Jika di masa lalu tindakan bullying identik dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan secara langsung, maka saat ini ketikan seseorang di internet sudah bisa membunuh orang lain. 

Ungkapan ini bukanlah hal yang tidak mungkin jika kita melihat perkembangan teknologi saat ini. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), persentase pertumbuhan pengguna internet selama tahun 2018 hingga 2019 meningkat sebanyak 10,12%.

Pada hakikatnya, setiap perkembangan pasti memiliki dampak positif dan negatif. Tetapi permasalahannya, tidak setiap orang dapat terhindar dari dampak negatif perkembangan teknologi. Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah generasi milenial saat ini. 

Saat ini, generasi milenial masihlah berusia remaja. Mereka masih rentan terhadap pengaruh eksternal dan belum cukup dewasa untuk menghadapi dampak negatifnya. Sebagai akibatnya, banyak dari kaum milenial yang mengalami tindakan kekerasan melalui media sosial atau yang biasa kita sebut sebagai cyber bullying. 

Cyber bullying adalah suatu perilaku yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau kelompok yang dapat menyakiti pihak lain melalui media sosial, dan platform elektronik lainnya.

Cyber bullying di Media Sosial dan Dampaknya

Perkembangan teknologi turut berdampak pada hadirnya media sosial sebagai ruang pengganti dalam berkomunikasi. Data dari survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyimpulkan bahwa alasan utama responden menggunakan internet adalah untuk berkomunikasi dan bersosial media. 

Pada kenyataannya, hadirnya internet dan media sosial mulai mengubah tatanan sosial masyarakat. Di mana komunikasi saat ini cenderung dilakukan secara tidak langsung atau melalui perantara media sosial. Hal ini mengakibatkan munculnya fenomena baru seperti cyber bullying yang mana dilakukan secara tidak langsung melalui tulisan dan komentar yang dibagikan di internet.

Seolah burung yang bebas dari sangkar, media sosial membuat masyarakat lebih ekspresif dalam mengutarakan pendapatnya. Tetapi permasalahannya, kebebasan ini tampak seperti tak ada batasnya. 

Meski pemerintah Indonesia sudah menerbitkan UU ITE untuk mengatasi permasalahan tersebut, banyak dari masyarakat yang masih belum menyadari ‘batas-batas’ yang diatur dalam undang-undang tersebut. 

Berdasarkan survei yang diadakan oleh lembaga yang sama pada tahun 2019, 49% dari 5.900 responden mengaku bahwa mereka pernah mengalami kasus cyber bullying. Jumlah ini cukup besar, mengingat hampir setengah dari responden yang mengalaminya. Keadaan ini tak terlepas dari tidak adanya regulasi dan pengawasan yang ketat dari pengembang sosial media serta pemerintah.

Alasan lain yang menjadi penyebab meningkatnya kasus cyber bullying adalah kemudahan pembuatan akun di media sosial. Terbukti sampai saat ini kita masih sering menjumpai akun anonim. Masalahnya, fenomena tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain seperti cyber bullying

Mungkin, penyebab dari fenomena tersebut adalah adanya rasa aman untuk pelaku. Di sisi lain, pemilik akun bisa lepas tanggung jawab karena tidak menggunakan identitas yang sebenarnya. Tetapi orang-orang tersebut tidak menyadari bahwa dampak dari tindakan pengecut mereka bisa membunuh orang lain.

Tidak semua orang memiliki mental yang kuat. Cyber bullying sendiri berdampak besar pada kesehatan mental seseorang. Ia bisa memberikan rasa trauma dan tidak percaya diri kepada korban yang mengalaminya. Selain itu, jika cyber bullying dilakukan secara berkelanjutan, dikhawatirkan bisa menyebabkan depresi yang berujung kepada tindakan menyakiti diri sendiri atau self-harm dan konsekuensi terburuknya bisa menyebabkan kematian kepada korban.

Mengatasi Cyberbullying Demi Generasi Emas yang Sehat

Mengingat dampaknya yang besar, maka penyelesaian cyber bullying tidak bisa diselesaikan secara sambil lalu. Cyber bullying harus menjadi perhatian serius sebagai upaya untuk mewujudkan bonus demografi 2045. Jika tidak diatasi dengan baik, maka generasi emas Indonesia hanya akan menjadi generasi yang mentalnya sakit.

Karena itu, pemerintah dan seluruh kekuatan civil society perlu bergandengan tangan untuk turun menyelesaikan persoalan ini. Pemerintah melalui Kominfo harus memperketat kembali regulasi yang sudah diterbitkan sebelumnya. Jangan biarkan Undang-undang ITE hanya menjadi aturan yang ada untuk dilanggar. Pemerintah harus semakin tegas dalam menindak setiap pelanggar kebijakan. 

Selain itu, pengembang media sosial perlu untuk meninjau kembali regulasi pembuatan akun. Sehingga hal tersebut akan meminimalisir penyalahgunaan akun anonim.

Sebagai warga negara Indonesia, pendiri bangsa sudah menanamkan pentingnya kemanusiaan melalui sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Oleh karena itu, kita sebagai manusia wajib untuk memanusiakan orang lain. Cyber Bullying dan segala bentuk perundungan bukanlah hal yang manusiawi.

Selama ini, tanpa kita sadari banyak sekali dari kita yang tidak memahami pentingnya makna dari setiap kata yang kita ucapkan dan tuliskan. Banyak dari kita lupa jika yang mendengar dan membaca setiap tulisan serta komentar yang kita bagikan adalah sesama manusia. Mereka yang juga memiliki rasa dan bisa terpengaruh emosinya dengan hal yang kita lontarkan. 

Pada dasarnya, setiap kata memiliki makna dan kita sebagai pelukis kata harus mampu mempertanggungjawabkan hal tersebut. Sedikit kata-kata menyakiti yang kita keluarkan sudah bisa membahayakan kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, seperti kata Imam Bukhari, “Hendaklah manusia berkata yang baik atau diam.”

Referensi:

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet, Hasil Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2018