Malam-malam masuknya waktu istirahat setelah kelelahan seharian kerja, handphone (hp) berbunyi  berkali-kali beserta getarannya berdesir di telinga, semakin keras karena berada di atas meja kaca dalam kamar. Saya tengok dari jarak 2 meter sambil deredebb was-was hati membuat tanya, siapa nelpon malam-malam buta? (Khawatir, kabar kurang baik dari keluarga nun jauh disana)

Saya yang sedang mengadu nasib di Ibu Kota Provinsi Palangka Raya sedangkan orangtua Pangkalan Bun. Meskipun satu provinsi dengan jarak tempuh lebih kurang 8 jam menggunakan transportasi darat. Pasti Selalu khawatir saat mendengar bunyi panggilan di hp waktu tengah malam buta.

Untuk  mengakhiri kewas-wasan, saya pun beranjak dari kasur dan meraih hp yang berdering disusul getarannya terus-terusan. “Assalamu’alaikum bang.” Suara perempuan sendu sambil terseguk-seguk menangis.

“Waalaikumsalam.” Saya jawab santai.

Nomor yang tidak dikenal membuat saya pangling, ditambah suara terseguk-seguk. Setelah ia menyebutkan nama, barulah saya tau kalo dia Anisa. Ia mengadu, jika dirinya sudah selama satu minggu ini putus dengan pacarnya Dani. Ia mengadu kepada saya, karena dia tau jika Dani itu sepupu dekat saya.

keduanya memang sudah hampir satu tahun menjalin hubungan. Tak disangka putus begitu saja, padahal selama ini kelihatannya baik-baik saja. Tapi memang belakangan ini Dani di snapgramnya selalu nulis kata-kata indah, yang menurut intuisi saya sedang ada masalah. 

Anisa mengutarakan bahwa Dani berubah sikapnya selama ini, padahal sepengetahuannya tidak pernah melakukan kesalahan yang membuat Dani kecewa. Hanya saja belakangan ini mereka jarang bertemu. Seribu tanda tanya merasuki pikirannya. Namun intinya ia tetap mencintai Dani dan berharap menyambung hubungan kembali seperti sedia kala. "Oh, Begitu," pikir saya. Sejenak jiwa kepahlawanan saya meronta-ronta.

Agar tidak terjebak dalam situasi membela karena mendengar dari satu sisi, maka saya mencoba mendengar dari sisi Daninya juga. Setelah panjang lebar Dani menjelaskan permasalahan ini kepada saya, barulah mengerti.  Pada intinya Dani pun masih mencintai Anisa dan juga berharap bisa kembali kepadanya.

Benang merah sudah saya pegang untuk kemudian ditarik untuk membuka ruang solusi dari permasalahan. Sesungguhnya mereka hanya berada pada fase lelah dalam menjalani hubungan. Anyway persoalan ini akan melanda setiap anak manusia. Yang namanya juga manusia, kadang punya semangat dan kadang juga bisa lelah.

Untuk menyematkan bintang penghargaan sebagai pahlawan kesiangan, saya mulai mengetik pesan di hp yang ingin saya japri kepada keduanya : Dalam setiap hubungan, pasti akan ada fase dimana kita akan lelah, itu wajar! Mungkin karena faktor-faktor yang dianggap sepele, terlebih menjalani hubungan yang membosankan atau bentuk komunikasi yang begitu-gitu saja. Maka diantara keduanya harus berinisiatif selalu menciptakan suasana baru. Saya tahu kalian masih saling mencintai, coba saja sedikit menurunkan egois kalian, maka hubungan kalian bisa dirajut kembali dengan baik dan tambah harmonis.

***

Anregurutta Kiyai Sanusi Baco pada peringatan haul sewindu KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) memberikan testimoni tentang keistimewaan Gusdur semasa mengeyam pendidikan di Kairo Mesir. Beliau menceritakan bahwa saat Gusdur di kamarnya yang sambil duduk membuka catatannya, terlihat foto perempuan diselipan buku catatannya. Seketika Kiyai Sanusi bertanya.

”Foto siapa itu Gus?” Sambil bercanda.

“Tau lah, Calonku,” jawab gusdur sembari cepat menutup buku catatannya kembali.

“Bagaimana bisa belajar, jika ada itu foto.” Menasehati Gusdur dengan logat khas timur Indonesia.

”Malah ini yang mendorong saya belajar,” jelas Gusdur!

Foto Nyai Sinta Nuriyah istri Gusdur memang selalu tersimpan di buku catatannya, dari sebelum menikah dan belajar di Kairo, sampai beliau pulang ke Indonesia. Beliau Kiyai Sanusi Baco menambahkan bahwa Gusdur pernah sakit cinta dan tidak pernah sembuh sampai akhir hayatnya.

Selain menjadi istri yang baik bagi Gusdur, Nyai Sinta Nuriyah adalah seorang ibu dari empat putrinya dan juga sebagai ibu yang memperjuangkan kemanusiaan yang telah diakui dunia Internasional.

Seorang Ibu adalah sosok makhluk yang tangguh, ia diciptakan Tuhan dengan membawa keistimewaan rasa kasih sayang yang lebih besar dibanding laki-laki. Berjuang selama lebih kurang 9 bulan mengandung, melahirkan dengan bertaruh nyawa, dan berjerih payah membesarkan anaknya.

Kasih sayang Ibu bagi insan di dunia ini menjadi penenang di dalam ruang kebingungan, penyemangat dalam setiap kelelahan, obat dalam puncak kerinduan, sampai-sampai tajamnya waktu tak mampu mengirisnya. Seorang buta pernah berkata bahwa dirinya tidak pernah takut menghadapi dunia, karena Ibu selalu ada menuntunku, tetapi saat Ibuku telah tiada, aku merasa buta dua kali. Demikian pun Presiden Amerika Abraham Linclon, saat ditanya buku apa yang tidak pernah selesai kamu baca? Ia menjawab, Ibu.

Mengapa kasih sayang Ibu begitu besar kepada anaknya?

Karena Allah telah menciptakan "rahim" dalam diri perempuan. mungkin sebagian orang akan beranggapan ini adalah hal yang biasa, rahim hanya dipandang sebagai tempat dimana manusia sebelum dilahirkan ke dunia. Padahal rahim adalah salah satu nama Allah yang terkumpul dalam asmaul husna-Nya, yaitu "Arrahim" yang artinya Maha Penyayang. Kenapa nama semulia itu ada dalam diri seorang perempuan? Apabila kita ingin melihat sebagian kasih sayang Allah kepada makhluknya, maka lihatlah kasih sayang Ibu kepada anaknya.