Dunia perfilman sedang dihebohkan dengan akan tayangnya film Bumi Manusia. Tidak hanya dunia perfilman saja, para pecinta buku yang sudah khatam Bumi Manusia dan tiga adik romannya itu juga dibuat skeptis memandang tayangnya film tersebut. 

Para Pramis, orang-orang yang mengaku berideologi Pramoedya, pun juga tak kalah dibuatnya mengambil sikap. Mungkin tulisan ini juga bagian dari sikap penulis. Terlepas dari sikap apa pun, semoga tulisan ini tetap pada “jalan tengah”-nya.

Film Bumi Manusia diangkat dari sebuah roman yang sudah melanglang buana di negeri mana pun. Ia sudah diterjemahkan dalam 40 bahasa asing lebih. Bukunya selalu ada pada rak-rak buku Gramedia. 

Buku yang berhalaman sampai 500-an lebih itu mengalami peningkatan pembelian semenjak diumumkannya akan tayang film Bumi Manusia. Tak jarang jika akhir-akhir ini kita sering melihat pemandangan seorang yang sedang berjalan menenteng buku tersebut. 

Tak jarang pula melihat teman sekelas mengisi waktu luangnya, lalu mengeluarkan buku Bumi Manusia dan larut dalam bacaannya. Sudah lima teman yang saya tangkap basah sedang mengkhatamkan buku tersebut. Wow! Fantastik, bukan, pengaruhnya? Semua akan Pramis pada waktunya!

Film ini akan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Minke sebagai tokoh utama akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Annelies, kekasih sekaligus istri Minke, diperankan oleh Mawar Eva. Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, oleh Ine Febriyanti, dan banyak pemain lainnya yang asli orang Belanda. 

Dahulu, saat Hanung masih kuliah, ia pernah menawarkan diri secara langsung kepada Pramoedya untuk mengangkat bukunya menjadi film. Namun, ia ditolak.

Ada beberapa kontra tentang film ini yang masih jadi perbincangan sampai saat ini. Pertama adalah buku ini tidak cocok jika difilmkan. Katanya, film yang akan disutradarai Hanung ini tak akan bisa mewakili semua isi buku Bumi Manusia

Lalu, kontroversi selanjutnya adalah pemilihan pemeran Minke yang dipercaya kepada Iqbaal Ramadhan. Katanya, Minke adalah sosok yang sangat ideologis, tegas, berani, dan seorang Iqbaal Ramadhan tidak pantas memerankan tokoh tersebut. Namun, itu semua adalah “Katanyaaaa” yang tidak dapat mewakili penilaian seluruh isi film.

Bagaimana jika kita khusyuk pada satu kontroversi tentang tokoh tersebut? Agar kita semua tahu siapa sosok Minke sebenarnya yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan si pembuat kontroversi.

Minke adalah tokoh riil yang “disamarkan” oleh Pramoedya Ananta Toer. Maksud Pram, Minke berasal dari kata Monkey yang jika dibaca akan menghasilkan bunyi Minke. Mengapa monkey, lalu menjadi Minke? Karena Pram sedang memberi contoh bentuk penghinaan orang Belanda kepada Indonesia pada waktu itu, yaitu dengan penyebutan tersebut. 

Apakah Minke ini tokoh nyata? Ya, benar sekali. Minke dalam kenyataan adalah seorang bangsawan Jawa yang sekarang menyandang gelar Bapak Pers Indonesia pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

M. Tirto Adhi Soerjo, begitulah nama asli dari tokoh Minke dalam Bumi Manusia. Lahir di Blora pada tahun 1880. Ayahnya R.Ng. Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero seorang pegawai kantor pajak. Kakeknya, R.M.T Tirtonoto, bupati Bojonegoro. 

Pada tahun sekitar 1893-1894, R.M. Tirto melanjutkan sekolahnya ke  sekolah dokter STOVIA. Setelah belajar selama enam tahun di sana, ia dikeluarkan dari sekolah tersebut. Belum jelas duduk perkara mengapa ia dikeluarkan. Ada seorang wartawan yang lebih mudah darinya mengatakan bahwa ia kedapatan mengeluarkan resep kepada sahabatnya.

Pada awal keberangkatannya ke Betawi, ke sekolah STOVIA itu sendiri, R.M Tirto sudah mengirim berbagai tulisannya ke surat kabar terbitan Betawi. Setelah dikeluarkan dari STOVIA, ia diangkat menjadi redaktur Pembrita Betawi. Pada tahun 1902, ia dipercaya menjadi penanggung jawab. 

Dari ini, dapat diketahui, R.M. Tirto adalah seorang yang kreatif dan cerdas. Walaupun dikeluarkan dari STOVIA yang bukan karena kebodohan ataupun melakukan kenakalan fisik, ia masih dapat mengembangkan potensinya di dunia tulis-menulis.

R.M. Tirto, Sang Pemula bagi Pramoedya

Pramoedya, dalam Sang Pemula, mengatakan bahwa R.M. Tirto adalah seorang yang menjadi pemula, yang pertama, yang terdahulu, dan yang mengawali dari berbagai bidang pekerjaan yang terus berlanjut sampai sekarang. Permulaan pertama bagi Pram adalah R.M. Tirto adalah bangsawan Jawa pertama yang dengan sadar memasuki dunia perniagaan dan jurnalistik. 

Kata Pram, Kasta bangsawan-priyayi merupakan golongan atas masyarakat yang konsumtif, tidak produktif, dan lebih lagi. Hampir tanpa kekecualian. Berbeda dengan Tirto, ia memilih jalan sunyi dan jauh terpental dari dunia kebangsawanannya.

Permulaan kedua adalah R.M. Tirto orang pertama yang terjun di bidang jasa sosisal yang dikerjakan perseorangan, mencarikan kerja tanpa memungut biaya. Selain itu, R.M. Tirto juga memberi bantuan hukum pada pribumi yang membutuhkan bantuan hukum. Ketiga, R.M. Tirto dikatakan sebagai pribumi pertama yang menjadi redaktur kepala dan sekaligus penanggung jawab pers Melayu milik asing.

Keempat, ia adalah angkatan pertama penulis fiksi menggunakan Melayu lingua-franca. Beberapa karya fiksinya adalah Cerita Nyai Ratna, Membeli Bini Orang, Busono, dan masih banyak lagi cerita bersambung yang terbit dalam koran.  

Permulaan kelima adalah ia pendiri organisasi modern pertama, Sarikat Prijaji pada 1906, tapi tak lama organisasi tersebut mengalami kegagalan. Lalu, ia mendirikan organisasi kembali bernama Sarikat Dagang Islamiyah pada 1909 dan berubah nama menjadi Sarekat Islam pada tahun 1912.

Keenam, ia adalah pribumi pertama yang mendirikan Naamloze Venootschap (NV), badan hukum untuk menjalankan usaha yang modalnya dari saham-saham. Begitu banyak permulaan yang ia jalankan, namun tak semuanya tercatat sebagai prestasi sejarah anak bangsa.

Masa Akhir Minke

Pada hari suram tanggal 7 Desember 1918, sebuah iring-iringan kecil, sangat kecil, mengantarkan jenazahnya ke peristirahatannya terakhir di Manggadua, Jakarta. Tak ada pidato-pidato sambutan. Tak ada yang memberitakan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang tidak begitu panjang. Kemudian orang meninggalkannya seperti terlepas dari beban yang tak diharapkan. Itulah hari terakhir R.M. Tirto Adhi Soerjo.

Tulis Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Sang Pemula. Begitu sunyi kematian bapak pers Indonesia ini. Tak ada yang istimewa di hari akhirnya menemui Tuhan yang lebih Sang Pemula daripadanya. Ke-pemulaan Tirto adalah juga setetes cipratan permulaan Tuhan yang diberikan kepadanya. Ke-pemulaan Tirto adalah anak mula yang lahir dari rahim ibu mula, Tuhan.

Begitu kiranya sedikit seluk beluk perjalanan hidup Minke alias R.M. Tirto yang jarang diketahui banyak orang dan para calon penonton Bumi Manusia, yang akan tayang pada 15 Agustus nanti. Soal pro-kontra tayangnya film Bumi Manusia ini, yang ingin menonton tetapi belum membaca bukunya, silakan saja menonton, semua itu hak masing-masing individu. 

Untuk yang sudah khatam Bumi Manusia dan bersikukuh untuk tidak menonton filmnya, tak usah merasa lebih Pramis dari yang belum membaca. Toh semua juga akan Pramis pada waktunya? Toh, pada akhirnya kita mengagumi orang yang sama: Pramoedya Ananta Toer.

Oh ya, pesan saya satu saja, cukup Dilan yang “melabel” pada diri Iqbaal. Jangan Minke. Ini berat. Iqbal tak akan kuat. Biar R.M. Tirto saja.