Allahu akbarAllahu akbar….”, adzan subuh berkumandang pagi ini, membangunkan Afif yang membuatnya bergegas pergi ke Masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah. Di tengah perjalanan, ia mendapati seorang anak bernama Didin yang termenung lesu sembari menatap langit dengan tatapan kosong.

“Tuhaaan, mengapa engkau menjadikanku seperti ini”, teriak Didin yang membuat Afif sejenak menghentikan perjalanannya ke Masjid.

Perasaan Afif seketika menjadi berkecamuk antara menghampiri Didin atau tetap melanjutkan perjalanannya. Kemudian Afif pun memutuskan untuk menghampiri Didin dan berniat untuk mengajaknya ke Masjid bersama-sama.

“Eh mas, kamu kenapa? Daripada kamu berteriak seperti itu, nanti malah mengganggu masyarakat sekitar” kata Afif kepada Didin.

“Tinggalkan aku sendiri! Pergi kamu!” Jawab Didin seraya menatap Afif dengan tatapan yang tajam.

Afif pun merasa ketakutan dan segera bergegas pergi ke Masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah. Selepas sholat subuh, ternyata Didin masih berada di tempat yang sama, dan masih saja berteriak “Tuhaaan, mengapa engkau jadikan aku seperti ini”.

Dengan perasaan tidak tega yang bercampur aduk sekaligus kasihan, Afif memutuskan untuk memaksa Didin mengikutinya ke suatu tempat.

“Mau dibawa kemana aku hah? Bedebah kamu”, ucap Didin dengan nada tinggi kepada Afif. “Sudah diam saja dan ayo ikut aku!”, kata Afif kepada Didin sambil menarik tangannya dengan paksa.

Ternyata, Afif mengajak Didin untuk bersama-sama pergi ke sebuah sawung yang bersebelahan pas dengan sebuah sawah, yang di sana sudah ada Kiai Hamzah bersama dua muridnya yaitu Yuda dan Hendri. Sesampainya di sawung tersebut, Kiai Hamzah langsung menanyakan apa yang sedang terjadi dengan Didin sehingga ia bisa seperti ini.

“Jadi begini pak Kiai, saya mendapati Didin sedang berteriak-teriak sambil menatap langit dengan tatapan kosong, kemudian karena kebetulan saya berjanji untuk menghampiri Anda di sini, jadi sekalian saja saya paksa dia untuk ikut dengan saya”, jelas Afif kepada Kiai Hamzah.

“Oh begitu ya, jadi masalahmu apa sih sebenarnya mas Didin?” Tanya Kiai Hamzah kepada Didin yang terus menunjukkan raut wajah marahnya.

“Ini semua tidak ada hubungannya dengan kalian, jadi jangan ikut campur!” Tegas Didin kepada Kiai Hamzah. “Sebentar, sini duduk dulu saja, kamu mungkin butuh kopi, sini ngopi dulu supaya kita enak ngobrolnya”. Kata Kiai Hamzah kepada Didin.

Didin yang masih dengan raut wajah garangnya berkata “Aku tidak butuh kopi, aku hanya butuh ketenangan”, tapi secara tidak sadar dia malah menyeruput kopi tersebut. Seketika Yuda pun langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku aneh Didin tersebut.

“Hahahaha, pie to kowe ki Din” Kata Yuda kepada Didin.

Singkat cerita, Didin yang semula masih keras kepala dan kekeuh tidak mau bercerita akhirnya mau menyampaikan keluh kesahnya.

“Jadi sebenarnya begini, saya ini sedang mengalami krisis kepercayaan diri Pak Kiai, karena teman-teman kelas saya di Kampus selalu meremehkan kemampuan saya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya ini pemalas lah, sukanya tidur-tidur teruslah, mereka menghina saya karena saya terlalu fokus pada organisasi”, jelas Didin kepada Kia Hamzah.

“Baik din aku paham sekarang, terus lanjutkan” Sahut Kiai Hamzah.

“Lalu saya harus bagaimana Pak Kiai, apa yang harus saya lakukan?” Tanya Didin kepada Kiai Hamzah.

“Tapi memangnya kamu benar begitu adanya mas?” Tanya Hendri sambil menikmati pisang goreng yang baru saja ia beli di pasar. “Ya sejujurnya sih ada benarnya, tapi apakah aku salah apabila mempertahankan sesuatu yang sudah aku yakini sejak lama? Kan tidak”, Jawab Didin sambil mengunyah pisang goreng yang masih hangat.

“Jadi begini mas Didin, kamu harus tau bahwa ada dua sudut pandang yang sepertinya harus kamu ketahui dalam permasalahan ini”. Kata Kiai Hamzah kepada Didin.

“Yang pertama adalah, tidak ada yang salah dengan berorganisasi karena sejatinya itu merupakan sebuah keharusan, dari sanalah kamu akan membuka cakrawala kehidupan serta kamu akan belajar mengetahui apa sebenarnya makna kehidupan yang akan kamu jalani. Yang kedua adalah, kalau kamu kuliahnya masih dibiayai orang tua, berarti kamu punya kewajiban sebagai seorang anak harus berbakti dan tidak menjadikan itu sebagai sesuatu yang mubadzir”, sambung Kiai Hamzah.

“Jadi sebenarnya adalah, tugasmu sekarang yaitu bagaimana caranya kamu menyeimbangkan dua permasalahan tersebut. Tidak usah kamu mendengar ejekan dan cacian dari orang lain karena mereka sebenarnya bisa saja iri dan tidak paham dengan apa yang sekarang kamu rasakan”,  jelas Kiai Hamzah kepada Didin.

“Allah SWT kan telah berfirman dalam Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, jadi yang harus kamu lakukan sekarang untuk membungkam mereka-mereka yang hanya bisa mencaci maki dirimu itu adalah dengan sebuah pembuktian yang nyata”, lanjut Kiai Hamzah yang sedang memberikan pencerahan kepada Didin.

“Waah, jadi seperti itu ya pak Kiai, tapi bagaimana caranya agar saya tetap tenang walaupun dicaci maki terus seperti itu, karena itulah problematika yang saya rasakan saat ini?” Tanya Didin kepada Kiai Hamzah.

“Setidaknya dalam hidup, kamu harus terus merasakan kehadiran Tuhanmu dalam segala macam aspek kehidupan. Paling tidak, kamu menyadari bahwa makna kata Islam yang kalau diartikan itu adalah keselamatan, di situlah kamu bisa mulai benar-benar sadar bahwa di hatimu ada Zat yang maha pencipta selalu bersamamu.” Jelas Kiai Hamzah.

“Dan untuk semuanya yang ada di sini, saya hanya ingin mengatakan bahwa, sebanyak apa pun kamu menghina dan meremehkan seseorang, maka sebesar itu pula kamu akan sangat kecewa dan terpukul ketika kamu mengetahui bahwa nasib orang tersebut lebih baik daripada kamu. Jadi, berhentilah untuk saling menghina, kalau bisa hidup rukun bareng, kenapa harus saling bermusuhan?” Kata Kiai Hamzah dalam nasehatnya kepada anak-anak muda tersebut.

njih, Baik pak Kiai”, serentak mereka semua menyahut apa yang telah disampaikan oleh Kiai Hamzah.

“Sudah tenang kan sekarang mas Didin?” tanya Afif sambil tertawa kecil kepada Didin.

“Haha iya mas Afif, makasih banyak ya, aku minta maaf karena tadi telah berbuat kasar kepadamu”, kata Didin kepada Afif.

“Santai aja Din” Lanjut Afif kepada Didin. “Yang penting tenang aja Din, karo kuwi kopine dintekke sek ben penak¸haha”, Celetuk Yuda kepada Didin.

“Hahahaha”, Hendri hanya bisa tertawa lepas melihat kondisi temannya tersebut sudah lebih relax dari sebelumnya.

“Yasudah kalau begitu, saya mau berangkat kuliah dulu ya, terima kasih banyak semuanya atas bantuan dan masukannya”, Ucap Didin kepada yang lain.

Pada akhirnya, Didin pun kembali menjalankan aktivitasnya dengan semangat sebagai seorang organisatoris di kampus sekaligus mahasiswa yang rajin dalam berkuliah. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di jenjang S1 dengan predikat cumlaude dan membuat orang-orang yang dulu selalu mengina dan meremehkannya kini berbalik memuji dan mendukungnya.