Sultan Malik Ash-Shalih yang makamnya terletak di distrik Samudera di utara Aceh, merupakan raja pertama Pasai yang berperan penting dalam perkembangan dakwah Islam di Nusantara. Prasasti dari makam Sultan Malik Ash-Shalih menunjukkan bahwa raja pertama Pasai meninggal di bulan Ramadhan tahun 696 H/1297 M.

A.H. Hill mempelajari Hikayat Raja-Raja Pasai dan membandingkannya dengan studi simbolisme J.P. Moquette dalam De Eerste Vorsten van Samoedra Pase mengatakan bahwa Malik Ash-Salih adalah raja pertama Pasai. Sultan Malik Ash-Shalih memerintah antara tahun 659-688 H/1261-1289 M.

Sultan Malik Ash-Shalih bernama lengkap Meurah Silo, putra Meurah Seulangan / Meurah Jaga (Makhdum Malik Abdullah) keturunan keenam dari Makhdum Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat, Sultan Perlak, yang memerintah antara 365-402 H/976-1012 M.

Dengan nama asli Meurah Silo, keturunan bangsawan Meurah, menunjukkan bahwa Sultan Malik Ash-Shalih adalah keturunan Aceh. Ia sendiri mendapat gelar Malik Ash-Shalih karena pada masa pemerintahannya negara Pasai sangat makmur dan kaya raya.

Kemudian memiliki angkatan laut yang kuat dan tentara yang tertib, mendirikan sekte Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah. Syekh Ismail Al-Zarfi memberinya gelar “Sultan Al-Malik Ash-Shalih”, yang merupakan gelar yang saat ini digunakan oleh penguasa Mesir “Sultan Al-Malik Ash-Shalih Najmuddin Al-Ayyubi”

Di Pasai, selain makam Sultan Malik  Ash-Shalih, ada makam kuno lainnya yaitu Nahrisyah yang tanggal kematiannya dihitung pada hari Senin 14 Dzulhijjah 831 H/1428 M Makam yang terletak di Kutakarang, Kecamatan Samudera di Aceh Utara ini penting untuk rekonstruksi Sejarah Pasai.

Karena memuat struktur silsilah raja-raja yang merupakan nenek moyang Nahrisyah. Makam sezaman Nahrisyah adalah makam Maulana Hasanuddin di Pasai yang prasastinya pada tahun wafatnya menunjuk pada 823 H/1420M. Meskipun makam ini membawa prasasti dari tahun kuno kematian.

Peran penting mereka dalam Islamisasi situs pemakaman mereka tidak diketahui. Prof. A. Hasymy dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia menegaskan bahwa Malik Ash-Shalih memiliki semangat yang kuat untuk menyebarkan  Islam, dan ia memainkan peran yang mengesankan dalam menyebarkannya.

Namun, kisahnya tidak merinci usahanya dalam mengembangkan dakwah Islam dan sejauh mana keberhasilannya. Namun, raja  menjadikan kerajaannya sebagai pendukung kuat gerakan dan pertumbuhan Dakwah Islam, dan  putra serta cucu cicitnya mengikuti setelah kematiannya.

Thomas W. Arnold dalam The  Preaching of Islam mengungkapkan bahwa upaya dakwah Islam dilakukan oleh pedagang Arab dan India dengan menikahi wanita lokal. Istri-istri dan pekerja-pekerja mereka inilah yang menjadi inti masyarakat Muslim.

Proses Islamisasi melalui perkawinan dengan konsolidasi keluarga inti Islam pada hakikatnya mengikuti jejak Nabi Muhammad. Sultan Malik Ash-Shalih sendiri mengukuhkan kekuasaannya dengan menikahi Putri Ganggang, putri Raja Perlak, Sultan Makhdum Alauddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat.

Dengan demikian, upaya dakwah Muslim di Pasai juga dipandang sebagai kelanjutan dari upaya yang telah dilakukan di Perlak, yaitu para penguasa Muslim yang menerapkan syariat Islam di wilayahnya, yaitu dengan mengajak seluruh warga masyarakat untuk menaati syariat Islam.

Menurut catatan Marcopolo yang dulunya pernah singgah di Ferlec (Perlak), para penguasa Muslim  Perlak menerapkan syariat Islam kepada para pedagang asing dan penduduk asli, dalam berdagang maupun melakukan aktivitas lainya, mereka harus menuruti aturan Islam.

Tengku Ibrahim Alfian dalam kontribusi Samudera Pasai terhadap Studi Islam Awal di Asia Tenggara menyatakan bahwa kerajaan Pasai yang didirikan oleh Malik Ash-Shalih sangat berpengaruh dalam Islamisasi daerah sekitarnya, misalnya seperti Malaka, Pidie dan Aceh.

Pada abad ke- 13, ketika Malik Ash-Shalih berkuasa, Pasai menjadi salah satu pusat perdagangan internasional. Lada merupakan salah satu ekspor daerah ini. Pedagang dari anak benua India: Gujarat, Bengali dan Keling serta pedagang dari Pegu, Siam dan Kedah melakukan aktivitas perdagangannya di Selat Malaka termasuk Pasai.

Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya II Menekankan pentingnya peran Sultan Malik Ash-Shalih dan penggantinya, Sultan Malik Az-Zahir, dalam membangun kerajaan Pasai dengan semangat baru yang sangat berbeda dengan kerajaan lama yang sebelumnya dipengaruhi oleh Budaya India.

Jika di benak orang-orang dahulu elite penguasa ditemukan di antara sawah-sawah yang kaya, pada masa Sultan Malik Ash-Salih, elite-elite baru ditemukan di kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan, perdagangan, dan peradaban baru.

Karena fungsi komersial begitu penting, kota-kota baru tidak lagi berada di bawah ibu kota pertanian lama di pedalaman. Jenis negara yang baru berkembang, yaitu kesultanan.  Dan struktur politik baru pertama kali muncul di wilayah utara Sumatera, di Samudra Pasai, pada akhir abad ke- 13, ketika Malik Ash-Shalih menjadi Sultan Pasai yang pertama.

Dengan demikian, pada masa pemerintahan Sultan Malik Ash-Shalih, kerajaan Pasai menjadi pengaruh dalam perkembangan struktur politik baru dan dakwah Islam terpenting di Sumatera dan Selat Malaka dan Jawa.

Hal ini tidak hanya berpengaruh besar terhadap lahirnya kekuasaan Islam berupa raja-raja baru di Nusantara, tetapi juga menjadi faktor penyumbang secara langsung dan tidak langsung dominasi kekuasaan lama seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Kerajaan Sunda.