2 tahun lalu · 188 view · 4 menit baca · Agama cow-1473611346t08.jpg

Daging Qurban Pak Richard dan Pak Dullah

Sebuah Kisah Idul Qurban di Perantauan

Kisah ini sebenarnya sudah lama sekali, ketika zaman saya masih SMP dan SMA, yaitu cerita masa lalu saya yang, seperti kamu lihat pada judul, terjadi ketika Idul Qurban. Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan saya kesempatan untuk merasakan Idul Qurban di dua suasana; ketika berada di tanah sendiri, dan berada di tanah seberang. Namun, yang berada di sekeliling saya tetaplah orang-orang dengan tumpah darah, bangsa, dan bahasa yang sama. Hanya saja ya itu, kami juga disatukan dengan nasib yang sama pula, yaitu sama-sama di rantau orang.

Tidak banyak berbeda sebenarnya suasana Idul Qurban di antara orang-orang Indonesia yang memang ada di Indonesia dengan orang-orang Indonesia yang berada di perantauan, dalam hal ini Malaysia. Proses pemotongan hewan Qurban di sini dilakukan di sekolah saya, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Tidak besar bangunannya, hanya terdiri dari tiga gedung utama dengan area parkir yang juga berguna untuk lapangan upacara dan terkadang bermain futsal. Di area parkir multifungsi inilah hewan-hewan Qurban akan disembelih untuk mendapatkan rahmat dan berkah-Nya.

Jika ada yang berbeda di antara dua suasana Idul Qurban itu, maka hal yang berbeda tersebut tentulah keakraban yang lebih erat di dalam ruang lingkup yang lebih kecil ketika proses penyembelihan dan pembagian daging dilakukan. Siapa saja yang datang, pasti akan ikut membantu.

Jadi ceritanya, di SIKL itu, dana untuk membeli hewan Qurban itu merupakan hasil sumbangan keluarga besar SIKL, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, dan warga negara Indonesia lainnya khususnya yang memiliki afiliasi dengan dua lembaga yang saya sebutkan tadi.

Biasanya satu sapi itu merupakan hasil sumbangan dari tujuh hingga sepuluh orang, tergantung jumlah sumbangan. Seperti tahun ketika saya masih SMA, SIKL mengurbankan sembilan ekor sapi yang merupakan hasil sumbangan dari 63 orang. Nama-nama orang ini nantinya akan disebutkan ketika pemotongan seekor sapi.

Misalnya ketika sapi pertama akan disembelih, maka peserta atau pengurban dengan nomor urut 1 hingga 7 akan disebutkan sebagai penyumbang sapi yang disembelih. Begitu seterusnya hingga sapi yang terakhir. Nanti ketika pembagian daging, para penyumbang ini akan mendapatkan jatahnya masing-masing.

Lalu, biasanya keluarga besar SIKL dan KBRI akan diberikan semacam kupon pengambilan daging. Nanti ketika pembagian daging, para pemegang kupon akan diutamakan dan WNI lainnya didahulukan, sama seperti motto Satu Malaysia itu.

Bukan apa, banyak sekali WNI di Malaysia, sehingga SIKL dan KBRI maksimal hanya mampu memberikan mereka yang berada di sekitar Klang, Chow Kit, dan Gombak karena kebetulan juga daerah-daerah tersebut banyak dihuni oleh keluarga siswa SIKL dan afiliasi KBRI lainnya seperti PPWI Sekolah Insan Malindo Klang yang bertujuan menampung siswa-siswa Indonesia para TKI yang keadaan ekonominya sangat di bawah standar atau lebih buruk, yaitu—maaf—ilegal.

Kembali kepada judul. Di antara orang-orang yang menyumbang dana untuk hewan Qurban, ada dua orang selain Pak Dubes yang namanya awet setiap tahun di daftar penyumbang. Dua beliau tersebut adalah Pak Richard dan Pak Dullah (nama dalam artikel ini semua disamarkan).

Pak Richard adalah seorang Buddha, dan Pak Dullah adalah seorang Muslim. Anak mereka berdua kebetulan satu angkatan dengan saya. Anak Pak Richard bernama Robert dan sempat menjabat sebagai Ketua OSIS dan sangat aktif berorganisasi, dan anak Pak Dullah bernama Sina, seorang anak tambun yang cukup berandalan namun lihai berolahraga.

Keluarga Pak Richard dan Pak Dullah memang terkenal berada. Secara materi, tidak berlebihan rasanya jika saya menyebutkan bahwa mereka sudah setara dengan Pak Dubes, atau minimal atase KBRI. Dampaknya, mereka pun secara de jure dihormati layaknya atase pula.

Pak Richard adalah direktur sebuah perusahaan multinasional milik Indonesia yang bercabang di Malaysia, sedangkan Pak Dullah memiliki afiliasi dengan fraksi partai utama Malaysia, Barisan Nasional (BN), yang bernama UMNO (fraksi ras Melayu).

Anak tertuanya adalah salah satu pegawai di fraksi terbesar BN tersebut. Kalau kata kawan-kawan saya sih, rumah mereka besar-besar. Rumah Robert punya halaman luas, sedangkan Rumah Sina ada arcade dan lapangan futsal. Saya yang kuper dan pariya hanya bisa melongo.

Jadi ya begitu, nama dua orang itu selalu ada dalam pengumuman daftar penyumbang Qurban. Pak Richard, yang ketika itu juga menjabat sebagai bendahara komite orang tua siswa SIKL juga ikut melihat proses Qurban walau hanya sebentar.

Robert pun juga ikut, walau dia tidak ikut membantu proses Qurban. Ya membantu sedikit-sedikit ada jugalah, melihat dia juga ketika itu Ketua OSIS. Tapi secara fakta dia memang tidak berkewajiban untuk ikut melaksanakan proses Qurban. Sedangkan Pak Dullah biasanya hanya diwakili dengan Sina, yang kadang membantu kadang hanya menemani pacarnya. Pak Dullah memang saat itu sudah lanjut umurnya, dan kini beliau sudah almarhum.

Yah, saya tidak tahu jelas apakah Pak Richard mendapatkan bagian dagingnya atau tidak. Namun seingat saya, seorang kawan Rohis pernah mengatakan bahwa daging akan diberikan kepada semua pengurban, termasuk Pak Richard.

Saya pun ingat juga melihat Pak Richard dan anaknya masih berada di SIKL ketika waktu pembagian daging Qurban. Tapi saya tidak melihat secara langsung petugas Rohis memberikan daging kepada Pak Richard. Sekadar iseng, pernah sekali saya tanyakan sesuatu hal kepada Fulan, ketua Rohis yang juga adik kelas saya.

“Ful, menurutmu, tidak apa itu orang non-Muslim juga ikut menyumbang hewan Qurban?” tanya saya.

“Ya tidak apalah, Mas. Yang namanya di perantauan ini selama rezeki masih dapat dari cara yang halal ya syukuri saja. Susah makan di negeri sendiri saya rasa masih lebih mudah daripada susah makan di negeri orang, apalagi kalau izin saja tidak punya.

Kalau ada orang seperti Pak Richard dan Pak Dullah, ya kita syukuri saja. Toh, nanti daging itu akan sama rasa, bentuk, dan manfaatnya kalau sudah tiba ke tangan-tangan orang yang memerlukan. Allah Maha Adil, Mas,” jelas Fulan panjang lebar.

Saya diam-diam menyetujui kata-kata Fulan. Memang benar, jika di perantauan ini, orang-orang yang menerima sumbangan daging Qurban malah menolak diberi daging lantaran tahu bahwa dagingnya hasil sumbangan seorang non-Muslim seperti Pak Richard, ya repot.

Maka, saya pun mengambil jatah daging Qurban saya setelah melanjutkan bercakap-cakap dengan Fulan. Sepulangnya, Ibu saya langsung memasak rendang dari daging itu. Enak sekali. Entah daging itu sumbangan Pak Richard atau Pak Dullah, wallahu a’lam.

Artikel Terkait