Aneh sekali cara kita menjalani hidup, kita sama-sama tahu bahwa Allah-lah yang memberi rezeki, tapi kita malah menjauhinya.

Kita sama-sama tahu bahwa Allah selalu menepati janji, ia berfirman, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah beri ia jalan keluar”, tepi ketika ditimpa masalah kita malah meninggalkan nya.

Kita sama-sama tahu bahwa hanya dengan berzikir hati akan tenang, tapi pada saat gundah gulana, kita malah melarikan diri kepada hal-hal yang semu dan fana.

Kita sama-sama tahu bahwa azab Allah itu pedih, ia berfirman “dan janganlah kalian mendekati zina”, tapi kita malah bersikeras menentangnya.

Mungkin karena kita hanya baru sebatas tahu, belum sampai tahap paham. Baru sampai tahap meyakinkan otak, belum meyakinkan hati.

“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapatkan keberuntungan.” Firman Allah dalam Al-Qur’an. (QS. Al-Ma’idah:100)

Suatu hari pemanah nomor satu dunia menghadiri festival kota. Konon ia bisa membidik targetnya dari jarak satu kilo meter, tanpa meleset sedikit pun. Ia pun menunjukkan kelihaiannya. Pada penampilan pertama, sebuah apel diletakkan sejauh seratus meter darinya. Sang pemanah menarik busurnya, melesat dan aduhai ia berhasil mengenainya. Para penonton riuh bertepuk tangan.

Penampilan kedua, kini apel ditaruh dalam jarak lima puluh meter, sang pemanah menarik busurnya, dan tentu saja lagi-lagi berhasil.

“Kelian sudah lihat bukan betapa mahir nya aku memegang panah? Sekarang adakah yang mau menjadi relawan. Aku akan menaruh apel di atas kepalanya dan dia hanya berdiri sepuluh meter dariku. Ada yang mau?”

Keriuhan tadi tiba-tiba senyap, para penonton saling pandang, ada rasa ngeri yang menyelinap.

“Kenapa kalian diam? Bukankah kalian sudah menyaksikan kehebatan ku? Seratus meter saja tidak meleset sedikit pun apalagi sepuluh meter?”

Sampai akhir selesai penampilan tidak ada satu pun yang berani menjadi relawan.

Kita pun sama, padahal kita tahu bahwa jika kita meminta rezeki kepada Allah, pasti Allah kasih. Jika kita bertakwa, pasti Allah akan beri jalan keluar. Jika kita berzikir, pasti Allah tenangkan hati kita.

Para penonton diatas juga sudah tahu bahwa sang pemanah tidak akan meleset dengan jarak sedekat itu, tapi mereka masih tidak yakin.

Setidak yakin kita dengan janji Allah. Padahal kita tahu bahwa Allah menyiapkan ini dan itu, tapi kita malah meragu.

Maka cukuplah Allah

Saat usaha tidak ada yang menghargai, aku berbisik pada diri, “tidakkah kamu merasa cukup dengan Allah yang memujimu?”

Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang benar, meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai.

Saat masalah datang menghampiri dan tak seorang pun mau menolong, aku berbisik pada diri, “tidakkah kamu merasa cukup dengan Allah sebagai penolong mu?’

Apa pun masalahmu di perkuliahan Mu sekarang ini, tuntaskan. Jangan berhenti di tengah jalan, sebab di ujung sana ada senyum orang tua yang menantimu wisuda.

Jika kamu percaya bahwa Allah itu ada, maka seharusnya tidak sulit bagimu percaya bahwa Allah itu kuasa. Karena ada dan kuasa itu sama-sama tidak terlihat. Kenapa kamu percaya dengan adanya tapi tidak dengan kuasanya? Buktinya kamu sering kali menyerah. Padahal Allah kuasa untuk membantumu, bahkan jika kamu menempuh jalan paling buntu di alam semesta sekali pun. Tuhan yang membelah lautan untuk Nabi Musa adalah tuhan yang sama yang kamu berdo'a kepadanya setiap hari. Allah kuasa untuk memberimu jalan keluar, baik dengan jalan keluar yang bisa kamu logika kan, atau jalan keluar yang bahkan kamu sendiri tak pernah pikirkan sekali pun.

Saat rezeki yang kudapatkan tidak seberapa, aku berbisik pada diri, “tidakkah kamu merasa cukup dengan Allah yang akan menggenapi mu?”

Bersyukur lah.. maka kamu akan merasa cukup. “Rasa syukur akan menambahkan nikmat yang sedikit, dan akan melipatgandakan sesuatu yang banyak.”

Saat orang terdekatku meninggal, aku berbisik pada diri, “tidakkah kamu merasa cukup dengan Allah yang menggariskan takdirmu?”

Dan tentang segala sesuatu hal yang telah terjadi, banyak sekali yang telah membuat saya cukup mengerti, bahwa hidup memang tidak selamanya tentang apa-apa yang kita ingin. Atas tentang segalanya yang telah terjadi. Kita terkadang menyalahkan keadaan. Mempunyai pemikiran "mengapa semuanya harus seperti ini?" Seolah-olah hidup tidak cukup adil. Mungkin sudah seharusnya terganti menjadi "mungkin memang sudah jalannya takdir yang seperti ini" karna kita tidak akan mungkin bisa memaksakan kenyataan. yang pada kenyataannya, kenyataan itu belum tentu milik kita.

Dulu, sering sekali aku tidak mencukup kan diri dengan Allah, walhasil berat nian hidup ini terasa. Hampa yang mengelapkan hati, bimbang yang meragukan jiwa, juga resah yang meredupkan diri, semua bercampur, membuat hidup terasa begitu berat.

Bukankah kita selalu berharap menjadi kekasih Allah? Bukankah kekasih harus percaya sepenuh hati bahwa apa yang dilakukan kekasihnya selalu yang terbaik untuknya? Bahwa kekasihnya tak pernah berniat untuk mengecewakan apalagi menyakitinya.

Akhirnya aku pun tersadar, bahwa sejatinya tidak ada beda antara kemudahan dan kesulitan hidup, dua-duanya adalah bentuk cinta Allah kepadaku. Sungguh akan kujalani apa pun itu dengan sepenuh hati.