Nama Asma Nadia bukan hal yang asing lagi di dunia dakwah. Melalui cerpen dan novel yang menyentuh hati, beberapa buah penanya sudah diangkat ke layar kaca, sehingga pesan-pesan dakwah semakin luas diterima masyarakat.

Saya dulu mengenal asma Nadia dari majalah remaja muslim An-Nida pada awal 2000-an. Adik dari penulis Helvi Tiana Rosa ini menyelipkan pesan-pesan kebaikan melalui kata-katanya yang santun dan memikat hati para pembaca.

Cerita pendek dan novel Asma Nadia identik dengan ajakan berjilbab tanpa membatasi kegiatan dan karier seorang perempuan muslim, selama tidak keluar dari fitrahnya. Tulisannya sedikit banyak menggambarkan kehidupan pribadinya sebagai seorang perempuan berjilbab yang energik, cerdas, dan supel.

Selain masalah jilbab, Asma Nadia juga sering mengangkat cerita tentang kisah cinta yang ramah dan islami, tentang dunia pernikahan dengan lika-likunya.

Salah satu kisah manis yang ditulis oleh Asma Nadia adalah "Cinta Laki-Laki Biasa". Cerita yang sudah difilmkan ini disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, mengangkat tema cinta lokasi antara gadis kaya dengan laki-laki biasa.

Nania Dinda Wirawan yang diperankan apik oleh Velove Vexia bertemu dengan Muhammad Rafli Imani (Deva Mahenra) di tempat Nania melaksanakan kerja praktik di proyek pembangunan rumah sederhana. Di sana, Rafli berperan sebagai mentor Nania.

Cinta tumbuh karena prinsip yang dipegang, baik oleh Nania maupun Rafli. Awal ketemu, Nania kagum saat Rafli menjelaskan konsep perumahan sederhana yang tidak profit oriented, namun mengedepankan kepentingan konsumen. Developer juga memperoleh untung, tanpa mengurangi kualitas bangunan maupun mengesampingkan kesejahteraan pekerja.

Rafli adalah seorang yang sederhana dan penuh welas asih. Terbukti saat ada salah satu pekerja proyek yang sakit, dia sangat memperhatian dan peduli. Rafli juga pemuda disiplin dan bertanggung jawab.

Sedangkan Nania, selain cerdas, adalah pekerja keras. Meskipun dia anak bungsu dari keluarga kaya, tetapi dia mematuhi setiap tahapan kerja lapangan yang dilaluinya. Dia bisa saja meminta tolong papanya mencarikan relasi agar bisa mendapatkan tempat kerja lapangan yang lebih mudah, tetapi dia tidak melakukannya.

Mereka sama-sama jatuh cinta ketika bekerja sama di proyek tersebut, tetapi sama-sama menyimpan dan menahan perasaan. Sampai Nania lulus kuliah lalu bekerja di sebuah perusahaan besar, saat itulah Rafli memberanikan diri menyatakan perasaan dan melamar Nania.

Perbedaan status sosial membuat keluarga Nania, khususnya ibunya (Ira Wibowo), menolak keras lamaran tersebut. Selain alasan harga diri, masa depan Nania, juga karena mereka sudah menjodohkan Nania dengan anak kolega yang seorang dokter, Tyo Handoko (Nino Fernandes).

Ketiga kakak perempuan Nania menikah dengan laki-laki yang mempunyai karier bagus. Menurut keluarga Nania, secara bibit, bebet, bobot serasi. Namun Nania memang sudah mantap menikah dengan Rafli.

Drama keluarga yang dimunculkan dalam bagian ini tidak lebay. Nania tetap kalem, tidak membabi buta menentang penolakan keluarganya. Dia hanya menggarisbawahi bahwa dia mencintai Rafli, sampai sang ayah menyetujuinya lalu keluarga yang lain mengikuti meski terlihat berat.

Setelah menikah, Nania menunjukkan kedewasaan sebagai istri, walaupun dia anak bungsu yang identik manja dan kolokan, serta dari keluarga kaya raya yang biasa memenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan mudah. Nania memutuskan berjilbab karena Rafli menjelaskan bagaimana jilbab menjadi penjaga bagi muslimah.

Nania juga menerima hidup sederhana sesuai kemampuan Rafli sebagai suami, meskipun dia sendiri mempunyai tabungan dari hasil kerja sebelum menikah. Nania tak pernah mengeluh kepada keluarganya tentang kehidupannya berkeluarga. 

Sebaliknya, mama dan kakak-kakak Nania yang berusaha memberikan barang-barang yang biasa mereka gunakan namun tidak ada di rumah Rafli dan Nania, termasuk memberikan asisten rumah tangga, namun semua itu ditolak Nania, karena pasti akan menyinggung harga diri suaminya. Nania menekankan bahwa dia bahagia hidup dengan Rafli dengan kehidupannya meskipun bahagia keluarganya dipandang kekurangan.

Rafli membuktikan janjinya kepada keluarga Nania, bahwa dia akan membahagiakan istrinya dan memberikan kehidupan yang baik. Seiring waktu, keluarga Nania bisa menerima Rafli sebagai menantu seperti ketiga menantunya yang lain.

Asma Nadia memberikan beberapa pelajaran berharga dalam cerita yang ditulisnya. Pertama, bagaimana seharusnya laki-laki berbakti kepada ibunya dan bagaimana mencintai istrinya serta menghormati keluarga istrinya.

Pada saat pernikahan Rafli, sang ibu membisikkan pesan kepada ibu Nania bahwa mungkin Rafli tidak sepadan dengan keadaan Nania, tapi selama ini Rafli tidak pernah menyakiti hati ibunya. Itu sebuah pesan penjamin bahwa Rafli juga tidak akan menyakiti hati istrinya.

Kedua, bagaimana seorang istri menjaga martabat dan harga diri seorang suami. Nania selalu menerima dengan senang dan bersyukur dengan apa yang diberikan Rafli kepadanya, dan tidak membandingkan keadaannya saat menjadi istri dengan saat sebelum menikah.

Ketiga, perjalanan cinta keduanya hingga menikah, dan bagaimana cara Nania menolak Tyo tanpa menyakiti semua pihak.

Keempat, cara Rafli menjelaskan tentang jilbab tanpa menggurui dan menghakimi, sehingga Nania memutuskan mengenakan jilbab atas kemauannya sendiri, tanpa paksaan.