98439_94384.jpg
diambil dari akun Twitter @Os_alshuibi
Agama · 3 menit baca

Cuitan Dubes Saudi dan Polemik Lama NU-Saudi

Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Dr. Osama Muhammad Ash-Shuibi, sedang menuai kecaman. Melalui akun twitternya, @Os_alshuibi, ia mencuitkan hal yang cukup kontroversial. Mengomentari Reuni 212 di Monas, Shuibi mengaitkannya dengan penolakan dan protes terhadap pembakaran bendera khilafah oleh oknum Anshar beberapa waktu lalu.

Dubes Osama menyebut pelaku pembakaran sebagai “Al Jama’at Al Muharifah” atau “kelompok menyimpang”. Sesaat setelahnya, ia memang mengahapus twet. Sayangnya tangkapan layar netizen jauh lebih cepat.

Berdasar aktivitas Twiter Dubes Osama di atas, kita bisa menyimpulkan beberapa hal:

Pertama, Osama termasuk yang menganggap bendera hitam dengan lafadz “La Ilaha Illa Allah” itu sebagai simbol Tauhid. Membakarnya berarti mengusik ketauhidan. Agak aneh mengingat bendera yang sama di Saudi sendiri justru dianggap simbol khilafah (atau malah terorisme).

Kedua, Ia menganggap gerakan pemuda Anshar sebagai “kelompok menyimpang”. Label ‘kelompok menyimpang’ yang secara langsung menyasar NU khususnya Anshar jelas melukai sebagian besar kalangan nahdliyyin. Tak heran sehari setelahnya, protes keras dilayangkan. Said Aqil Siradj (Ketum PBNU) terang-terangan mengecam tindakan Dubes.

Ketiga, suka tidak suka, ia juga sudah partisan. Terang-terangan ia menyebut tokoh-tokoh oposisi seperti Prabowo, Anies, dan Fadli Zon.

Jika ditelusuri, akun twitter Osama memang mencurigakan. Dari 23 akun orang yang ia follow, tak satupun berasal dari pejabat republik ini. Justru ada sosok Prabowo Subianto sebagai satu-satunya individu WNI yang ada dalam daftar followingnya. Siapa yang ia ikuti itu haknya secara personal. Namun sebagai representasi Kerajaan Saudi di Indonesia, ia mesti hati-hati menggunakan medsos.

Sikap Osama mengingatkan saya pada kawat diplomatik Saudi yang diungkap Wikileaks beberapa waktu lalu. Dalam kawat diplomatik itu, dikabarkan Saudi secara khusus memata-matai Said Aqil Siradj, yang notabene adalah “alumninya” sendiri. Hal itu terkait dengan aktifitas kyai Said yang sering melontarkan kritik pada Wahabisme juga indikasi dekatnya Kyai Said pada kelompok Syiah.

Seolah melengkapi puzzle, saat kedatangan Raja Salman beberapa waktu yang lalu, beredar rumor mengenai permintaan dari Saudi agar RI tidak melibatkan Kyai Said dalam agenda pertemuan. Kyai Said sendiri juga memilih agenda ke luar negeri. Menjauh dari ingar-bingar mega-kunjungan Raja Salman

Selain polemik Saudi-Kyai Said, hubungan NU dan Saudi secara umum memang terbilang unik. Munculnya NU, yang diawali oleh Komite Hijaz, salah satunya adalah untuk merespon kepongahan Saudi melalu Wahabisme-nya. Gerakan Wahabi, yang menjadi aliran resmi kerajaan, begitu represif terhadap aliran lain. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan madzhabnya. Lalu terjadi eksodus besar-besaran para ulama dari tanah haram. Memilih kembali ke tanah kelahirannya masing-masing.

Puncaknya, santer kabar akan dibongkarnya situs-situs bersejarah umat Islam, termasuk rumah dan makam Nabi. Dalihnya, pemurnian atau purifikasi dari laku bid’ah dan penyimpangan akidah menurut pandangan mereka. Kabar itu membuat ulama-lama Indonesia khawatir. Sebuah komite kecil yang diketuai oleh K.H Abdul Wahab Chasbullah dibentuk. Tujuannya berniat menemui Raja Ibnu Saud untuk berdiskusi mengenai hal tersebut. Karena komite ini harus dikirim oleh organisasi formal, maka didirikanlah NU pada 31 Januari 1926. Dua tahun sejak Wahabi menguasai Hijaz (Saudi saat ini).

Meski misi itu dapat dikatakan berhasil, tapi perang pemikiran antara Wahabi dan NU tidak lantas berhenti. Banyak tulisan dan ceramah yang menghimpun polemik antar kedua sisi keislaman tersebut sampai sekarang. Usaha untuk merekatkan keduanya bukannya tidak ada. 

Ulama hadis terkemuka, Ali Musthafa Yaqub (alm) sempat berusaha menengahi polemik tersebut melalui bukunya, Titik Temu Wahabi-NU. Namun, nampaknya belum memberi dampak yang signifikan. Amaliah-amaliah NU memang banyak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh Wahabi.

Bagaimana dengan jalan reformasi yang dipilih putra mahkota, Muhammad bin Salman? Nampaknya masih terlalu utopis jika mengaitkannya dengan keberpalingan dari Wahabisme. Perempuan memang mendapat haknya untuk menyetir belakangan ini. Namun, itu tidak cukup untuk membuktikan bahwa negaranya sudah keluar dari zona konservatisme agama.

Kini bola ada di tangan Osama. Kabarnya ia sedang berada di Saudi. Saya berharap dia kembali dan menjelaskan segalanya. Lalu kita bisa tahu, apakah sikap itu berasal dari dirinya sendiri atau ­inner-circlennya memberi masukan tidak tepat. Lebih jauh dari itu, apakah itu pandangan pribadinya ataukah mewakili secara umum pandangan Saudi terhadap NU dan Anshar.

Kalau jawabannya adalah yang kedua, maka sang Dubes itu hanya menghadirkan kembali polemik lama Saudi-NU.