1 year ago · 404 view · 4 menit baca · Filsafat 81764_14759.jpg
www.alyaseer.net

Dalalah Ghair Lafzhiyyah dan Pembagiannya
Ngaji Mantik (Bag. 7)

Suatu kali saya pergi ke sungai nil bersama teman-teman diskusi saya. Selain disuguhi pemandangan yang menawan dan indah, di pinggiran jalan saya juga menemukan adanya tong-tong yang berisikan tumpukan sampah.

Ketika melihat sampah, seketika itu juga akal saya memastikan bahwa sampah ini tidak datang dengan sendirinya. Ia dibuang oleh seseorang, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.

Sampah yang saya lihat itu namanya dâl, dan kesimpulan saya bahwa ada orang yang membuang sampah itu namanya madlûl. Tapi, pertanyaannya, apakah keterkaitan antara dal dengan madlul dalam dalalah ini ditunjukan oleh lafaz, seperti contoh dalalah sebelumnya? Jawabannya tidak.

Yang menjadi petunjuk dalam hal ini hanya benda mati, yaitu sampah. Bukan suara, juga bukan kata-kata. Dengan demikian, contoh tersebut bisa dimasukkan dalam kategori dalalah ghair lafzhiyyah (signifikasi non-verbal). Karena petunjuknya tidak diperoleh melalui lafaz.

Seperti halnya dalalah lafzhiyyah, dalalah ghair lafzhiyyah ini juga dibagi tiga, yaitu ‘aqliyyah (rasional), thabi’iyyah (natural), dan wadh’iyyah (kontekstual). Apa yang membedakan ketiganya? Rincian penjelasannya sebagai berikut:

Dalalah Ghair Lafzhiyyah ‘Aqliyyah (Signifikasi Non-Verbal Rasional)

Contoh yang penulis sebutkan di atas adalah contoh jenis dalalah ghair lafzhiyyah ‘aqliyyah. Mengapa? Karena petunjuk yang diperoleh bukan melalui lafaz, dan yang menunjukan adanya keterkaitan antara dâl dengan madlûl adalah akal. Ketika saya melihat sampah, akal sayalah yang mengatakan bahwa sampah yang saya lihat itu menunjukan adanya orang yang membuang sampah.

Contoh lain: Anda berjalan di tepi pantai. Kemudian, di atas tumpukan pasir Anda menemukan ukiran love yang biasa dibuat oleh abg-abg alay zaman now. Ukiran pasir yang membentuk love itu tentu tidak terbentuk dengan sendirinya. Akal Anda akan mengatakan bahwa ukiran tersebut pasti dibuat oleh seorang manusia yang sedang dimabuk asmara. 

Ukiran love di atas pasir itu namanya dâl, sedangkan makna yang Anda tangkap dari gambar itu namanya madlul. Jenis dalalah-nya adalah dalalah ghair lafzhiyyah ‘aqliyyah. Mengapa? Karena petunjuknya tidak diperoleh melalui lafaz, dan yang bisa menangkap adanya keterkaitan antara dâl dengan madlûl dalam dalalah tersebut adalah akal.

Contoh-contoh lain, saya kira, cukup banyak. Intinya, selama petunjuk itu tidak diperoleh melalui lafaz, dan yang memastikan adanya keterkaitan antara dâl dan madlul itu adalah akal, maka ia disebut sebagai dalalah ghair lafzhiyyah ‘aqliyyah (signifikasi non-verbal rasional)

Dalalah Ghair Lafzhiyyah Thabi’iyyah (Signifikasi Non-Verbal-Natural)     

Sama halnya dengan yang pertama, petunjuk dalam dalalah ini juga tidak diperoleh melalui lafaz. Tapi, bedanya, jika yang pertama bersandar pada akal, maka yang kedua ini bersandar pada kebiasaan yang bersifat natural.

Misalnya, orang itu pada umumnya kalau lagi galau tingkat berat mukanya terlihat pucat. Kepucatan wajah itu namanya dal, dan kegalauan yang Anda pahami dari wajah yang pucat itu namanya madlul. Dalalah-nya disebut dalalah ghair lafzhiyyah thabi’iyyah. Mengapa? Karena petunjuknya tidak diperoleh melalui lafaz, dan yang memastikan adanya keterkaitan antara dal dengan madlul ialah kebiasaan manusia yang bersifat natural. 

Contoh lain: Bibir cewek yang lagi cemberut. Ketika Anda melihat pacar Anda memonyongkan bibir, tentu Anda akan memahami sesuatu dari pemonyongan bibir yang ditunjukkan oleh pacar Anda itu.

Umumnya, pemoyongan bibir adalah tanda cemburu. Tapi sebenarnya tidak selamanya kalau ada cewek memonyongkan bibir itu bisa diartikan cemburu. Lagi-lagi, itulah alasan kenapa dalalah semacam ini tidak masuk kedalam jantung pembahasan ilmu mantik. 

Dalalah Ghair Lafzhiyyah Wadh’iyyah (Signifikasi Non-Verbal Kontekstual)

Kita semua tahu bahwa lalu lintas yang ada di pinggiran jalan itu mengisyaratkan makna-makna tertentu. Lampu merah mengisyaratkan berhenti, lampu hijau tanda boleh melaju, dan lampu kuning tanda harus berhati-hati.

Ketika Anda mengendarai motor, lalu Anda melihat lampu merah, dengan sendirinya Anda paham bahwa Anda harus berhenti. Lampu merah itu mengisyaratkan keharusan berhenti.

Dan yang mengisyaratkan hal tersebut bukan akal, juga bukan kebiasaan yang bersifat natural, melainkan aturan yang berlaku dan disepakati oleh semua orang. Lampur merah itu namanya dal. Sedangkan makna yang kita tangkap dari kilauan lampu merah itu namanya madlul. Jenis dalalah-nya adalah dalalah ghair lafzhiyyah wadh’iyyah.

Contoh lain: Bendera kuning di depan gang. Di banyak daerah, bendera kuning yang dipasang di depan halaman atau gang rumah itu biasanya menunjukan adanya orang yang meninggal.

Saya juga tidak mengerti kenapa warna kuning yang dipilih. Tapi yang pasti, orang-orang di Indonesia pada umumnya sepakat bahwa bendera kuning itu mengisyaratkan kesedihan.

Ketika Anda melihat bendera kuning di depan gang rumah Anda, kemudian Anda tahu bahwa di sana ada orang yang meninggal, maka petunjuk yang Anda dapatkan itu masuk dalam kategori dalalah ghair lafzhiyyah wadh’iyyah.

Karena petunjuk yang Anda dapatkan bukan melalui lafaz, dan yang menunjukan adanya keterkaitan antara dal dengan madlul ialah konteks adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku pada umumnya.

Tiga macam dalalah ghair lafzhiyyah ini tidak menjadi fokus perhatian ilmu mantik, seperti yang sudah penulis terangkan sebelumnya. Mengapa? Karena, sekali lagi, selain tidak jelas, ia tidak berlaku sepanjang waktu, juga tidak berlaku bagi semua orang.

Misalnya seperti bendera kuning yang saya contohkan tadi. Apakah setiap bendera kuning itu mengisyaratkan kesedihan? Tentu saja tidak. Di negara lain, seperti di Tiongkok, bendera kesedihan itu warnanya putih. Di Barat warnanya hitam. Dan di negara lain mungkin beda lagi.

Begitu juga dengan mimik wajah. Orang yang lagi malu kadang menunjukan mimik wajah yang agak memerah. Tapi, apakah itu berlaku bagi semua orang? Tentu saja tidak. Ada yang ketika malu hanya bisa menundukkan kepala. Ada yang cuma senyum-senyum. Bahkan ada yang tidak menunjukan ekspresi apa-apa.

Kesimpulannya, dalalah ghair lafzhiyyah ialah petunjuk yang tidak diperoleh melalui lafaz. Pembagiannya ada tiga: Satu, ‘aqliyyah. Dua, thabi’iyyah. Tiga, wadh’iyyah. Yang pertama bersandar pada akal, yang kedua bersifat natural, dan yang ketiga bergantung pada konteks adat istiadat atau kebiasaan yang disepakati oleh banyak orang.