1 bulan lalu · 193 view · 3 min baca menit baca · Agama 15098_50579.jpg

Dajal dan Kontekstualisasi Hadis Akhir Zaman

Indonesia akhir-akhir ini dihebohkan dengan sebuah perdebatan keagamaan mengenai Dajal dan simbol Illuminati. Ridwan Kamil dituding merancang masjid dengan konstruk simbol illuminati. 

Di sini, penulis tidak ingin berdebat mengenai argumentasi Ridwan Kamil dan ustaz Rahmat Baequni. Penulis hanya ingin memetakan eksistensi keyakinan pre-actual ini dalam konteks masyarakat muslim. 

Keyakinan mengenai Dajal dalam keilmuan Islam berdasarkan informasi hadis Nabi yang termuat dalam kitab-kitab hadis mu'tabar (terkenal), seperti Bukhari dan Muslim. Para pengkaji menilai bahwa matan (konten) hadis-hadis ini dikategorikan sebagai hadis prediktif. 

Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition mendefinisikan hadis prediktif sebagai hadis yang memuat informasi ramalan masa depan. Mayoritas hadis-hadis tersebut mencapai derajat hadis shahih

Walaupun beberapa ulama memberikan status dhaif. Rahman, misalnya, melalui metode kritik matan (analisis konten hadis) menyangsikan orisinilitas hadis-hadis tersebut. Argumentasi hadis ini bahkan membawa Rahman dituduh sebagai ingkar Sunnah (orang yang tidak percaya sunah).

Statusnya sebagai hadis shahih tentu memengaruhi paradigma masyarakat muslim. Karena, masyarakat muslim menilai status hadis shahih merupakan informasi yang layak diyakini. 

Penulis menilai hadis akhir zaman merupakan salah satu kekayaan intelektual dalam khazanah Islam. Karena hadis ini memperkaya perspektif keilmuan Islam lintas masa dan tempat. 


Diskursus hadis akhir zaman sudah diperdebatkan oleh Ibn Khaldun, Muhammad Abu Zahrah, Mustafa Azami, Fazlur Rahman, Ishaq Anshari, dan lain-lain. Bahkan pengkaji outsider Islam juga mendiskusikan keberadaan hadis ini, seperti Noel Coulson, Haral Moztki, Michael Cook, dan lain-lain.

Terlepas dari itu semua, keyakinan ini memunculkan masalah-masalah sosial. Keyakinan mengenai Dajal, meginspirasi muslim awam untuk melakukan perilaku agama lanjutan. Penulis mengidentifikasi dua perilaku tersebut sebagai berikut: pertama, fenomena klaim imam Mahdi oleh seorang muslim. 

Di Indonesia, beberapa kasus klaim kemunculan Imam Mahdi terjadi. Seperti Winardi warga Sawangan Depok yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Winardi mengaku mendapat mandat sebagai Imam Mahdi melalui mimpi. Imam Mahdi diketahui sebagai juru selamat dalam diskursus hadis akhir zaman. Imam Mahdi adalah tokoh sentral sebagai penyelamat yang akan menghadapi fitnah Dajal. 

Kedua, fenomena justifikasi hadis dengan melabeli orang lain dengan Dajal, kafir, dan lain-lain. Sebagaimana Imam Mahdi, Dajal juga merupakan tokoh sentral dalam ilustrasi hadis akhir zaman. Bedanya, Dajal dikategorikan sebagai tokoh antagonis. 

Perilaku lanjutan ini tentu meresahkan masyarakat. Apalagi masyarakat homogen dan beragam seperti Indonesia. Perilaku ini akan memicu konflik antar dan intra agama. Contoh kongkritnya adalah polemik masjid al-Safar dan perdebatan di dalamnya. 

Fenomena klaim Imam Mahdi dan label Dajal merupakan simbolisasi agama. Di mana, imam Mahdi disimbolkan sebagai juru selamat, simbol penyelamat dunia. Sedangkan Dajal disimbolkan sebagai kejahatan. Artinya, melabeli orang berkaitan dengan Dajal berarti melabelinya sebagai tokoh jahat.

Tidak hanya itu, Perilaku keagamaan lanjutan ini menimbulkan fragmentasi masyarakat muslim. Perpecahan dalam tubuh umat Islam akan muncul dari konflik-konflik kecil. 

Oleh sebab itu, penulis menawarkan hal-hal sebagai berikut: pertama, perlu dilakukan studi kritis mengenai autentisitas hadis-hadis akhir zaman. Kajian ini dimaksudkan untuk mengkaji otoritas hadis tersebut dalam implikasinya terhadap Keberagamaan. 

Kedua, perlu upaya orisinalisasi pemahaman Islam terkait hadis akhir zaman. Artinya, pemahaman hadis akhir zaman perlu ditimbang melalui worldview (pandangan dunia) Alquran dan hadis secara komprehensif. Sehingga menghasilkan pemahaman yang universal dan bukan pemahaman parsial dan sempit. 

Ketiga, perlu upaya tajdid Fahmi al-Islam (pembaharuan pemahaman Islam). Perlu penguatan Islam wasathiyah dalam setiap pemahaman keislaman. Labelisasi muslim lain dengan kafir merupakan perilaku yang tidak dibenarkan dalam manhaj wasathiyah Islam. 


Islam wasathiyah mendorong dialog berdasarkan keilmuan. Sehingga terbentuk masyarakat yang saling menguatkan (ittihadul ummah). 

Melalui konsep Islam wasathiyah, dipahami bahwa satu-satunya musuh konkret Islam adalah perpecahan dan fragmentasi intra-agama. Karena Islam mengajarkan nilai-nilai keseimbangan, harmoni, dan adil. 

Wasathiyah sendiri merupakan norma yang bersumber dari Alquran dalam surat Ali Imran: 110. Kemudian wasathiyah oleh para ulama dijadikan sebagai sebuah kerangka berpikir dalam bersikap dan bertingkah laku yang ideal dan penuh keseimbangan dalam aktualisasi Islam. 

Pengarusutamaan wasathiyah diperlukan dalam kontekstualisasi hadis akhir zaman ini. Wasathiyah diplot sebagai konsepsi penyeimbang ketika pemahaman mengenai hadis akhir zaman ini telah melewati batas vis a vis keterlaluan. 

Keterlaluan di sini tentu dilihat dari paradigma Islam wasathiyah. Di kala klaim-klaim sebagai juru selamat membuat orang lain dituding sebagai dajal, tentu perilaku ini sudah melewati batas pemahaman substansi Islam.

Artikel Terkait