Peneliti
1 tahun lalu · 276 view · 4 menit baca · Budaya 80867.jpg
https://cdn.kastatic.org

Cultural Lag dan Ndeso

Para pemikir sosial aliran fungsionalis telah lama meyakini bahwa perubahan selalu disertai dengan kesenjangan budaya (cultural lag). Para penganut teori ini umumnya sepaham bahwa sebuah perubahan tidak terlepas dari hubungan antar unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat.

Menurut mereka, beberapa unsur kebudayaan akan mengalami perubahan dengan cepat, sementara beberapa unsur lainnya tidak bergerak dengan ritme yang sama. Ketertinggalan ini menyebabkan cultural lag.

Sains yang Ambivalen  

Salah satu unsur kebudayaan yang paling berkembang saat ini adalah sains dan teknologi. Sains dan teknologi adalah sesuatu yang diciptakan untuk mendukung kehidupan manusia agar lebih efektif dan efisien. Namun, pada beberapa kelompok masyarakat, teknologi justru menciptakan cultural lag, bahkan bisa berujung bencana.

Masyarakat yang mengalami cultural lag biasanya ditandai dengan adanya perubahan dalam wacana sosial ekonomi yang bersifat dasar. Masyarakat kontemporer yang mengalami cultural lag perlahan-lahan mengedepankan logika hasrat (logic of desire), dan sebaliknya lebih cenderung mengabaikan logika kebutuhan (logic of need).

Konsumerisme: Mendahulukan Hasrat

Logika hasrat ditunjukkan dengan berubahnya paradigma nilai moralitas. Jika dulu, manusia memelihara moralitas sebagai benteng peradaban, kini seakan sains dan teknologi menendangnya jauh dari kehidupan manusia.

Nilai moralitas tidak lagi menjadi obsesi. Nilai-nilai moralitas perlahan-lahan diganti oleh konsumerisme yang berwujud fascination (pesona), ecstasy (kegembiraan yang meluap-luap), dan image (citra). Inilah permasalahan mendasar yang dihadapi manusia, meski lebih sering tidak disadari.

Hasrat merupakan dorongan artificial manusia yang berkembang searah dengan sejarah manusia, terutama yang terkait dengan dimensi estetika. Dimensi estetika ini dapat dilihat secara kasat mata, atau dengan kata lain akrab dengan panca indera manusia.

Betapapun pentingnya peran hasrat bagi kelangsungan hidup manusia, jelas tidak sepenting pemenuhan kebutuhan dasar. Hasrat lebih cenderung merupakan aksesori kehidupan yang terlihat indah dan memukau, namun sesungguhnya begitu rapuh.

Obsesi Citra

Di dalam rumah, dorongan hasrat bisa berawal dari tontonan televisi yang didominasi siaran yang sarat dengan unsur fascination, bertabur ecstasy dan obsesi pencitraan. Di televisi, kehidupan seperti didikte dengan siaran yang menyuguhkan tontonan pesona, cantik, kaya dan menarik. Lalu muncullah postulat: hidup yang baik itu hanya diraih jika kita cantik, kaya dan menarik.

Lalu tayangan yang bertabur ecstasy juga mengambil bagian penting dalam kehidupan manusia melalui suguhan penyaluran kegembiraan yang begitu menggoda. Pada beberapa tayangan iklan televisi, sebuah produk makanan atau minuman disuguhkan bersama perempuan-perempuan cantik.

Obsesi pencitraan juga mengambil porsi yang cukup besar dalam pengaruhnya terhadap kehidupan sosial. Para pejabat dan calon pejabat seperti berlomba merebut ruang publikasi untuk mendorong citra mereka.

Citra yang tercipta, tumbuh melebihi kapasitas personal. Citra yang demikian tidak hanya menggambarkan sesuatu yang tidak proporsional, namun pada tahap tertentu justru mengancam eksistensi personal. Mereka sibuk membangun citra, hingga lupa menyadari bahwa mereka tidak menghasilkan apapun. 

Repot dengan Teknologi  

Cultural lag terjadi pada masyarakat transisi, yang biasanya ditandai dengan kurangnya kesiapan menghadapi perubahan. Mereka yang menggunakan teknologi, namun tidak membuat hidup mereka menjadi lebih baik. Bahkan, dengan teknologi, sesungguhnya hidup mereka justru semakin repot dan berantakan.

Repotnya hidup yang dihadapi oleh manusia yang terserang cultural lag akan mempengaruhi produktifitas dan kreatifitas. Karena sibuk mengurus hal-hal yang sifatnya artificial untuk memenuhi hasrat, akhirnya mereka mengabaikan kebutuhan primer yang justru menentukan kelangsungan hidup.

Geng Motor dan Begal 

Pergeseran paradigma hidup ini secara nyata telah mengubah pola hidup masyarakat. Interaksi masyarakat tidak lagi terfokus pada bagaimana mewujudkan harmoni atau keselarasan. Kontak individu selalu terbungkus dengan hal-hal artificial dan bersifat materil.

Tidak heran, pada masyarakat kota tumbuh subur kelompok-kelompok sosial yang berlatar kesamaan hobi dan kesamaan profesi. Ketika kesamaan profesi dan kesamaan hobi tidak mengakomodir sebuah kelompok masyarakat, maka potensi cultural lag semakin kuat. Cultural lag lalu melahirkan kelompok-kelompok masyarakat yang berperilaku menyimpang, seperti geng motor atau kelompok begal.

Stereotype Kota – Kampung 

Pada masyarakat kota, konsumerisme telah lama mewujud dalam bentuk nyata pola hidup masyarakat, terutama pada dunia hiburan (entertainment). Dalam watak konsumeris, dunia entertainment dianggap mampu menampung hasrat fascination, mencandu ecstasy, dan menguatkan citra cosmopolite

Lalu, masyarakat kota yang konsumeris menganggap bahwa kebutuhan penyaluran hasrat menjadi sesuatu yang tak terhindarkan demi menjaga citra sebagai warga cosmopolite. Dari sini, stereotype kota dan kampung diciptakan. Orang kota yang tidak dugem, tidak fashionable, tidak kenal Retro, tidak bergaul di kafe akan dicap sebagai ‘kampungan’ (ndeso).

Sementara, pemenuhan kebutuhan hasrat ini pada kenyataannya tidak memiliki batas maksimal. Orang-orang kota bisa saja menghabiskan uang puluhan juta dalam waktu beberapa jam di sebuah ruang karaoke plus.

Sementara, di mall, perempuan yang keranjingan belanja, untuk membeli beberapa potong baju, mereka rela menguras isi dompet hingga puluhan juta rupiah. Bahkan, hasrat untuk mengoleksi tas dan sepatu bermerk internasional, dapat menelan biaya ratusan hingga milyaran rupiah.

Hasrat yang tidak berbatas itu lalu diolah sedemikian rupa menjadi jualan yang sangat laku dan digandrungi. Terlebih lagi, kegandrungan pemenuhan hasrat dengan cepat dapat menjalar seperti virus melalui media sosial.

Gadget, portable berbasis internet juga kerap dijadikan sebagai perangkat paling efektif untuk menenangkan diri, lari dari kejumudan dan persoalan hidup yang makin menghimpit. Media sosial, games dan chatting tumbuh menjamur seiring tuntutan manusia yang membutuhkan sarana rekreasi yang instan dan efisien.

Entah disadari atau tidak, media sosial, games dan chatting yang diperuntukkan sebagai sarana pengisi waktu, justru lebih sering menyita waktu. Dengan gadget di tangan, orang-orang menjadi kehilangan produktivitas.

Di sekolah, siswa menenteng smartphone, yang bahkan dioperasikan saat guru sedang ceramah di depan kelas. Di kantor, karyawan sering kali melupakan tugas kantor karena sibuk dengan games dan chatting.

Jadi, jika rujukan gelar ‘kampungan’ adalah mereka yang mengedepankan logic of desire dan mengabaikan logic of need, maka akan banyak warga kota yang lebih patut disebut ndeso.

Artikel Terkait