/1/ Nasib Istilah Dakwah

Istilah dakwah, sebagai salah satu unsur pembangun peradaban Islam, ternyata lebih populer di kalangan Muslim kota. Ambil saja contohnya Yogyakarta. Kota yang heterogen ini menghimpun banyak sekali manusia dari berbagai latar belakang, yang paling dominan tentu Islam. Hipotesis saya, orang-orang di kota sudah jenuh dengan segala kebisingan hingga bosan dan ingin kembali pada agama, maka term dakwah pun lebih massif berdengung di kota.

Sejak awal, mungin karena istilah dakwah berasal dari bahasa Arab, dakwah kerap diasosiasikan dengan ceramah. Padahal ceramah hanya salah satu metode saja dalam berdakwah. Substansi dakwah jika ditarik secara etimologis berarti mengajak. Karena mengajak adalah kata kerja, maka ada objek yang dituju. Di sinilah pertanyaan mula berlaku: mengajak apa? Kepada siapa? Bagaimana caranya? Dari sini kemudian term dakwah mengalami perkembangannya.

Di kampus sekuler macam Universitas Gadjah Mada, betapa banyak mahasiswa muslim yang merindukan komunitas keagamaan. Maka Keluarga Muslim muncul dan tumbuh begitu menjamur, dan dakwah menjadi term yang massif didengungkan sebagai legitimasi gerakan mereka.

Pada posisi ini term dakwah mengalami reduksi merupa identitas formal suatu gerakan tertentu yang memiliki tendensi ke arah ideologis-politis. Padahal jika dikembalikan pada substansinya, jika dakwah difahami sebagai usaha untuk mengajak, dalam artian yang peyoratif dakwah bisa saja dijadikan jalan mengajak pada kemungkaran.

Namun kini istilah dakwah sebagai bagian dari agama, terasa menjadi demikian sucinya, hingga motif terselubung yang terkandung dalam gerakan-gerakan yang menggunakan term dakwah menjadi begitu tersembunyi dan tak disadari.

/2/ Dakwah Bilkitabah

Oleh karena substansi dakwah adalah mengajak, maka akan ada banyak cara untuk merealisasikannya. Katakanlah cara paling sederhana dari dakwah adalah menyampaikan sesuatu, maka tak jauh dari ilmu komunikasi bahwa ada banyak cara menyampaikan sesuatu, ada banyak cara untuk berdakwah. Salah satu cara menyampaikan informasi adalah menulis.

Saya sempat meragukan interpretasi ‘ummiy’ yang disandang Muhammad SAW sebagai manusia yang tak bisa baca-tulis jika beliau bersabda sebagai berikut:

“Al’ilmu shayyidun wal kitaabu qayyiduh, qayyid shuyudaka bijibaalil watsiqah, ilmu adalah hewan buruan dan buku (kini bisa gadjet atau laptop) adalah pengikatnya, maka ikatlah hewan buruanmu (ilmu) dengan ikatan yang kuat.”

Jika rasul tak bisa baca-tulis, kenapa beliau menyuruh menulis? Harusnya beliau yang pertama-tama mencontohkan. Lalu dalam wacana yang lain, saya menemukan quotes yang sama sebagai ucapan dari Ali r.a., hal ini sempat membingungkan. Dari sumber yang lain, ungkapan yang sama tertulis sebagai ucapan ulama, yakni dari Syaikh Ruslan. Mari kita simpan dulu perdebatan tentang dari mana sumber ungkapan tersebut. Kita akan fokus pada pesan yang hendak disampaikan, yakni menulis.

Seperti yang telah diungkapkan oleh banyak penulis, bahwa menulis adalah usaha mengabadi. Maka dapat disimpulkan bahwa dakwah yang disampaikan melalui tulisan akan awet daripada melalui lisan. Pun dengan objek yang diraih. Katakan jika dalam satu ceramah yang hadir hanya ada 300 audiens dan terkena durasi tertentu, semuanya serba terbatas.

Tulisan akan hadir ke tengah-tengah pembaca dari berbagai latar belakang, dalam durasi yang panjang serta ruang lingkup yang lebih luas dari pada dinding-dinding masjid misalnya. Sebagaimana analogi sebuah senjata, peluru hanya mampu menebus satu kepala, tetapi pena-tinta sanggup masuk merasuk berjuta kepala.

Mari kita temukan beberapa contoh ulama yang melakukan dakwah bilkitabah, yang muawal adalah Ali r.a. dengan Nahjul Balaghah-nya. Karyanya terbukti awet hingga sekarang, dakwahnya berumur panjang. Kita sebut tokoh lain, di era kontemporer seorang Sayid Quthb adalah mujahid tinta, beliau berdakwah dalam penjara dengan ujung penanya. Tanpa usahanya menggoreskan pena, mustahil kita dapat mencerap hikmah dari tafsir Fi Zilalil Qur’an.

Mudik ke Indonesia, kita akan tercengang oleh betapa banyaknya ulama lokal yang berkarya dan berdakwah melalui tulisan. Ambil contoh Syaikh Ahmad Nawawi bin Umar Al Bantani. Betapa banyak karya yang telah beliau telurkan dan belum pecah hingga sekarang. Karyanya masih menjadi rujukan di pesantren-pesantren di Indonesia. Bahkan salah satu ungkapan beliau dalam penutup kitab Sulamul Munajah hampir disalahpahami sebagai sabda rasul. Betapa dahsyatnya akibat tulisan.

Dakwah sebagai usaha kita yad’u ilal khair tidak sempit maknanya sebatas ngomong dengan moncong ke corong. Dakwah dapat disampaikan melalui tulisan, sebab tulisan akan ada meski penulisnya telah tiada. Artinya pesan yang disampaikan akan bertahan lebih lama dari pada penyampai pesannya. Maka adalah usaha yang patut diapresiasi apabila muncul orang-orang dengan gagasan besar dan berusaha menuangkannya dalam tulisan.