan secara daring.

Ya, yang awalnya mereka dapat bebas untuk bertemu temannya di kampus, menginap di kosan teman, atau malah menginap di kampus, sekarang jadi tidak bisa dilakukan mengingat pandemi ini yang belum mereda.

Sekarang ini mahasiswa identik dengan setiap hari duduk dan memandangi laptop ataupun handphone mereka. Banyak orang tua yang sering mengatakan “mainan HP mulu belajarnya kapan?”. Padahal kemungkinan saat mereka membuka HP atau laptop itu mereka sedang belajar atau mungkin sedang bergelut dengan tugasnya.

Adanya pandemi ini tentu menuai kelebihan dan kekurangan bagi mahasiswa, dosen dan orang tua.

Misalnya saja dari segi kelebihan, tentu mereka bisa lebih bebas saat jam pelajaran karena tidak diawasi secara langsung atau mereka lebih flexible untuk melakukan hal-hal lain dari perkuliahan seperti, mereka dapat mengikuti kelas sambil rebahan, makan, atau bahkan ditinggal tidur.

Selain itu mereka dapat lebih mudah untuk memelajari materi pada hari itu di kemudian hari karena adanya sistem record meeting.

Kelebihan yang lain, dari segi orang tua yakni mereka yang anaknya merantau tidak perlu membayar kos atau biaya hidup sehari-hari karena anak-anaknya tinggal di rumah.

Dalam perkuliahan daring ini juga secara tidak langsung kita dapat menghemat penggunaan kertas, yang dulunya semua serba hardcopy atau ada dalam bentuk fisik sekarang lebih mudah karena cukup dengan softcopy saja

Dari segi kekurangan, banyak mahasiswa yang merasa bahwa semenjak diadakan perkuliahan secara daring mereka lebih banyak menerima tugas daripada saat perkuliahan secara luring. Selain itu, mahasiswa juga kurang maksimal dalam menerima materi karena tidak semua lingkungan tempat tinggalnya mendukung.

Tak hanya itu, terdapat beberapa mata kuliah yang tidak dapat dijangkau jika dilaksanakan secara daring, salah satu contohnya yaitu praktikum. Sehingga mau tidak mau, pihak akademik kampus harus menunda mata kuliah tersebut dan menggantinya dengan mata kuliah semester yang akan datang.

Kurangnya interaksi antara dosen atau pengajar dengan mahasiswa juga merupakan salah satu kekurangan dari kuliah daring, sehingga mahasiswa cenderung hanya mendapatkan ilmu dari mata kuliah tersebut, tanpa diimbangi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kemendikbud, 90% mahasiswa lebih memilih pekuliahan secara tatap muka atau luring. Ini menunjukkan perkuliahan secara tatap muka dianggap lebih efektif daripada perkuliahan secara daring.

Hal ini nampaknya dikarenakan kurang mendukungnya fasilitas untuk menunjang perkuliahan secara daring di kota-kota terpencil, yang mana kita ketahui bersama bahwa internet adalah salah satu hal pokok atau utama agar perkuliahan secara daring dapat berjalan lancar.

Selain internet, laptop atau komputer juga sangat dibutuhkan dalam perkuliahan daring ini, padahal kita ketahui bersama tingkat ekonomi di Indonesia sangat tidak merata. Jadi, dosenpun tidak dapat memaksakan seluruh mahasiswanya memiliki laptop atau komputer.

Banyak dosen yang menganggap bahwa dengan perkuliahan daring mahasiswa lebih memiliki banyak waktu luang, padahal kenyataannya sama aja atau bahkan lebih sibuk karena mereka terkadang harus sambil membantu orang tuanya. Hal itu menjadikan dosen memberikan tugas lebih banyak daripada sebelumnya.

Kenyataannya para mahasiswa membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami materi pembelajaran, maka tugas yang diberikan pun membutuhkan waktu yang lebih lama pula untuk menyelesaikannya. Tak ayal banyak mahasiswa yang mengeluhkan hal itu.

Keaktifan mahasiswa di kelas juga menurun selama perkuliahan secara daring. Sehingga kurangnya keingintahuan dari mahasiswa menyebabkan banyak dosen yang mengira bahwa mereka sudah paham dengan materinya. Dengan demikian, tidak dapat disalahkan hanya dari satu pihak tanpa melihat pihak lain.

Mahasiswa juga cenderung menyepelekan penjelasan yang diberikan oleh dosen. Sistem ujian yang kurang ketat menjadi salah satu alasannya, mereka lebih mudah untuk berbuat curang disaat ujian secara online.

Seharusnya mahasiswa dan dosen sama-sama berusaha untuk menciptakan suasana kuliah sama seperti ketika luring walaupun dilaksanakan dirumah masing-masing.

Tentu semua orang tak hanya mahasiswa berharap agar pandemi ini segera usai, agar perkuliahan dapat berjalan seperti semula.

Mahasiswa baru dapat mendapatkan kesempatan untuk merasakan perkuliahan secara langsung dikampus, mahasiswa tingkat akhir dapat mendapatkan keleluasaan untuk menyusun tugas akhirnya dan mahasiswa dapat menggunakan fasilitas dari kampusnya pula.

Juga dengan diadakan perkuliahan secara luring mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan komunikasinya atau dapat bersosialisasi dengan para penghuni kampus yang lain.