Kresh! Widih!

Keberadaan suatu Tugu, itu tak sekedar menjadi penanda monumental, namun juga sebagai lambang keberadaan suatu wilayah yang karena struktur model dan manfatannya menjadi legenda yang patut dikenang.

Kawasan Tugu di kota Malang, misalnya.

Benar-benar kawasan terpadu menjadi pintu masuk utama dari arah selatan pun khususnya utara yang waktu itu moda transportasi massal adalah kereta api dan bus umum.

Kawasan ini memang dekat stasiun kereta, stamplat bus yang sekarang sudah pindah ke pinggiran kota, perkantoran pusat pemerintahan, kawasan sekolah-sekolah menengah atas favorit, pertokoan, juga kawasan hunian dan hotel-hotel penginapan.

Lalu, adalah hotel bernama Tugu yang menawarkan tempat singgah melepas lelah bersuasana alami dengan tata disain ruang, tegel, perabotan yang orisinal bahan lawas dan tata letak tanaman di halaman luar nan asri.

Tak hanya itu, pas mencoba untuk memilih sajian yang ada di tempat memanjakan indera pengecap cita rasa, restoran bernama Melati, adalah Pangsit Cwimie tertera dalam daftar menu. Satu hidangan olahan masakan khas Malang, yang menarik bagi siapa saja yang bertandang ke kota Malang, selain bakso khas Malang tentunya.

Akhir-akhir ini, Pangsit Cwimie khas Malang memang cenderung mendapat persaingan ketat berupa varian Mie Ayam ala Jakarta dan olahan Mie Ayam khas poros Wonogiri-Solo.

Lalu, Pangsit Cwimie pun mencoba untuk mempertahankan diri tetap eksis menjadi pilihan bertualang cita rasa, sebagai masakan khas yang melegenda di kota yang bersemboyan Malang Kucecwara.

Dahsyat ternyata! Saya tak mengira akan cita rasanya seorisinal Pangsit Cwimie tempo dulu, yang mengingatkan saya akan banyak kenangan indah di kota berhawa sejuk ini, puluhan tahun lampau.

Betapa suatu kejutan tersendiri, secara menjadi mindset umum selama ini bahwa masakan hotel cita rasanya tak ngalor, tak ngidul sekedar mengeyangkan. Namun, ternyata tidak bagi Pangsit Cwimie olahan dapur restoran Melati hotel Tugu ini.

Mungkin, kejutan yang saya alami kali ini karena kepengaruh sama perhelatan Piala Dunia 2022 yang memang penuh kejutan, tiada terkira. Bagaimana bisa Argentina yang pernah kebobolan 2-0 sama Saudi Arabia, ternyata jadi juara dunia lagi, sebanyak tiga kali.

Cita rasa unik khas Pangsit Cwimie Malang begitu terasa, gurih, asin, manis dari cacahan lembut abon basah daging ayam, yang membedakannya dengan tampilan topping Mie Ayam varian dari tempat-tempat di luar kota Malang, yang umumnya khas dengan potongan pun irisan daging ayam berukuran besar-besar.

Lalu ada acar timun dan acar cabe ijo, yang pas menyajikan, bahasa tubuh Mbak-mbak Pramusaji tampak berkata-kata dalam hati, “Mesti bapak ini nanti minta nambah acar timun lagi.”

“Mbak... Minta nambah acar timunnya yah...” Saya mencoba meminta dengan ramah, tanpa terbersit menebar pesona sebagai niatan sekalipun.

“Nah,Tuh... Bener kan?” Demikian lanjut Mbak-mbaknya berkata-kata dalam hati demi mendengar permintaan saya, yang sesuai dengan perkiraan kata-kata batinnya.

“Cocok sama batinku...” Sambung Mbak-mbaknya masih dalam hati sambil tersenyum menyuguhkan setatakan cangkir penuh acar timun yang beraroma asam manis segar.

Kresh! Widih! Itu pangsit gorengnya, bener-bener bisa bikin meledak angan cita rasa saya yang tiada menyangka akan kelezatannya, pada awalnya. Betapa rasa pangsit goreng ala bakmi G* yang terkenal itu, atau bakmi Vill* Cineremas, ditinggal dada-dada permisi, terlewati oleh pangsit goreng ala Pangsit Cwimie ala resto Melati hotel Tugu Malang ini.

Oh, ada kejutan lagi! Beberapa iris telor asin masir mendampingi Cwimie. Tak biasanya begini, Pangsit Cwimie bersanding mesra sama telor asin. Benar-benar terobosan baru olahan Pangsit Cwimie yang ternyata bisa saling melengkapi cita rasa. Kelak, Pangsit Cwimie telor asin bakal bisa menjadi varian baru, memperkaya masakan olahan mie khas kota Malang ini.

Pangsit Cwimie khas Malang olahan dapur restoran Melati hotel Tugu kota Malang, memiliki cita rasa orisinal, sanggup memikat pengunjung baik dari dalam maupun luar kota Malang.

Sampai suapan sumpit terakhir, Pangsit Cwimie khas Malang olahan hotel yang memberi suasana asri pada tempat menikmati hidangan ini, benar-benar membuat saya gak mau menguyah cepat-cepat. Maunya lambat, slow motion, kalem-kalem, pelan-pelan, alon-alon.

Kenapa menyantap Cwimie aja sambil alon-alon? Ya, biar Cwimie tetaplah All On, beriring harapan agar kelak olahan Pangsit Cwimie khas Malang tetap melegenda, tetap eksis ditengah gempuran olahan Mie Ayam dari luar daerah kota Malang, yang pelan namun pasti, telah menebar pesona sebagai alternatif pilihan bagi petualang cita rasa.

“Mbak.” Saya memecah keheningan suasana, memanggil Mbak-mbak tadi yang nampak sabar siap membantu pelanggan, dengan sikap ramah.

“Ya pak, bisa dibantu?” Mbak-mbaknya segera menghampiri meja tempat saya termanjakan kedahsyatan cita rasa sepiring Pangsit Cwimie yang tak ternyana sebelumnya.

“Pesen wedang angsle ya Mbak.” Pinta saya.

“Baik pak.” Jawab Mbak-mbaknya ramah, dengan sigap berlalu menuju dapur, memesankan semangkok angsle.

Jus jambu pun lalu menemani saya menunggu angsle hangat datang, sambil menerawang langit sore kawasan tugu kota Malang, berhias semerbak segar aroma kayu Mahoni yang berjajar rindang di sepanjang jalan.