I done it yesterday”. Itulah kata-kata yang diingatnya saat perkuliahan beraroma lingustik delapan jam yang lalu. Pengampunya seperti tolol saja, namun benar adanya.

Jie Fu, Lee, Zack Le Blanc, Kuswantoro, Paidi, Fatimah binti Saud atau siapapun, hingga malaikat penjaga lingua suruhan Tuhan, setuju kalau kalimaat itu bergramatikal salah, syntax error.

Diingatnya sekali lagi, gerak bibirnya, mimik wajahnya, hingga cipratan ludah si Pengampu, sering mendarat di pipi mulusnya.

Bapak tua yang satu ini tak bisa diam, bukan hanya saja berdiri dekat proyektor yang bunyinya sudah berderit-derit itu. Namun, hilir mudik meredam nafsunya sekaligus sebagai kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan.

Pengampu tua itu sudi menjelajah ruang-ruang yang bukan bangku dan tembok. Paras-paras cantik mahasiswinya menambah daya jelajahnya, bak orbit stasiun geospasial.

Tak ada kata putus asa bagi si Pengampu tua itu untuk mencari sisa-sisa peradaban jadul. Dia mengerti, mahasiswinya tak mungkin tidak pernah ciuman dan merasakan jantung yang berdebar-debar ketika melihat lawan jenisnya. 

Paling tidak mereka pernah menciumi lendirnya sendiri di ruang-ruang privat. Agar terbukti tidak mengalami aseksual.

Ya, bangku depan adalah favorit si Rini. Kemudian rentet penjelasannya yang kadang tak tertangkap telinganya, namun langsung masuk ke kalbunya. 

Langit-langit ruangan yang sudah tak pernah bocor, karena di atasnya lantai, sebagaimana rahasia Rini dan si Pengampu tua itu. Ruang-ruang perkuliahan yang makin membumbung tinggi saja, tak akan mampu mengungkapnya.

I did, I did, …….” terdengar “Aidit” menambah Rini terkekeh.
“Ah, masa, sih!” Rini mengercap.

I done it yesterday is perfectly acceptable in some of the British Isles, but unacceptable elsewhere, you know!” Rini membeber regionalisme kebahasaan.

“Kok, tahu, kau?” tanya Rudi.

Lamat-lamat lagi terdengar oleh Rini, “Some speakers speak too fast, some speak with accents that are too difficult, some use words that are unfamiliar and some use gestures that are unclear. I’m sure you can all think of a time when someone`s spoke in a way that, well, made listening hard”.

“Cukup……..,” Rini meronta, menolak liarnya rumpang-rumpang menggoda yang mengiang di otaknya. Kata-kata itu terlihat otomatis melubangi pikirannya. Dikiranya si Rudi berparafrasa.

“Yang penting aku duduk di dapan!” gerutunya lagi.
“Apa???” Rudi heran dengan semua di depannya.

Rini sengaja mengadu parasnya dengan pengampu pria yang hampir tolol tadi. Rata-rata sudah ditelan umur. Tak satu pun yang belia. Benar-benar bangkrut ini universitas ini, menutup rapat-rapat saluran penerimaan pengampu muda.

I done it yesterday”, anak sekolah dasarpun akan protes jika pengajarnya menuliskan kalimat tersebut di papan putih yang sekarang jarang hitam lagi. Tewas sudah riwayat Blackboard. Setamat kurikulum “bengis” yang berdaulat dengan model-model “drill”. 

Teringat olehnya lembaran-lembaran tahun 80-an semacam buku-buku keluaran Collin.

Apalagi tamparan Tammy Chapman yang berpihak pada cipratan ludah pengampu tua tadi yang selalu ia tengok di note ponselnya:

Often these problems happen because a sound in English doesn’t exist in the learner’s language. For example, many languages don’t have the sound “th”, as in thing. When you hear this sound for the first time, your mind doesn’t recognize it, so you can’t hear the sound well.”

Deskripsi tersebut persis sama dengan apa yang diucapkan oleh pengampuh tua yang pandai bersilat “ludah” tadi.

Rini, yang centil pikiran dan parasnya, mulai meneguk segelas minuman aneh, infused water yang dipesan di kantin kampusnya. Mengakhiri pergulatan sifat kebebasan bahasa yang sering disebut arbitrer.

Seperti halnya isi dalam gelas yang dipegangnya itu, tak peduli melabrak ke sana-sini, dunia kudapan minuman berseloroh, mulai dari minuman “infused water” yang tak sebenar cairan infus hingga panganan kue cubit yang tak pernah mencubit sampai kiamat.  

Ku cubit, ih!” tantangan dari nafsu azalinya yang terdalam. Bayang-bayang wajah tua yang tak tampan lagi itu gerayangi fantasinya yang tak sempat tertahan hingga menjadi ujaran yang keras sekali. Rudi, sejawat di sampingnya tampak terkejut.

“Apaan?”
“Ehh, gak.”
“Aku tahu.”
“Ah, sok, tahu!”

Baginya, pengampu tua tak tampan itu adalah struktur makna baginya. Bak ragam bahasa lisan, pengampu tua tak tampan litu dapat beruba menjadi alat ucap dengan yang sering guncang hatinya.

Ini bukan aneh lagi, ketika daulat cinta oleh segala rupawan dan badaniah sudah sering berurusan dengan tata bahasa cinta. 

Jangan dianggap si pengampu tua tak tampan lagi itu memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan haribaan cinta.

Sedang Rudi, beberapa tahun lalu, penuh percaya diri tangannya menggeser-geser piranti cecurut laptop-nya maju-mundur, samping kanan-kiri. Sibuk dalam sebuah registrasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Tepatnya di sebuah perguruan tinggi sekuler terkemuka negeri ini.

Nasibnya sama dengan Rini, sebenarnya tak begitu penting, namun cukup mengganggu nalar pikir keduanya.

Pada awalnya Rini menganggap Sejarah sebagai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ternyata persepsinya kurang tepat. FISIP hanya menampung Ilmu Pemerintahan, Administrasi Negara, Administrasi Niaga, Antropologi, dan Hubungan Internasional.

Tak jauh dari kemelut Rini, Rudi pun heran. Seheran polemik minuman infused water tadi. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa Ilmu Politik dan Sosiologi justru tidak menghuni FISIP.

Rini dan Rudi berjalan kaki tak bergandengan tangan. Telusuri trotoar kampus yang diperebutkan leksikalnya, Pavement atau sidewalk. Yang pasti sekarang paving stone-nya sudah tak dicongkeli lagi untuk melempari aparat.

Mereka berdua melewati banyak bangunan fakultas dan melewati boulevard, adimarga yang sepi, dan berakhir dengan desahan, “ Fakultas Sastra dihuni oleh Ilmu Sejarah”.

Wot da fak!”, Rini mengumpat, itulah wirid yang sering diajarkan pengampunya, Pak Tua yang tak tampan itu.
“Ah, kalem saja, Rin. Memang itu bentuk protes atau ketidaktahuannmu? “

“Bukankah selama ini Sastra hanya berkutat seputar Bahasa dan Sastra? Lalu, bukankah Ilmu Sejarah termasuk Ilmu Sosial?”

Di saat kecamuk meninggi, keduanya mendengar teriakan lantang. Bak petir di siang bolong.

“Sini kalian berdua!” teriak seseorang yang licin rambutnya nun jauh di sana, di pintu gedung perpustakaan.
“Ah, sialan, si Arsiparis!” teriak si Rini. Keduanya menemui yang punya suara lantang tadi.

“Kalian bacalah batas teritorial Ilmu Sosialnya Immanuel Wallerstein!” seru si Arsiparis, seolah sudah tahu, sudah paham tentang kemelut perebutan batas teritori keilmuan yang mereka berdua bahas.
“Apaan itu?” tanya Rudi.

“Sudah cari sana, jangan lupa, ya. Sejarawan itu juga sastrawan, historian cum writer. Dan terkadang dia penuh dengan buku-buku religi yang bergerigi!” si Arsiparis berpidato bak Che Guevara.

Astopilloooohh!!” teriak mereka berdua sengaja cadel bak balita sambil ngibrit menghambur ke rak-rak buku yang berdiri gagah menawarkan sejuta ilmu pengetahuan gratis itu. 

Terasa banget sengatan dan aroma literasi di ruangan yang sekarang tak populer itu.

Keduanya harus mengerti mengapa Sejarah begitu mirip dengan Sastra, apakah hanya karena dulunya dikomuniksikan melalui berbagai macam bentuk sastra? Semisal lembar-lembar naskah sastra kuno yang berbau babad, tamsil, dongeng dan hikayat.

“Dia itu Sejarawan cum Filolog!” begitulah kira-kira teriakan kecil di benak keduanya.
“Terus kamu apa, Rin?”

“Rini cum Paralingua!” ujar Rini bangga tak terkendali.
wot?” Rudi keheranan.

“George McTurnan Kahin berkata bahwa sejarah itu politik masa lampau, sedangkan politik itu sejarah masa kini, Kahin belajar bahasa Indonesia di Stanford Unversity,”terang si Rini mengutip dari buku yang baru disambar dari raknya. Tak hiraukannya pertanyaan Rudi.

“Terus, kalau aku?“ tanya Rudi minta pujian dan legalisasi.
“Cerpenis cum penis!”
Wot da fak!” Rudi mengumpat. Tapi…… itu hanya paralingua saja. Sebenarnya, ya. Rudi yang juga berdosa kepada Rini.

Suasana dipaksa mencekam, perebutan batas-batas teritori keilmuan yang nyatanya tidak dikendaki oleh para filsuf. Ada juga yang memintah “Peminatan Psikologi Pendidikan”, yang katanya terkenal dengan pribadi yang ramah, tenang dan kreatif dalam mengajar serta baik dalam pemberian nilai. Ah…..

Ada juga yang memelas dipatri “Pengampu Pendidikan”,  mungkin karena banyak memahami mengenai perbedaan individu, tentunya memandang setiap mahasiswa yang dihadapinya punya potensi yang berbeda-beda setiap orangnya, sehingga semuanya dianggap berprestasi. Hmmm bisa jadi….

Pengampu-pengampu Ilmu Sosial juga nekad banyak bertemu dengan orang-orang di masyarakat sehingga banyak mengetahui kepribadian mahasiswanya. Well…..

I done it yesterday”. Kata-kata itu lagi dan lagi. Masih saja menekan kesadaran Rini. Mungkin tak sekedar masalah paralingua regionalisme saja. Atau….? ada Rahasia…..?

I knew what you did last day?” suara itu memecah kebuntuhan. Begitu jelas, pas, di belakang tengkuknya yang jenjang. Dan nenolehlah Rini, “Sialan, kau!”

“Mitos-mitos yang berkembang telah digantikan dengan logos, jadi tenang saja, hanya aku yang tahu,”suara itu lirih, menghilang, setenang efek Doppler yang pulang menuju peraduannya.

Malam itu Rini merangkum semua paralingua yang terkumpul, mulai dari lafaz cadel atopillooh, wot da fak, ekspresi wajah pengampunya, intonasi suara Rudi yang mengingatkan saat anu dengannya, gestur, tatapan mata semua makhluk bejat yang ingin dirinya.

Tak lupa juga merangkum tentang perebutan teritorial keilmuan dengan satu kata penutup dari John Dewey: bahwa pendidikan merupakan proses membentuk kecenderungan asas yang berupa akliah dan perasaan terhadap alam dan manusia.

Rini pasrah saja menikmati semua paralingua tersebut, Rini cum paralingua!
“Ahh… cumming!” suara tercekik itu datang dari kamarnya. Terdengar suara batuk pria tua. Dan, kemudian senyap. Ah, kau jujur, Rin.