1 tahun lalu · 467 view · 4 menit baca · Filsafat 92107_30274.jpg
www.ida2at.com

Dalalah Lafzhiyyah dan Pembagiannya

Ngaji Mantik (Bag. 6)

Pada tulisan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa dalalah atau signifikasi itu terbagi dua: ada dalalah lafzhiyyah (signifikasi verbal), ada dalalah ghair lafzhiyyah (signifikasi non-verbal). Apa yang membedakan keduanya?

Perbedaannya sangat sederhana. Jika yang pertama petunjuknya itu diperoleh melalui suara dan lafaz, maka petunjuk yang kedua diperoleh melalui apa saja selain lafaz; bisa gerak tubuh, isyarat, benda mati, mimik wajah, dan lain-lain.

Tulisan ini akan membahas dalalah jenis pertama beserta pembagiannya.

Pengertian Dalalah Lafzhiyyah

Dalalah artinya petunjuk, lafzhiyyah artinya berbentuk lafaz. Dengan demikian, secara singkat, dalalah lafzhiyyah bisa diartikan sebagai dalalah yang petunjuknya diperoleh melalui lafaz. Untuk lebih memperjelas, kita ambil contoh yang sederhana.

Anda sedang pedekate dengan seorang perempuan. Setiap hari Anda berkirim pesan dengan perempuan itu. Malam telponan, pagi WhatsApp-an, siang sms-an. Lalu, suatu waktu perempuan tersebut mengutarakan kata “sayang” kepada Anda. Misalnya dia bilang: “Sebenarnya kalau boleh jujur aku tuh sayang banget sama kamu. Tapi aku malu mengutarakan hal itu. Aku berharap kamu menerima cintaku. Aku mohon.

Oke. Sekarang kita lihat. Kata “sayang” yang dia utarakan itu tentu menunjukan sebuah makna. Dari kata tersebut, misalnya, Anda bisa berkesimpulan—atau setidaknya menduga—bahwa dia itu memiliki perasaan tertentu kepada Anda. Kata "sayang" yang diutarakannya telah mendaratkan sebuah makna di kepala bahkan dada Anda.

Saya yakin setelah mendengar kata itu dada Anda akan semakin lebar. Sebagai salah satu korban penikungan, saya bisa merasakan sensasi kebahagiaan itu. Menerima kata sayang dari orang yang kita cinta itu bagaikan masuk sorga sebelum ajal tiba. 

Kata “sayang” yang diutarakan oleh perempuan itu namanya dâl, karena dia yang menjadi petunjuk, sedangkan gambaran atau makna yang Anda dapatkan dari kata tersebut namanya madlûl. Jenis dalalah-nya adalah dalalah lafzhiyyah. Karena petunjuknya diperoleh melalui lafaz.

Kita ambil contoh lain. Suatu ketika Anda sedang duduk manis sambil menonton tv di dalam kamar. Lalu, beberapa menit kemudian Anda mendengar suara aneh yang mirip dengan suara perempuan. Tiba-tiba buluk kuduk Anda merinding.

Kemudian Anda menduga bahwa itu adalah suara kuntilanak, atau suster ngesot, atau apalah misalnya. Nah, suara yang Anda dengar itu namanya dâl, sedangkan makna yang Anda tangkap dari suara itu namanya madlûl. Jenis dalalah-nya adalah dalalah lafzhiyyah, karena ia diperoleh melalui suara.

Dalalah lafzhiyyah ini, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, terbagi kedalam tiga bagian: ada ‘aqliyyah (rasional), thabi’iyyah (natural) dan wadh’iyyah (kontekstual). Apa perbedaan antara ketiganya? Rincian penjelasannya sebagai berikut:

Dalalah Lafzhiyyah ‘Aqliyyah (Signifikasi Verbal-Rasional)

Petunjuk dalam dalalah ini diperoleh melalui lafaz, dan yang memastikan adanya keterkaitan antara yang menunjuk dengan yang ditunjuk adalah akal. Contoh: Suara orang minta tolong. Anda sedang asyik nongkrong di pinggir jalan, misalnya. Kemudian tiba-tiba ada suara minta tolong.

Ketika mendengar suara minta tolong, akal Anda tentu akan memastikan bahwa lafaz atau suara yang Anda dengar itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya. Adanya suara minta tolong itu menunjukan keberadaan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Nah, ini namanya dalalah lafzhiyyah ‘aqliyyah. Petunjuknya kita peroleh melalui lafaz. Dan yang bisa menangkap adanya keterkaitan antara yang menunjuk dengan yang ditunjuk itu ialah kemestian akal.  

Dalalah Lafzhiyyah Thabi’iyyah (Signifikasi Verbal-Natural)

Sama halnya dengan jenis dalalah lafzhiyyah yang pertama, petunjuk dalam dalalah ini kita peroleh melalui lafaz. Bedanya, jika yang pertama bersandar pada akal, maka yang kedua ini bersifat natural.

Dengan kata lain, yang memastikan adanya keterkaitan antara dal dengan madlul dalam dalalah ini bukan kemestian akal, seperti contoh pertama, melainkan kebiasaan manusia yang bersifat natural (thabi’iy). Misalnya ada orang berkata “aduh”, atau “ah”.

Umumnya, dalam keseharian kita, suara aduh itu mengisyaratkan makna yang beragam. Bisa jadi kata tersebut menunjukan rasa sakit, bisa jadi hanya ekspresi kekesalan, bisa jadi menunjukan kekecewaan, bisa jadi mengisyaratkan kemarahan, dan lain sebagainya.

Tapi yang pasti, kata “aduh” itu menunjukan makna tertentu. Dan ia dilafalkan secara natural. Karena itu, yang menangkap adanya keterkaitan antara kata tersebut dengan makna yang ditunjuknya bukan kemestian akal, melainkan watak kemanusiaan yang bersifat natural.

Dalalah Lafzhiyyah Wadh’iyyah (Signifikasi Verbal-Kontekstual)

Jika dalalah jenis pertama bersandar pada akal, dan yang kedua bersifat natural, maka petunjuk dalam dalalah yang ketiga ini diperoleh melalui konteks kebahasaan (al-Wadh’ al-Lughawiy).

Dengan kata lain, yang memastikan adanya keterkaitan antara dal dengan madlul dalam dalalah ini adalah lafaz itu sendiri, berdasarkan konteks kebahasaan yang sudah disepakati, baik oleh para ahli bahasa ataupun manusia pada umumnya.  

Setiap lafaz yang bermakna yang kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari biasanya menunjuk makna-makna tertentu yang sudah kita sepakati bersama. Misalnya, selama ini kita sudah sepakat bahwa kata manusia itu menunjuk makhluk hidup yang bisa berpikir.

Kata mobil itu menunjuk kendaraan darat bermesin yang beroda empat atau lebih, yang biasa kita lihat di jalanan. Kata pulpen itu menunjuk alat tulis tertentu yang biasa kita pakai. Kata kasur itu menunjukan barang yang biasa kita gunakan sebagai alas tidur. Dan lain sebagainya.

Manakala kita menyebut lafaz-lafaz tersebut, seketika itu juga makna-makna yang ditunjuknya mendarat di kepala kita. Yang mengatakan adanya keterkaitan antara lafaz-lafaz itu dengan makna-makna yang ditunjuknya bukan kemestian akal, juga bukan kebiasaan, melainkan konteks kebahasaan.

Nah, ini namanya dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah. Inilah satu-satunya dalalah yang dijadikan dasar dalam ilmu mantik. Dua dalalah selainnya, yakni ‘aqliyyah dan thabi’iyyah, tidak dianggap (ghair mu’tabar).

Mengapa? Karena, seperti yang saya jelaskan pada tulisan yang lalu, petunjuknya tidak berlaku sepanjang waktu dan juga tidak berlaku bagi semua orang.

Misalnya suara aduh yang saya contohkan tadi. Apa petunjuk yang bisa kita tangkap dari suara aduh itu? Kata aduh tidak selamanya identik dengan ekspresi rasa sakit. Dan orang yang kesakitan tidak selamanya berteriak aduh. Ada yang berteriak “aw”, “ah”, “adaw”, “sialan”, “jiancuk”, “kampret” dan sebagainya.

Kesimpulannya, dalalah lafzhiyyah adalah petunjuk yang diperoleh melalui lafaz. Pembagiannya ada tiga, yaitu 'aqliyyah, thabi'iyyah, dan wadh'iyyah.

Dari tiga macam dalalah tersebut, dalalah yang mu’tabar atau yang dijadikan sandaran dalam ilmu mantik ialah dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah, yakni dalalah yang petunjuknya diperoleh melalui lafaz, dan yang menangkap adanya keterkaitan antara yang menunjuk dengan yang ditunjuk ialah konteks kebahasaan, bukan akal, juga bukan kebiasaan.