5 bulan lalu · 232 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 56085_58384.jpg
Pixabay

Curahan Hati Penulis Gagal

Kemarin, saat saya sedang melamun dan menikmati secangkir kopi, ponsel berbunyi dan memunculkan pemberitahuan surel yang membuat saya senang dan minder. Dua emosi itu hadir pada saat bersamaan ketika membaca isi surel tersebut yang menjelaskan bahwa saya menjadi kontributor “terpilih” di salah satu situs langganan tempat saya menulis.

Sudah hampir puluhan tulisan saya yang sudah termuat di sana dan semuanya tidak ada honornya—karena situs tersebut memang ditujukan untuk siapa pun agar tulisanya bisa dimuat dan sebagai wadah untuk belajar menulis.

Ada perasaan senang ketika membaca surel tersebut karena saya merasa ge’er. Saya merasa bahwa saya menjadi sosok penulis istimewa di antara ratusan penulis dalam situs tersebut. 

Dan, pada saat bersamaan, ada perasaan minder. Saya merasa bahwa saya sebenarnya bukan sosok penulis yang andal, bahkan terbilang buruk!

Jujur, sudah hampir 3 bulan lebih saya tidak pernah lagi mengirimkan tulisan saya ke situs tersebut (masih pantaskah saya masuk kategori penulis “terpilih” tersebut?). Bukan karena alasan berbeda idealisme atau alasan sok pintar lainnya, tapi alasan saya hanya satu: malas. 


Sudah hampir 3 bulan saya sudah menyerah dengan kegiatan menulis yang sudah saya geluti selama lima tahun, seingat saya.

Saya menganggap, selama masa rehat menulis, bahwa kegiatan ini (menulis) tidak membawa dampak apa pun bagi saya. Saya memang mendapat kepuasan batin setelah berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, tapi secara konkret dalam hidup saya tetap merasa “begini-begini” saja.  

Perasaan malas menulis juga timbul semakin kuat ketika saya merasa bahwa kemampuan menulis saya tidak ada perkembangan. Serasa jalan di tempat.

Tolok ukur saya dalam menilai kemampuan menulis diri sendiri adalah ketika tulisan saya bisa dimuat di media yang belum pernah memuat tulisan saya. Jika hanya media itu-itu saja, ya sama saja bohong—apalagi media yang tidak menerapkan moderasi ketat dari redakturnya.

Hal ini saya alami ketika saya mencoba mengirimkan salah satu tulisan saya yang berbentuk cerpen ke salah satu media daring lokal asal Jawa Tengah. Honor yang ditawarkan media tersebut memang terbilang kecil untuk karya cerpen, hanya kisaran puluhan ribu, tapi saya berharap betul bahwa cerpen saya bisa dimuat.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, dan sekarang sudah sampai bulan keenam, karya saya tidak mendapat respons apa pun. Padahal, sebelum saya mengirimkan cerpen tersebut, saya sudah pikirkan alur ceritanya, penokohannya, sudut pandang, setting, sampai tanda baca yang berkali-kali saya koreksi.

Perasaan kecewa akibat tulisan yang ditolak dan tidak diacuhkan seperti itu sudah sering pernah saya alami. Bahkan, mungkin, banyak redaktur dan editor media daring maupun luring yang sudah merasa enek menerima naskah-naskah saya yang dianggap buruk dan tidak layak dimuat.

Rasa minder saya semakin besar ketika melihat situs tempat saya biasa menulis sudah mempunyai banyak penulis andal. Tulisan yang mereka buat sungguh membuat jari-jemari saya gemetar untuk membuat sebuah tulisan yang akan dikirimkan.

Banyak judul tulisan yang mencantumkan kata-kata ilmiah. Kata-kata yang kerap membuat kepala saya pening karena keterbatasan wawasan saya. Saya kerap mencatat istilah-istilah tersebut dan mencari artinya di internet.


Beberapa di antaranya seperti delusi, eksistentisialisme (awalnya, saya kira ini istilah untuk orang-orang yang doyan unggah foto di Instagram, ada kata eksis soalnya), homo (saya kira ini yang suka sesama laki-laki! Ternyata artinya luas) dan sederetan istilah yang membuat saya semakin minder untuk menulis lagi di situs tersebut.

Bagi penulis amatiran, yang menulis asal-asalan seperti saya, mencantumkan banyak istilah asing membuat saya harus bekerja ekstra. Pertama, saya harus benar-benar memikirkan apakah istilah tersebut sesuai dengan apa yang saya maksud—saya khawatir salah pemahaman seperti kata homo tadi. 

Kedua, saya harus mencari arti kata tersebut kemudian menjelaskan, kalau bisa singkat, apa istilah asing yang sudah saya cantumkan dalam tulisan saya. Tujuannya bukan bermaksud untuk menghina kecerdasan pembaca atau sok menggurui, tapi agar tidak ada salah paham apalagi dusta di antara kita. 

Ketiga, ada rasa ge’er dari diri saya yang menganggap bahwa pembaca tulisan saya berasal dari beragam kalangan. Penjelasan istilah asing berusaha agar berbagai kalangan bisa paham dengan tulisan saya. Percuma rasanya jika kita menulis bukan memberi pencerahan tapi malah memusingkan pembaca.

Selain judul “megah” tulisan orang lain, yang membuat saya minder adalah pencantuman kutipan dan data yang membuat gigit jari, mulai jari tangan sampai jari kaki. Ngeri! 

Kutipan dalam bahasa asing dan pencantuman data yang begitu banyak membuat saya tidak habis pikir betapa telaten dan sabarnya orang tersebut untuk menyalin sebanyak itu dalam tulisannya. Belum lagi data-data yang berbentuk angka. Saya merasa benar-benar kecil di antara banyak penulis hebat tersebut.

Dari apa yang menjadi kegelisahan yang sudah saya jelaskan, bagi saya adalah autokritik: saya memang harus banyak belajar. 

Melalui banyak “penulis itu”, saya belajar dan menemukan hal penting yang bisa membuat tulisan saya bisa memiliki nilai jual lebih dan menggentarkan penulis lainya: membeli kamus istilah ilmiah dan mencantumkan sebanyak mungkin istilahnya dalam tulisan saya.


Artikel Terkait