Hari ini Bu Nana benar-benar merasa bebas. Tak ada pekerjaan yang memburunya.  Pembelajaran sudah usai. Rapor pun sudah dibagikan. Meski dalam wujud pdf. Pandemi memaksa segala lini dilakukan secara daring. Setidaknya para murid sudah mengetahui laporan kompetensi dan pencapaian keberhasilan belajar selama satu semester.

Kini sekolah libur. Pembelajaran ditiadakan. Ingin rasanya Bu Nana pulang ke desa. Menghambur bersama handai taulan sanak keluarga. Hal yang tidak bisa dilakukan saat libur lebaran kemarin. Begitu banyak aturan dan larangan yang menjerat. 

Mungkin karena covid sedang ganas-ganasnya. Yang harus tes PCR-lah, tes antigen-lah, mana sekali tes harus merogoh kocek dalam-dalam. Harga tes PCR bisa dua tiga kali lipat dari tiket bus. Mau tak mau Bu Nana harus sanggup menahan rindu yang begitu mendera. Maafkan anakmu yang durhaka ini, Pak, Bu.

Bu Nana hanya bisa memendam sunyi di hingar-bingar petasan di malam lebaran tanpa lantunan kalimat takbir mengagungkan kebesaran Ilahi Robbi. Masjid dan surau mati. 

Pintu-pintu masuk dikunci rapat-rapat seakan semua jemaah menjadi perantara dan pelantar virus yang tak berperikemanusiaan. Salat pun ditiadakan. Tuhan izinkan aku mengadu pada-Mu dengan cara kami, dengan cara yang pemerintah tidak mengerti. 

Biarlah segala perilaku kami dibelenggu asal hati kami tidak mati untuk selalu mengingatmu, hatinya membatin.

Covid benar-benar telah meluluhlantakkan jiwa-jiwa lemah, jiwa-jiwa materialis yang menafikan kekuatan di atas sebuah kekuatan. Bu Nana juga memahami pemerintah berada di ruang dilema antara menyenangkan atau menyengsarakan. 

Bila tidak dilarang semakin banyak penduduk negeri terinfeksi virus ini. Itu saja masih banyak pasien yang sembunyi-sembunyi dan tidak lapor diri, lalu berlindung pada kata karantina mandiri hingga indra penciuman dan perasa kembali. Batuk dan demam tidak menghampiri. 

Setelah tubuh mereka pulih kembali baru mereka memberanikan diri mengabarkan dan menyapa para tetangga. “Jangan-jangan kami kemarin terkena covid,” ujar mereka.

Bagaimana dengan warga yang abai dan menganggap enteng sebuah penyakit. Lalu tiba-tiba beberapa tetangga maupun saudara yang pernah melakukan kontak dengan keluarga mayat yang terpapar virus ini berujung pada kematian. Seperti Bu Mimin yang melayat Pak Dikin beberapa waktu lalu. 

Selepas 40 hari Pak Dikin berpulang kabar santer terdengar bila Bu Mimin terkena gangguan sesak napas.  Seminggu kemudian ajal pun menjemput perempuan berusia 60 tahun itu.

Sungguh pandemi ini memicu depresi akut. Bu Nana fobia kumpul-kumpul. Dari kondangan hingga melayat. Bu Nana seperti kerbau dicocok hidungnya. Diam di rumah. Belanja dari rumah. Kemana-mana selalu memakai masker. Dobel masker malah. Lalu vaksin pun digadang-gadang menjadi solusi.

Semua berlomba mendapatkan vaksin. Katanya bila sudah divaksin hingga dua kali, akan kecil kemungkinan dihinggapi virus keparat itu. Tetapi kenapa di akhir tahun tak boleh juga kami pergi. Lalu bagaimana aku hendak mengobati kangen ini. 

Cukupkah rasa ini kuterbangkan bersama daun yang diembus angin? Akankah daun menjumpai cinta dan kangenku? Bu Nana lagi-lagi hanya bisa mendengkus.

Bu Nana menerawang. Bertahun-tahun mengabdi pada negara. Siapa sangka peraturan demi peraturan berubah seiring waktu. Dulu masa indah itu dilaluinya dengan bahagia. 

Saat libur akhir semester para guru juga menikmati libur. Tidak perlu absen atau hadir di tempat kerja, cukup leha-leha di rumah atau bepergian ke luar kota. Ah … kini semua tidak bisa dirasai. 

ASN apapun itu, mau guru mau bukan guru kini sama saja. Tidak punya libur. Yang ada hanya cuti. Dan ketika guru mengambil cuti tahunan maka tidak boleh lebih dari dua hari jika tidak ingin kehilangan tunjangan. Sungguh dunia adalah penjara bagimu, Nana.

“Eh, Bu Nana mau ambil cuti kapan?”

Ucapan Bu Dyah membuyarkan lamunannya.

“Bukannya kita dilarang ambil cuti di akhir tahun, Bu?”

“Lo, Bu Nana ini bagaimana, belum baca info terbaru to?” Bu Dyah menunjukkan WA-nya, “Pak Kepala Sekolah dua hari lalu share surat edaran cuti. Dan larangan cuti yang kemarin dicabut. Yuk kita ambil cuti.”

“Duh, ketinggalan. Saya belum buka info. Oh … begitu ya. Bu Dyah sudah ambil cuti, Bu?” tanya Bu Nana ingin tahu.

Bu Dyah menyeringai. “Saya ambil cuti tanggal 14 dan 15. Rencana mau ke Pekalongan. Kakak ada kerja. Mantu anak ragilnya.” 

Bu Nana berpikir sejenak.

“Kalau bisa cutinya jangan bareng, ya. Katanya bisa berabe di absen. ‘Kan harus klop tuh jumlah yang wfo dan wfh.”  Bu Yulia tiba-tiba sudah bergabung di forum diskusi dadakan. “Aku ambil tanggal 22 sama 23 kalau begitu. Biar bisa Natalan bareng keluarga besar,” sambungnya.

“Jadi tanggal 20 dan 21 belum isi, ya? Oke deh aku ambil tanggal itu. Rugi juga sih kalau tidak diambil. Cuti ‘kan hak kita. Gak bisa diakumulasi buat tahun depan. Yuk, ah siapa yang belum cuti. Segera,” teriak Bu Nana menyemangati para guru yang hadir wfo.

Para guru perempuan berceloteh kegirangan. Maksud hatinya tersampaikan dengan dibolehkannya cuti tahunan. Kapan lagi akan kumpul dan makan bareng. Kata ustaz menyambung silaturahim bakal memanjangkan umur dan menambah rejeki. Hati Bu Nana berbunga-bunga. Tiket kereta sudah di tangan. Sebentar lagi dia akan menghirup udara segar kampung halaman yang sudah tak diinjaknya selama puluhan purnama.  

Berbagai kegiatan sudah disusun rapi di otaknya. Kali ini dia sangat ingin menyenangkan keluarganya. Senin nanti dia akan mengajak anggota trah Bangun Kusumo untuk menginap di vila dan keesokan paginya dia bersama keluarga akan mengunjungi tempat wisata terdekat. 

Semua biaya akan ditanggung olehnya. Bu Nana memang sangat ingin membahagiakan kedua orang tua yang telah berlelah payah membesarkan dan mengasuhnya hingga berhasil seperti sekarang ini.

Bu Nana memandang ibunya berkaraoke di ruang tengah. Suaranya bak Sundari Sukoco bila melantunkan lagu-lagu keroncong. Ibu memang suka menyanyi. Ketika gadis, Ibu pernah menjuarai lomba solo vocal antar sekolah. Bapak waktu itu menjadi jurinya. Pantas saja Ibu dimenangkan. Rupanya love at first sight

Ibu pun terpikat pada Bapak yang piawai memainkan berbagai alat musik. Gayung bersambut. Tiada hari tanpa irama dan lagu.

Mereka mengikat janji untuk sehidup semati. Cintanya langgeng lebih-lebih dengan hadirnya para cucu dari kakak dan adik. Kebahagiaan itu kian lengkap. Bu Nana tergugu. Tak terasa setetes air jatuh dari matanya. Sampai detik ini dia belum dikaruniai jodoh, apalagi cucu untuk keuda orang tuanya.

Dua hari terasa begitu singkatnya. Bu Nana harus kembali. Tak bisa dia berlama-lama di desa karena absennya akan berbicara. Bila saat wfo tidak absen dia pun akan dicap mangkir. Suatu saat akan diakumulasi sebagai kekurangan waktu kehadiran dan berefek pada nilai kedisiplinan. 

“Wah siapa nih yang bawa makanan,” teriak Bu Dyah sambil menjumput camilan di atas meja.

“Bu Nana tuh. Dia ‘kan habis piknik. Wah, kayaknya seru ya Bu cutinya. Bisa piknik. Tempatnya bagus-bagus. Pengin juga nih pergi ke sana,” sambung Bu Yanti.

“He … he … iya ….” Semringah Bu Nana menjawab.

“Hari ini yang cuti Bu Yulia, ya?” ujar Bu Yanti sambil menikmati dodol oleh-oleh Bu Nana.

“Selamat pagi, Ibu-ibu?” Bu Yulia tiba-tiba saja sudah berada di hadapan mereka.

“Cuti kok berangkat sih?” sergah Bu Dyah.

“Suamiku gak mau kuajak pergi-pergi. Katanya ada pekerjaan. Aku jengkel. Kutinggal saja kesini. Anggap aja dolan. Gak perlu absen.”

Para ibu saling memandang dan mengernyitkan dahi. “Aneh,” celutuk Bu Nana. 

Tengah mereka asyik bersenda gurau, Pak Sasmito masuk. “Info terbaru tentang cuti sudah saya share di grup WA, ya. Silakan dibaca.”

“Apa …?”

Bu Nana terkulai lemas. Bu Dyah gegas membuka pesan di ponselnya. Sementara itu Bu Yulia sudah sibuk memijit jari dan kepala Bu Nana.

Bu Dyah menepok jidatnya.

“Bapak dan Ibu dilarang cuti dan apabila pengajuan cuti sudah tercetak SK-nya, maka cutinya dibatalkan. Pengajuan cuti tahunan diubah menjadi cuti alasan penting dengan melampirkan surat undangan pernikahan bila menikah untuk kali pertama, melampirkan surat dokter bila ada saudara atau keluarga yang sakit, melampirkan surat kematian atau bukti foto saudara atau keluarga yang meninggal atau melampirkan jadwal dan bukti pembayaran umroh bila melakukan ibadah umroh.”

 Bu Dyah membaca pesan itu keras sekali.