Pegawai Negeri
2 tahun lalu · 254 view · 3 menit baca · Agama pcnu-brebes-ajak-lawan-hoax-dengan-perkuat-dakwah-di-medsos.jpg
sumber: google

Dakwah yang Ternoda Hoax

Adalah Ummul Mukminin, Ibunda Para Mukminin, Aisyah dalam suatu perjalanan tertinggal dari rombongan suaminya, Rasulullah SAW. Ia tertinggal saat mencari kalungnya yang jatuh.

Beruntung kemudian di tengah padang pasir yang tandus, ia ditemukan oleh Shafwan bin  Mu’aththan al Sulami, seorang sahabat nabi yang bertugas di belakang rombongan untuk mengecek jika ada barang yang jatuh atau tertinggal.

Shafwan yang tidak mengucapkan apapun selain kalimat istirja’ (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) turun dari untanya, mengisyaratkan Aisyah untuk naik ke untanya. Ia pun berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi Aisyah dalam senyap. Keduanya tidak berbicara sepatah kata pun hingga sampai ke Madinah.

Di Madinah, orang-orang kemudian melihat istri Rasulullah yang mulia ini datang berdua dengan seorang laki-laki, yakni Shafwan.

Datang dengan berdua inilah yang kemudian menimbulkan desas-desus terhadap hubungan keduanya. Beberapa muslim munafik seperti Abdullah bin Ubay bin memanfaatkan kesempatan ini untuk memfitnah Siti Aisyah telah berselingkuh dengan Shafwan.

Berita bohong itu pun menyebar di seluruh seantero kota. Pro dan Kontra pun terjadi di antara penduduk Madinah sampai satu bulan lamanya. Hingga diturunkan wahyu ke Rasulullah berupa surah An-Nur Ayat 11-26 yang mengonfirmasi jika Aisyah bebas dari segala tuduhan yang difitnahkan padanya sekaligus melarang perbuatan penyebaran berita bohong.

Dari kisah tersebut, kita belajar jika penyebaran berita bohong (hoax) telah terjadi jauh sejak jaman kenabian. Bahkan dilakukan oleh para muslim (yang notabene munafik) generasi awal yang hidup sezaman dengan Rasulullah.

Maka jangan heran jika di era media sosial ini tetap ada muslim-muslim yang melestarikan kegiatan penyebaran hoax ini. Bahkan saat ini, penyebaran hoax dilakukan demi menyokong (apa yang mereka sebut) dakwah.

Contohnya sering ada share berita si artis atau ilmuwan ‘anu’ masuk Islam, padahal faktanya tidak demikian. Atau dahulu ada penyebaran foto rahib Budha Tibet yang membantu pengumpulan mayat korban bencana alam di Cina, diputarbalikkan beritanya sebagai foto pembantaian etnis muslim Rohingnya.

Mungkin maksudnya baik untuk menambah semangat keislaman atau menumbuhkan perhatian umat islam pada saudara muslim di Rohingnya. Namun dakwah dengan penyebaran hoax ini tentu merupakan cara kotor untuk mengajak orang dalam kebaikan.

Lebih parahnya, dakwah dengan penyebaran hoax akhir-akhir ini ditambah dengan landasan kebencian karena isu agama, ras, dan politik. Bagaimana dengan mudahnya umat islam men-share berita-berita hoax penuh kebencian. Seperti dahulu ada isu akan dihapusnya kolom agama di KTP, Pak Presiden anak Komunis, atau serbuan tenaga kerja cina sebanyak 10 juta orang yang entah dari mana angka sebesar itu didapatkan.

Pernah juga ada hoax yang memberitakan seorang perempuan berjilbab anggota tim kampanye cagub dituduhkan jika sebenarnya ia beragama nasrani berbekal foto orang lain yang mirip. Betapa daruratnya kondisi umat islam saat ini ketika muslimahnya sendiri difitnah hanya karena berbeda pandangan politik.

Tapi, ketika dahulu ada hoax yang menyatakan seorang mantan rektor yang lalu jadi mantan menteri pendidikan di kabinet pemerintahan (yang katanya) tiran  diberitakan menjadi liberal dan penganut syiah, kemudian dianulir beritanya karena sang mantan menteri tersebut belakangan berbalik mendukung umat islam dengan menjadi calon gubernur yang akan melawan calon gubernur lain yang kafir.

Sah-sah saja ketika dakwah melawan pemimpin yang ‘dianggap’ mengangkangi umat. Hanya saja, haruskah dengan menelan ludah sendiri dan tanpa perasaan malu? Atau sudah seperti itukah kebencian mengakar sehingga tidak lagi mengandalkan akal pikiran dan harga diri?

Sampai-sampai, saking parahnya budaya penyebaran hoax ini, pernah ada botol air mineral dituduhkan sebagai minuman keras hanya karena diminum oleh kaum yang berseberangan

Dakwah yang bertujuan baik tidak pantas ketika dilakukan dengan cara-cara penyebaran kebohongan. Bahkan seandainya pun umat islam sering dibohongi oleh para musuh-musuhnya, tidak selayaknya kebohongan tersebut dibalas kebohongan pula. Bukankah nabi mengajarkan untuk selalu membalas kejahatan dengan kebaikan.

Seperti disinggung dalam tulisan di awal, ada surah An-Nur ayat 11-26 yang menyatakan ketidaksukaan Allah terhadap penyebar berita bohong, terutama yang menganggapnya perbuatan ringan dan biasa tanpa dosa.

Selain itu, di balik berita hoax serta para pembuatnya, ada juga kisah orang-orang dungu yang dengan santainya ikut menyebarkan (share) berita-berita hoax tersebut lengkap dengan hujatannya jika ada yang perlu dihujat. Berdebat membela mati-matian kebohongan yang berisi kebencian tersebut seolah itu jihad dan dakwah.

Lalu jika terbukti berita tersebut memang hoax, dengan santainya juga beralih membicarakan berita hoax lain tanpa ada permintaan maaf terkait sharing kebohongan sebelumnya yang salah. Padahal di Al-quran, surah Al Hujurat ayat 6, Allah sudah menyuruh untuk memeriksa semua berita yang diterima.

Nabi juga pernah mengingatkan dalam sabdanya, “Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong apabila dia membicarakan setiap yang dia dengar” (HR Muslim). Hadist tersebut memerintahkan umat islam untuk mawas diri terhadap semua yang didengarnya, karena belum tentu itu kebenaran.

Hanya saja, mungkin kita tidak bisa berharap banyak agar umat islam untuk cerdas dalam penyebaran berita hoax, jika masih saja ada ulama yang mengecek kebenaran isu hotel bernama Alexis terkait PKI atau tidak, hanya dengan bertanya pada khalayak twitter.

Tabik