2 tahun lalu · 1651 view · 4 min baca menit baca · Politik picsart-01-21-12-54-28-5882f9105f23bd12119d616d1.jpg

Curhat Politis ala SBY

Baru-baru ini, tepatnya 20 Januari 2017, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menggembarkan nitizen dengan tontonan keluh-kesahnya di media sosial. Melalui akun twitternya @SBYudhoyono, akun resmi yang dikelola khusus oleh staf pribadinya, SBY tampak prihatin sekali pada kondisi bangsa.

Dilihat dari isinya, SBY hendak mengatakan bahwa kondisi bangsa atau negara hari ini tengah dilanda masalah yang tak kecil. Juru fitnah dan penyebar hoax diyakini berkuasa dan merajalela di mana-mana. Merekalah yang bagi SBY adalah biang keladi atas amburadulnya kondisi bangsa. Alhasil, rakyat dan kaum yang lemah dinilai SBY tak mampu meniti harapan akan kemenangan-kemenangannya.

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yang lemah menang?” tulisnya dengan *SBY* sebagai tanda bahwa itu twit pribadinya, bukan dari staf pengelola akunnya.

Sejenak membaca twit SBY di atas, bolehlah kiranya jika saya menyebutnya sebagai curahan hati atau curhat. Karena memang, secara makna, curhat adalah tindakan seseorang yang menceritakan sesuatu, mengumbar hal-hal personalnya. Baik itu kepada orang-orang terdekatnya, maupun kepada sang pencipta sebagaimana yang SBY tunjukkan. Sebuah cara berbagi isi hati yang mainstream yang bisa kita dapati di belahan dunia medsos apa dan manapun.

Meski demikian, sebagai seorang politisi, apalagi dirinya adalah mantan Presiden RI, tentu tak salah juga jika curhat SBY ini lebih saya maknai sebagai “curhat politis”. Bahwa curhatnya jelas berbeda dengan curhat-curhat orang pada umumnya; secara makna, berbeda dengan insan yang lagi kasmaran; berbeda dengan si doi yang lagi dirundung sepi karena putus cinta; maka tujuan curhatnya pun jelas berbeda. Tujuan curhat inilah yang jadi topik utama tulisan saya kali ini.

Politik Keprihatinan

Prihatin adalah kondisi di mana seseorang tengah dilanda rasa sedih hati, was-was, bimbang, yang biasanya dipicu karena usahanya gagal atau mendapat kesulitan atau hambatan. Pada SBY, berdasar pada curhatnya di atas, kondisi inilah yang juga tengah melanda dirinya.

Seperti yang bisa kita baca, SBY jelas tengah mempersepsi kondisi negara berada dalam kondisi yang amburadul. “Ya Allah, Tuhan YME, Negara kok jadi begini” adalah untaian kata-kata yang seolah mengklaim bahwa kondisi negara di bawah kepemimpinannya jauh lebih baik daripada kondisi negara setelah dirinya berkuasa.

Meski ada indikasi ke arah kritik atas kepemimpinan Jokowi, tetapi bagi saya bukan itu yang jadi sasaran tembak dari kata-katanya. Saya yakin betul bahwa kondisi yang dimaksud adalah kondisi yang tengah melanda eksistensi anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Calon Gubernur.

Kita tahu, Calon Wakil Gubernur AHY Sylviana Murni tengah dilanda masalah atas dugaan tindak pidana korupsi. Terhitung sejak pasangan ini resmi diusung oleh partai Demokrat dkk sebagai Cagub-Cawagub Pilkada DKI Jakarta 2017, sudah 2 (dua) kali Sylvi dikait-kaitkan dengan tindakan tercela berupa korupsi ini.

Belum juga usai soal dugaan kasus korupsi pembangunan masjid Balaikota, kabar tak sedap lainnya kembali terkuak pada dugaan korupsi dana Bansos Pramuka. Mau tak mau, kedua kasus ini harus melibatkan Sylvi sebagai penanggungjawab. Pertama sebagai Walikota yang saat pembangunan masjid tersebut berlangsung; kedua sebagai Ketua Kwarda Pramuka DKI Jakarta periode 2013 – 2018.

Di tengah jerat kasus tersebut, wajar kiranya jika SBY mengungkap keluh-kesahnya pada pada Tuhan YME. Sebab, jika sampai Sylvi terbukti melakukan tindak pidana korupsi, maka sang anak (AHY) jelas tidak akan mampu memenangkan pertarungan di Pilkada depan.

Memangnya siapa yang mau milih koruptor sebagai pemimpin? Hanya jika hilangnya kewarasan sajalah dari warga pemilih baru itu bisa terjadi. Di luar itu, saya kira mustahil.

Ya, yang ingin SBY utarakan tak lain adalah bahwa isu korupsi yang menyeret Cawagub anaknya adalah fitnah dan kabar “hoax”. Melalui curhat politisnya, SBY tampak sekali ingin menggiring opini publik demi meraih dukungan untuk Sylvi agar bisa terbebas dari kasus yang melandanya. Sebab, jika publik DKI benar-benar termakan curhatan politis SBY, maka bukan hal yang tidak mungkin jika Syvli bisa terbebas tanpa syarat. Apalagi kita tahu, di negeri ini, tekanan massa seolah jauh lebih bertaring daripada produk hukum kita sendiri.

Guna meraih itu semua, dimainkanlah politik keprihatinan. Dan bukankah politik semacam ini pernah meraup simpati dan empati yang teramat besar? Tentu kita tidak lupa bagaimana strategi berupa politik keprihatinan ini massif dimainkan di tahun-tahun 2004 dan 2009. Ya, saat itu dirinya ikut dalam pertarungan Pemilihan Presiden. Hasilnya? Dua periode menjadi hasil konkritnya, bukan?

Sungguh, saya tidak mengada-ada dengan berkata bahwa SBY kini tengah dilanda kondisi prihatin. Sudah berapa kali kiranya SBY mempertontonkan kondisi batinnya yang demikian. Baik dalam pidato-pidato kenegaraannya sebagai presiden, orasi-orasi politiknya sebagai pemimpin partai, terlebih dalam twit-twit pribadinya sebagai salah satu pengguna media sosial. Maka tak salah jika banyak orang mengasosiasikan SBY sebagai “Bapak Prihatin”, sosok politisi dengan politik keprihatinan sebagai strateginya.

Ya, politik keprihatinan inilah yang kerapkali tergambar dalam permainan kata-kata seorang SBY. Sekedar beberapa contoh, ketika SBY mengetahui ada kantor perwakilan Papua Merdeka di Oxford, Inggris misalnya, sebagai seorang presiden kala itu, SBY hanya memberi respon dengan nada kecewa dan prihatin.

Konflik di negara-negara Timur Tengah juga sekedar mengundang keprihatinan darinya. Pun pada kondisi atau nasib persepakbolaan Indonesia, SBY hanya turut prihatin saja. Tak ayal jika SBY dinilai sebagai pemimpin yang mencacat rekor dalam hal 1000 kali menyebut kata “prihatin”.

Singkatnya, dengan politik keprihatinan, SBY hendak melepaskan beban penatnya atas kondisi yang melanda Sylvi. Baik karena Sylvi adalah Cawagub sang anak, maupun pasangan ini adalah usungan partainya untuk memenangkan pertarungan di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Artikel Terkait