Pada Jumat yang cerah ini saya mengikuti peringatan HUT PGRI ke-71 dan Hari Guru Nasional Tahun 2016 di GOR PGRI Kecamatan. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara dengan tema "Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya" dihadiri oleh Camat, Kapolsek, Danramil, Ketua PGRI Kecamatan, Kepala UPTD Kecamatan, dan guru-guru mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP/MTs, SMA/SMK sekecamatan ini pun dimulai.

Menjadi guru bukanlah cita-cita utama saya. Sedari kecil cita-cita saya berubah-ubah. Melihat dokter yang memeriksa pasien dengan tulus sepenuh hati, saya pun ingin menjadi dokter. Melihat Ruth Sahanaya, Trie Utami, Krisdayanti dan sejumlah penyanyi papan atas Indonesia menjuarai festival nyanyi internasional, saya pun ingin menjadi penyanyi.

Begitu juga ketika membaca profil pengusaha dalam dan luar negeri yang sukses dan kaya raya, saya pun terbersit mau menjadi pengusaha.

Cita-cita saya berubah lagi ketika ada 5 orang siswa PGA (Pendidikan Guru Agama) yang praktik mengajar di SD tempat saya belajar, mereka berusia sekitar 17-18 tahun itu begitu menginspirasi saya. Mereka mengajar semua mata pelajaran dengan penampilan bersahaja, dengan senyum meneduhkan dan penuh keceriaan.

Dalam mengajar mereka menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, cara menyampaikannya tidak monoton dan memancing rasa ingin tahu siswa. Sebagai anak SD, kami diberikan pengajaran alternatif yang sungguh menarik minat kami untuk semangat belajar di sekolah.

Melihat hal itu, saya jadi mempunyai cita-cita menjadi guru agama. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia, guru menyuruh semua siswa di kelas saya mengarang dengan tema 'cita-citaku'. Saya menuangkan keinginan dan harapan saya di masa depan, saya juga memaparkan jenjang pendidikan apa yang harus ditempuh kalau mau menjadi guru, mulai SD, SMP sampai PGA pun saya ceritakan.

Belumlah terpikir untuk kuliah ke jenjang S1 karena dengan sekolah di level SMA sederajat pun waktu itu bisa mengajar minimal tingkat SD.

Sampai saya lulus SD lalu meneruskan ke SMP, saya masih memeluk cita-cita saya itu. Pernah pada suatu hari ketika itu jadwal pelajaran Biologi, Ibu Guru membawa alat pembelajaran berupa gambar sistem pencernaan manusia. Lalu Ibu Guru menempelkan gambar tersebut di papan tulis. Kami hanya memperhatikan saja. Setelah beres, beliau melakukan apersepsi untuk memulai pembelajaran.

Setelah menjelaskan secara singkat tujuan pembelajaran hari itu, Ibu Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk ke depan dan menjelaskan sistem pencernaan yang tertera di gambar, semua terdiam, tidak ada yang berani ke depan, Ibu Guru pun tidak menunjuk salah satu dari kami, hanya membiarkan saja dan ingin tahu sampai sejauh mana keberanian siswanya.

Semenit, dua menit, tiga menit tidak ada satu siswa pun beranjak ke depan. Kami hanya diam dan saling pandang satu sama lain seolah-olah saling mengandalkan barangkali ada yang mau ke depan. Akhirnya, entah kekuatan darimana saya pun berdiri lalu ke depan mohon izin kepada Ibu Guru untuk mencoba. Diiringi sikap gugup dan perasaan campur aduk, saya pun mulai menjelaskan sistem pencernaan manusia dari mulai mulut, tenggorokan sampai anus.

Di luar dugaan, teman-teman memuji penjelasan saya, ah lega rasanya. Saya pun kembali ke tempat duduk. Lalu Ibu Guru menghampiri saya dan berkata: "Euis, kalau besar nanti kamu harus menjadi guru." Kata-kata itu membekas sampai sekarang di ingatan saya.

Hari berganti hari, bulan, tahun pun dilalui, tidak terasa kelulusan SMP di depan mata. Saya ditanya oleh wali kelas mau melanjutkan sekolah ke mana. Saya ingat cita-cita saya menjadi guru. Sayangnya waktu itu tahun 1994 PGA dan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sudah tidak ada karena kebijakan Mendikbud, sekolah keguruan tidak boleh setingkat SMA, menjadi guru harus kuliah lagi di IKIP atau sekolah tinggi keguruan.

Ya sudah, setelah berbicara dengan orang tua, akhirnya saya melanjutkan ke SMEA/SMK jurusan akuntansi dengan harapan selesai sekolah nanti bisa langsung mencari pekerjaan. Sejak itu cita-cita saya belok menjadi seorang akuntan. Setelah lulus SMEA saya bekerja sebagai staf administrasi, dua tahun kemudian saya memberanikan diri mendaftar kuliah.

Bukan kuliah di fakultas ekonomi atau keguruan, saya daftar di fakultas hukum. Tidak heran karena saya terinspirasi paman saya yang menjadi jaksa. Keren rasanya melihat beliau mengenakan seragamnya. Pada akhir perkuliahan, saya mendapatkan tugas magang dari kampus di pengadilan dan mengikuti persidangan baik kasus pidana maupun perdata minimal 4 kali persidangan.

Di pengadilan saya banyak kenal dengan hakim, panitera, jaksa bahkan pengacara. Kerapkali saya mengikuti acara-acara di Pengadilan. Saya sering berdiskusi dengan Kepala Pengadilan. Idealisme saya luntur pada saat pulang magang ikut dengan mobil salah satu hakim, di dalam mobil ada juga panitera yang ikut. Mereka ngobrol masalah uang suap suatu perkara yang disidangkan dan berencana bertemu dengan pengacara untuk dealing. Hhhh....

Setelah lulus kuliah saya ditawari bekerja di kantor pengacara, setali tiga uang, di kantor pengacara pun terdapat praktik suap atau jual beli kasus yang terpampang nyata di depan mata. Apa kabar cita-cita menjadi penegak hukum yang bersih? Aaach forget it saja...

Tak disangka ada lowongan menjadi guru akuntansi di salah satu SMK, saya pun mencoba mengajukan jadi guru, toh saya tidak buta-buta amat soal akuntansi, kan saya lulusan SMEA/SMK jurusan akuntansi. Toh sambil mengajar saya bisa sambil belajar dan upgrade ilmu saya, karena menjadi guru itu berarti berkomitmen untuk belajar sepanjang hayat.

Sebelum mengajar di kelas seorang guru harus belajar dan lebih tahu duluan serta paham apa yang akan diajarkan di kelas. Jadi guru harus serba tahu dan serba bisa mengajar mata pelajaran apa pun.

Alhamdulillah, setelah beberapa tahun mengajar, saya telah mempunyai sertifikat pendidik dengan mengikuti PLPG melalui penilaian portofolio yang dilakukan oleh LPMP. Meskipun tidak mempunyai latar belakang sarjana pendidikan, saya harus menjadi guru profesional dengan bonus tunjangan guru dari pemerintah.

Sampai sekarang saya masih berprofesi sebagai guru, mungkin sampai akhir hayat pun demikian. Do you know what? I really love this job. Saya bisa mengamalkan ilmu, menularkan idealisme kepada anak didik, memotivasi mereka supaya jangan pernah menyerah, mempunyai cita-cita setinggi langit dan diharapkan mereka dapat mengangkat harkat dan martabat keluarganya melalui pendidikan.

Saya mencintai murid-murid seperti mereka apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Karena setiap mereka adalah unik. Mereka adalah tunas-tunas yang harus dipupuk, generasi penerus harapan bangsa.

Akhirnya ditutup dengan doa acara yang saya ikuti selesai. Selamat buat seluruh guru di Indonesia. Mari kita semangat mencerdaskan anak bangsa. Tantangan, aral melintang tidak mengapa, yang penting terus berkarya dengan semangat dan idealisme yang sama.