Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan lahir dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia. Mampukah perundangan ini mengayomi semua kultur, subkuktur kesenian, dan budaya yang merupakan akar pendidikan bangsa?

Dadaisme libertarian yang merupakan bagian dari kekayaan subkultur kesenian juga punya hak untuk dimajukan oleh perundangan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017 yang lalu. Karena dalam UUD 1945 Pasal 32 ayat 1 berbunyi: 

Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dadaisme sering kali diartikan secara luwes. Tidak dibatasi oleh terminologis yang menjajah. Dadaisme bisa saja diartikan segala aktivitas untuk mengeluarkan ide-ide kritis yang unik dalam sebuah ekspresi karya seni.

Menurut KBBI, dadaisme mempunyai arti aliran seni lukis dan sastra (muncul sekitar tahun 1913 di Swiss) yang menolak segala aliran seni yang telah ada serta menanggalkan nilai tradisional dan memperjuangkan dikembalikannya seni kepada bentuknya yang paling primitif.

KBBI tak mau repot. Gaya comot (loan word) adalah jurus sakti memperkaya perbendaharaan kata tanpa memberikan makna luwesnya. Padahal subjektivitas seorang penulis bisa digali lewat kajian etimologis dan terminologisnya. 

Dengan melihat arti terminologis ala KBBI tersebut, dadaisme mengalami penyempitan makna (peyorasi) hingga benar-benar penyok tanpa memikirkan regenerasi makna. 

Kenyataannya, dadaisme sudah mendarah daging di semua disiplin seni dan sendi kehidupan. Kalau hanya mengandalkan arti kamus, maka dadaisme hanyalah sekadar karya seni rupa dan sastra yang lahap menyantap dan menggagahi konsep-konsep absurditas saja. Padahal, di dalam seni musik dan politik, jurus dadaisme sering dipakai.

Perkembangan keilmuan seni rupa dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami perluasan ke arah wahana besar yang kita kenal sebagai budaya rupa (visual culture). 

Lingkupnya tidak hanya pada cabang-cabang seni rupa yang sudah kita kenal saja seperti lukis, patung, keramik, grafis, dan kriya. Namun, kini juga meliputi kegiatan luas dunia desain, kriya (kerajinan), multimedia, fotografi, hingga pornografi. 

Dadaisme sangat diterima oleh libertarian. Kebebasan semantika produk, semiotika visual, kritik seni, metodelogi desain, manajemen desain, sosiologi desain, dan yang lainnya akan selalu beriringan dengan hukum ketidaksengajaan (law of the accident) khas libertarian.

Libertarian yang meminang seni juga kadang tanpa nalar, anti-artistik, dan absurd. Misal, pandangan-pandangan yang dianut oleh para seniman dadais yang berkonsep munisipal tanpa tekanan.

Dadisme libertarian dapat kita lihat pada Komunitas Pekerja Seni Libertarian (Libertarian Art Worker) bermarkas di Jember Jawa Timur. Komunitas ini sering mengadakan aksi seni yang mengomunikasikan seni sebagai alat untuk menghancurkan moral dan nilai sosial yang berkuasa.

Mereka siap menyatakan perang terhadap masyarakat yang terhormat dan menantang hukum sebab-akibat sebagai kebenaran. Termasuk menggelar aksi-aksi dadaisme di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jember.

Dadaisme libertarian bisa berwujud kesenian atau dogma-dogma tentang keindahan yang telah dijungkirbalikan, spontanitas, serta bersumber dari intuisi kebebasan lainnya.

Dadais akan selalu menghadang lembaga, organisasi atau struktur pemikiran yang mewujudkan bentuk otoritas yang dianggap menghambat, mengontrol, atau mengekang daya kreatif manusia. 

Nyawa dadais libertarian juga terendus baunya pada para pelaku Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) telah memulai pembongkaran terhadap elitisme seni. Mereka pernah menggelar pameran dadaisme di Pasar Raya Dunia Fantasi pada tahun 1987.

Seni sudah mati, jangan nikmati bangkainya! Begitu para dadais grafiti libertarian meneriakkan kebebasan lewat karyanya pada saat kerusuhan Paris pada tahun 1968.

Demonstrasi yang merupakan emanasi demokrasi munisipal itu diikuti puluhan ribu mahasiswa yang berkerja sama dengan kaum buruh dan petani. Mereka berjibaku dalam aksi solidaritas dengan melakukan pemogokan. Aksi dadaisme libertarian dan kaum buruh ini nyaris saja membubarkan negara Prancis. 

Dadais libertarian waktu itu mampu dan sukses mengilhami seniman-seniman untuk memahami perubahan yang terjadi. Mereka berlatih serius untuk peka terhadap kondisi yang berbau tiranik. 

Mereka juga peka dengan bau penindasan yang tidak lagi berasal dari pabrik-pabrik gelap nan menyeramkan. Namun, penindasan itu berasal dari dari raksasa industri periklanan, arsitektur, turisme, supermarket dan selebritis yang serba hedon dan sektarian.

Baca Juga: Seni yang Elitis

Dadais libertarian akan terus melakukan aksi penjarahan subversif atas citra, simbol dan artefak yang dinilai mengekang kebebasan mereka. Mereka selalu peka akan topeng-topeng yang menyamarkan konsumerisme berbasis korporat bejat.

Dadaisme modern makin berkembang melebarkan sayapnya. Termasuk menjalar di tubuh subkultur Punk. Ketika seni dan estetika berbicara tentang subkultur Punk, maka yang dibahas bukan lagi hanya sekelompok orang yang bergaya nyentrik, kumal, dan berambut mohawk lagi.

Atau, mereka yang suka meneriakkan lagu-lagu distorsi berisi protes serta membuat pernak-pernik fesyennya sendiri. Subkultur Punk adalah bagian dari seni performan yang mendampingi kiprah seni musiknya yang bersifat dadais. Hal signifikan ini terlihat pada perkembangan musiknya, seperti poppunk, skatepunk, dan postpunk.

Subkultur Punk juga tidak hanya meliputi seni musiknya saja. Namun, biasa melebar ke ideologi, gaya pakaian, seni visual (rupa), tari, literatur, dan film.

Karya seni rupa Punk pada dasarnya memakai bahasa-bahasa personal yang lugas dan berpropaganda. Gaya hidup, pola pikir, dan jiwa seni rupa Punk sangat dipengaruhi oleh para pendahulunya, yaitu gerakan seni avant-garde. Sehingga seni rupa subkultur Punk bisa dimasukkan dalam aliran dadaisme.

Satu lagi, seni yang dijiwai oleh dadais libertarian adalah Lowbrow art. Aliran ini selalu menggambarkan seni visual “bawah tanah” atau jalanan yang berkembang di Los Angeles, California pada tahun 1970. 

Seni Lowbrow memiliki kesan antara humor dan kegembiraan, tidak murung dan beringas seperti tiran, terkadang nakal dan liar, juga tidak sok alim seperti bau busuk kaesaropapisme.

Lowbrow kadang juga berisi ungkapan dan komentar kasar, namun jujur dan apa adanya. Low brow adalah gerakan seni bawah tanah yang berjuang keras melawan dunia seni rupa yang telah didominasi oleh seni hedonis.

Perjalanan dadaisme libertarian makin berjaya di tahun 1990, di mana karya-karya seniman pemberontak ini yang awalnya tidak diperhitungkan, kini mampu diterima oleh publik seni dan masyarakat secara luas.

Termasuk di Indonesia, semangat dadaisme libertarian makin membara. Dadaisme libertarian Indonesia sedang berjuang untuk menghilangkan batas-batas hierarki di dalam gerak kebudayaan kita, dari pluralisme estetik ke estetik pluralis.

Sekarang, penciptaan seni bukan lagi bertolak dari pengalaman estetis, melainkan juga lebih dari itu. Termasuk usaha-usaha cerdas dalam reproduksi serta manipulasi citraan.

Semoga apa yang dirintis dadaisme libertarian Indonesia yang bertajuk Ini Baru Ini akan selalu hidup dalam lindungan perundangan di atas.