Alex Gibney membuat film dokumenter yang mencekam, "Zero Days" (2016).

Pada 2010 virus Stuxnet menyerang semua komputer di seluruh dunia. Sebetulnya targetnya adalah reaktor nuklir Iran. Tapi "collateral damage" global itu tak terhindarkan -- dan memang tak dipedulikan oleh penyebar Stuxnet, yang  terobsesi pada kehancuran program nuklir Iran.

Nama resmi Stuxnet di lingkungan Dinas Keamanan Nasional (NSA) dan CIA, menurut bocoran orang dalam kepada Sutradara  Gibney, adalah Olympic Game (OG). Tapi tidak ada seorang pun pejabat di kedua instansi itu yang bersedia mengkonfirmasinya.

Stuxnet diproduksi di Cyber Center AS, yang kini menjadi divisi sangat besar dan berkantor di gedung yang sama dengan markas NSA di Fort Meade, bukan lagi bagian dari Departemen Pertahanan seperti di awal pembentukannya.

Siapa sebetulnya pembuat dan penyebar OG? Tidak ada yg mengaku. Tapi banyak sekali bukti awal yang menunjukkan bahwa itu adalah hasil kolaborasi Amerika dan Israel untuk mengacau Natanz, urat syaraf program nuklir Iran.

Serangan itu sukses gemilang. Dua ribu tabung pemutar uranium (centrifugers) di Natanz tiba-tiba mogok dan hancur. Teknisi nuklir Iran heran dan bingung. Beberapa pejabat penting di sana langsung dipecat karena sekadar mengungkapkan penyebabnya pun mereka tidak mampu. Infiltrasi Stuxnet benar-benar mulus dan tak terdeteksi.

Semua indikator tidak menunjukkan kerusakan apapun. Tapi dua ribu alat pemerkaya uranium jebol, melumpuhkan seluruh program. Dinas Energi Atom PBB mengkonfirmasi hal ini. Dalam inspeksi ke Natanz, mereka menyaksikan sendiri begitu banyak tabung centrifugers yang rusak.

Lalu diketahui: centifugers itu mendapat perintah liar untuk berputar sampai 80.000 putaran per menit, jauh melampaui keharusan. Tentu saja instruksi itu bukan diberikan oleh program komputer Natanz, melainkan oleh  Stuxnet yang amat misterius.

Stuxnet sebetulnya bisa memilih satu di antara dua opsi: mempercepat putaran centrifugers sedemikian tinggi (seperti yang kemudian diterapkan di Natanz Iran) atau sangat memperlambatnya -- dan akibat keduanya sama belaka, yaitu melumpuhkan centrifugers.

Mungkin ada pilihan ketiga, yaitu membuat tabung putar itu diam tak berfungsi. Tapi pilihan ini akan segera diketahui karena terbaca di layar indikator, selain hanya membuatnya tak efektif. Padahal yang diinginkan adalah kehancuran centrifugers itu, setidaknya untuk memperlambat program nuklir Iran. Dalam masa reparasi itulah diplomasi dan negosiasi dijalankan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, terutama Israel. Dan memang inilah yang kemudian terjadi.

Beberapa tahun setelah insiden Natanz, sistem komputer di lembaga-lembaga finansial AS berantakan. Sebuah virus menembus sistem mereka, membuat transfer dana dan berbagai transaksi simpang-siur. Tentu saja ini sangat berbahaya karena melibatkan berjuta-juta orang dan perusahaan nasabah Bank of America dan Wells Fargo.

NSA menyimpulkan: itu adalah kerjaan Teheran, sebagai pesan kepada AS supaya menghentikan agresifitas cyber army-nya.

Jika AS masih berulah, Iran juga bisa membalas. Kali ini balasan baru berupa pengacauan sistem beberapa lembaga keuangan -- mungkin lantaran kemampuan Iran pun baru sebatas itu. Lain kali bukan tak mungkin Teheran membidik sistem yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih luas dan vital, misalnya sistem listrik Amerika atau pasokan air.

Dengan dinamika yang begitu mendebarkan tapi tanpa diketahui rakyat kedua negara dan dunia, tahun 2015 tercapai kesepakatan: Iran bersedia mengurangi sampai 2/3 kapasitas nuklirnya. Imbalannya: segala sanksi Barat dihapus. Presiden Barrack Obama mengumumkan hal ini dengan gembira dalam pernyataan singkat tanpa tanya-jawab dengan wartawan di Gedung Putih.

"Ini pencapaian yang sangat besar," kata Obama. "Kita berhasil membuat dunia lebih aman sekarang." Dan dia mengumumkanya berdua dengan Wakil Presiden Joe Biden -- sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Pada saat itu, Iran sudah punya 20.000 centrifugers alias 10 kali lipat daripada saat Natanz diserang.

Ironi lama itu masih terjadi: musuh yang tak dihabisi tuntas pasti akan bangkit lagi dengan lebih kuat. Seperti kata filsuf Jerman F. Nietsczhe: "Yang tak membunuhku akan memperkuatku."

Konon serangan Stuxnet itu sebenarnya ulah Israel, tanpa seizin Gedung Putih, meski program itu dikerjakan bersama. Israel-lah yg membuka kotak Pandora, membuat para petinggi AS geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena Stuxnet adalah program rahasia.

Saat ini cyber troops Amerika masih sangat banyak bercokol di instalasi-instalasi penting Iran (dan tentu juga di Korea Utara dan negara-negara lain). Semuanya selalu siaga untuk mengacau pasokan air, sistem finansial, kegiatan medis, memberi opini dan instruksi palsu kepada para jenderal, bahkan juga mampu mematikan semua alat komunikasi para perwira di lapangan dalam pertempuran.

Stuxnet atau OG ganti baju menjadi Nitro Zeus (NZ). Mudah diduga bahwa daya destruktif NZ  sudah jauh melampaui pendahulunya, sesuai "hukum Moore" dalam perangkat digital ("setiap 18 bulan kemampuannya meningkat secara eksponensial").

Menurut hukum, pelepasan "worm" seperti Stuxnet harus disetujui Presiden AS, sebagaimana otoritas atas tombol bom nuklir. Tapi karakter bom nuklir dan "cyber bomb"  sangat berbeda sehingga tak ada jaminan bahwa pejabat lain tak mungkin melepas cacing digital itu.

Dalam kasus serangan terhadap Natanz Iran hal itu sudah terbukti. Seorang pejabat Israel meluncurkannya karena agaknya ia tak sabar melihat kelambanan Amerika dalam memanfaatkan virus maut itu. Padahal, menurut paranoia Israel, program nuklir Iran sudah di depan mata dan pasti menjadikan Israel sebagai target utama.

Siapa pejabat Israel yang agresif itu? Tidak akan ada pengusutan publik apapun. Amerika pun hanya bisa jengkel atas kegilaan Israel itu, dan pengusutan pasti akan menemui jalan buntu. Israel pun tahu benar: pengusutan hanya akan menyingkap belang Amerika sendiri, sebab Stuxnet adalah program kolaborasi mereka berdua.

"Zero Days" menggambarkan betapa dahsyatnya perang di abad 21 (padahal ini masih di awal abad!).

Perang abad 19 hanya berdimensi darat dan laut; abad 20 ditambah matra udara. Dan kini ada dimensi ke-4: cyber troops, yang tak terlihat awam tapi dampaknya bisa jauh lebih destruktif karena hampir semua bidang kehidupan kini bergantung pada sistem komputer.

Sutradara Alex Gibney menunjukkan kelasnya sebagai "Oscarist". Zero Days digarap dengan sangat baik dan mudah dipahami oleh siapapun. Sejumlah mantan pejabat berwenang -- bahkan juga yang masih aktif -- ditampilkan dengan pernyataan-pernyataan otentik mereka sendiri. Juga para pakar dari perusahaan antivirus seperti Symantec. Para penulis buku dan David Sanger, wartawan senior New York Times yang mendalami isu ini selama bertahun-tahun.

Sejumlah teknisi dan pejabat di Cyber Center memilih untuk memberi info anonim, untuk alasan yang mudah dimengerti, mengingat sangat sensitifnya perkara ini. Untuk itu Gibner tak kekurangan akal.

Seorang perempuan muda sangat sering ditampilkan dan memberi banyak sekali keterangan sebagai latar-belakang "rahasia" untuk apa yang telah menjadi peristiwa publik. Sosok perempuan pirang itu dikaburkan dan didistorsi sedemikian rupa sehingga sulit dikenali. Dan di akhir film, sosok distortif itu pelan-pelan berubah menjadi sosok asli, lalu mengaku: "Saya seorang aktor, yang menyuarakan himpunan opini dan keterangan dari sejumlah orang yang tidak ingin disebut namanya." Brilian.

Yang jelas: substansi pernyataan orang-orang yang dihimpun dalam suara sosok perempuan itu otentik, sehingga Alex Gibner tentu siap jika karena filmnya ia harus dituntut secara hukum.

Terkadang orang awam seperti kita perlu memanfaatkan fasilitas kognitif "the benefit of ignorance". Sebab: mengetahui berarti menderita.